TP-PKK Payobasuang Gelar Seminar Kesehatan Reproduksi

Payakumbuh, PADANGTODAY.com-Visi Indonesia Sehat 2020 harus dimulai dengan menjamin terawatnya kesehatan kaum perempuan. Perempuan sehat reprodukinya juga akan sehat. Reproduksi sehat melahirkan anak-anak yang sehat. Anak yang sehat akan menciptakan keluarga dan masyarakat yang sehat dan  pada akhirnya akan terwujud Indonesia Sehat.

Advertisements

Demikian paparan dr. Efriza Naldi Sp.OG  dalam Seminar Kesehatan Reproduksi yang digelar  TP-PKK Kelurahan Payobasung,  Sabtu (31/1),  di ula kantor kelurahan setempat, di Jalan  Kaluek. Turut hadir Lurah Payobasung beserta Ibu Ketua TP PKK Kelurahan Payobasung dr. Silvia Rosja yang juga Dokter Fungsional di Puskesmas Maek Kabupaten Lima Puluh Kota.

Dalam paparannya, dr. efriza Naldi, Sp.OG yang juga Direktur dari Klinik Bersalin Sukma Bunda Payakumbuh menyatakan bahwa kesehatan reproduksi perempuan tak hanya ditandai dengan sehat secara fisik saja, tetapi juga meliputi kesehatan secara mental dan sosial dari perempuan tersebut.

“Perempuan berhak dan wajib mendapatkan kehidupan seks yang aman, salah satunya dengan tidak bergonta ganti pasangan seks. Hal ini juga berlaku bagi pasangan hidup perempuan tersebut, kaum bapak juga dilarang jajan sembarangan, karena perilaku itu akan menularkan berbagai penyakit seksual bagi pasangannya dirumah,” terang dr. Efriza.

Dikatakan, dalam kultur sosial masyarakat kita, posisi kaum perempuan terkadang masih termarjinalkan dalam persoalan reproduksi.  “Sebagian masyarakat masih menganggap hak reproduksi adalah kuasanya kaum lelaki, perempuan hanya menampung saja. Anggapan itu tidak benar, sebab hak reproduksi itu  merupakan hak azasi seorang perempuan. Perempuan berhak menentukan bagaimana proses reproduksi, kapan dan banyaknya”, tegas Alumbus FK Unand ini.

Menurut dr. Ef, panggilan akrab dr. Efriza Naldi Sp.OG, kesehatan reproduksi juga dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan mayarakat. Masyarakat yang lebih sejahtera cenderung memiliki reproduksi yang lebih sehat dari masyarakat yang kurang sejahtera.

“Kesejahteraan masyarakat juga mempengaruhi terciptanya reproduksi yang sehat, akan tetapi hal itu tidak mesti harus kaya dulu, sebab menjaga pribadi, keluarga dan lingkungan yang sehat itu merupakan kewajiban masing-masing kita”, terangnya.

Ef juga menyinggung tentang masih cukup tingginya angka kematian ibu (AKI) dalam melahirkan. Menurut catatannya, pada tahun 2014 lalu, di RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh masih terdapat lima kasus kematian ibu yang terkait dengan proses reproduksi.

“Meski hanya lima kasus AKI pada tahun 2014 lalu, jumlah itu masih cukup tinggi mengingat rasio idealnya adalah 1 AKI dalam 10.000 kelahiran”, terang Putra Balai Jariang Payakumbuh ini.

Dijelaskan, setidaknya ada beberapa penyebab yang memicu masih tingginya AKI.

“Ada tiga terlambat yang memicu masih tingginya AKI didaerah kita, yaitu terlambat merujuk, terlambat transportasi dan terlambat mendapatkan pertolongan profesional”, jelas dr.Ef.

Menurutnya, ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk menekan tingginya AKI, disamping merubah sikap agar tidak mengalami tiga terlambat diatas, hal yang  paling penting adalah bagaimana seorang perempuan sedini mungkin memperhatikan kesehatan organ reproduksi.

“Bagi kaum ibu terutama remaja putri, beri perhatian lebih terhadap kesehatan organ reproduksi, Jika ada keluhan sekecil apapun, misalnya haid yang tidak teratur, segera konsultasi ke dokter. Karena bisa jadi itu merupakan sinyal adanya gejala gangguan organ reproduksi yang nantinya bisa membahayakan proses reproduksi dan meningkatkan jumlah AKI didaerah kita”, tutup dr. Ef.(mnc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*