Tradisi Perayaan Tahun Baru Islam

Tabut di Bengkulu

Padang-today.com__Perayaan Tahun Baru Islam ditandai dengan jatuhnya 1 Muharram yang pada tahun 2018 ini akan jatuh pada hari Selasa (11/9/2018), ini. Indonesia, Negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia secara tidak langsung mengalami akulturasi tradisi yang dipegang teguh di setiap daerah.

Tahun Baru Islam dirayakan dengan mengadakan Festival Tabot.  Istilah Tabot berasal dari kata Arab yang secara harafiah berarti “kotak kayu” atau “peti”.

Festival ini termasuk ke dalam kalender 100 Calender of Events (CoE) Wonderful Indonesia.

Tradisi Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Kota Pariaman dan Bengkulu yang dilakukan untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Perayaan Tahun Baru Islam di Kediri

Dekediri

Berbeda dengan Warga sekitar Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kediri. Masyarakat sekitar  mengadakan ritual Petilasan Pamuksan Sri Aji Joyoboyo setiap 1 Muharram – Tahun Baru Islam. Rangkaian ritual ini dimulai dengan iring – iringan berbagai sesaji, yang dibawa dari rumah juru kunci petilasan.

Setelah sampai di petilasan, sesepuh desa akan membacakan doa-doa yang akan dilanjutkan dengan membakar kembang tujuh rupa dan penempatan sesaji.

Keesokannya warga akan mengarak pusaka yang dimilikinya menuju petilasan dan dilanjutkan dengan ritual penyucian pusaka. Keseluruhan upacara ini akan diakhiri dengan penaburan kembang setaman di sekitaran petilasan.

Perayaan Tahun Baru Islam di Yogjakarta

Yogjakarta

Di Keraton Yogyakarta, terdapat sebuah tradisi yang dikenal dengan ritual Mlampah Mubeng atau Mubeng Benteng (alias berjalan mengelilingi Beteng). Tradisi ini merupakan simbol refleksi dan instropeksi diri orang Jawa pada malam 1 Muharram – di jawa disebut Malam 1 Suro.

Ritual ini dilaksanakan dengan berjalan berkeliling kawasan kompleks keraton pada malam hari tanpa berbicara, bersuara, makan, minum dan merokok (tapa bisu), hal ini dilakukan sebagai wujud dari bentuk perenungan dan melakukan instropeksi diri.

Ritual tradisi ini dibuka untuk umum dan siapa saja boleh ikut mengelilingi kompleks keraton dengan jarak yang ditempuh mencapai sikataran lima kilometer.

Perayaan Tahun Baru Islam di Surakarta

Surakarta

Keraton Surakarta menyambut 1 Muharram dengan tradisi kirab Kebo Bule Keturunan kerbau pusaka Kyai Slamet yang biasanya di gelar pada malam hari, dimulai pukul 00.00 WIB sampai dengan selesai.

Dikirab kali ini direncanakan terdapat tujuh kerbau yang akan melalui rute dari depan Kori Kamandungan, Pagelaran, Bundaran Gladag, perempatan Bank Indonesia, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke keraton.

Biasanya, orang-orang yang menonton kirab akan saling berebut Saat memperingati datangnya Satu Suro, warga selalu mencoba menyentuh, mengambil air jamasan dan bahkan ada yang percaya kotoran sang kebo juga memiliki khasiat. Kotoran kerbau ini nantinya akan digunakan sebagai pupuk dan diidentikkan dengan keberkahan hasil tanam. Masih banyak di berbagai daerah lainya merayakan tahun baru islam. (*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas