Tumbuhan Enceng Gondok Dan Aroma Busuk, Merusak Pemandangan Danau Maninjau

Danau Maninjau.

Danau Maninjau.

Advertisements

AGAM, PADANGTODAY.com-Pertumbuhan eceng gondok telah menimbulkan masalah bagi kebersihan danau Maninjau, hal tersebut didasarkan karena gulma menyebar dengan cepat hingga tepi tebing-tebing Danau, seperti yang terlihat di Jorong Muko-Muko Nagari Koto Mailntang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

“Saat ini air danau Maninjau berada dalam kondisi cemar berat, sehingga diharapkan adanya upaya-upaya penyelamatan agar tingkat pencemaran tidak semakin parah,” kata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wilayah Maninjau, Agus Hamdani .

Menurutnya, tumbuhan Eceng Gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu (gulma) yang dapat merusak lingkungan perairan. Tumbuhan ini mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukannya terhadap lebih 20 parameter yang diteliti, menunjukkan telah terjadi pencemaran berat terhadap air di sejumlah lokasi di kawasan selingka Danau maninjau, tercemarnya Danau dikatogirikan berat juga mengakibatkan kepada kehidupan manusia dan biota dalam Danau.

Kondisi cemar berat itu terjadi diseluruh kawasan Danau, sementara beberapa masyarakat sudah mencamaskan, sebab tumbuhnya eceng gondok sudah mengancam kenyamanan masyarakat setempat untuk budidaya ikan di lokasi tersebut.

Penyebab terjadinya pencemaran pada Danau, diduga akibat pintu Turbin dan Wir PLTA yang jarang dibuka sehingga sampah menjadi menunpuk dan perkembangan eceng gondok semakin subur.

“Perlu adanya tindakan penyelamatan, agar pencemaran air Danau Maninjau tidak menjadi semakin parah, mengingat kawasan danau ini sudah cukup terkenal dalam dunia pariwisata internasional,” katanya.

Memang di satu sisi, tambah dia, tumbuhan air yang banyak mengapung di perairan danau Maninjau ini bisa dikategorikan tanaman penggangu tidak berguna. Namun jika diolah dan dibuat menjadi hasil industri kerajinan tentu bisa menghasilkan rupiah.

Salah seorang pengunjung kawasan wisata Muko-Muko Maninjau, Sahrul (30) mengatakan, selain pemandangan enceng gondok yang telah berserakan di dalam danau maninjau, aroma tak sedap yang ditimbulkan dari ikan mati juga sangat menyengat, apalagi aroma busuk tersebut tidak hilang akibat air danau Maninjau yang tidak berganti atau mengalir karena pintu turbin PLTA di tutup.

” Bagaimana kita bisa menjual pariwisata danau Maninjau ke luar, sedangkan untuk warga lokal aja yang kesini sudah tidak tahan akan bau tak sedap dari danau, seperti saya baru masuk ke kawasan Muko-Muko dan baru duduk disalah satu warung di kawasan tersebut langsung ditawari aroma yang menyengat dari arah danau. Wisatawan lokal aja tidak tahan dengan kondisi ini , bagaimana dengan wisatawan luar yang datang kesini” ujarnya.

Danau Maninjau sebagai ikon pariwisata Kabupaten Agam kini menjadi sorotan, akibat menumpuknya eceng gondok dan sampah sekitar perairan hingga bibir tebing.

Selain itu, Ketua Forum Masyarakat Adat Salingka Danau Maninjau (FMA-SDM, Idham Rajo Bintang mengatakan, kerusakan air Danau juga akibat penggundulan hutan-hutan. Sehingga penyangga air danau membuat debit air Danau Maninjau semakin hari semakin berkurang. Ditambah lagi keberadaan PLTA yang sudah lama beroperasi juga kurang perhatian terhadap reboisasi Danau,katanya.

Dia menambahkan, dirinya merasa ngeri memikirkan dampak yang terjadi atas kerusakan ekosistem Danau pada saat sekarang ini.” Jika terus dibiarkan, degradasinya akan semakin parah,” ungkapnya

Menurut Idham Rajo Bintang, gerakan moral serta tanggung jawab menyelamatkan danau yang menjadi kebanggaan Masyarakat Agam tersebut, harus merupakan panggilan nurani dan bukan keterpaksaan. Hal tersebut tentunya harus diperlihatkan dengan aksi nyata bukan sekedar nyanyian nina bobo buat lingkungan dan ekosistem Danau Maninjau. Sebenranya yang lebih banyak menyumbang tercemarnya Danau Maninjau ini adalah PLTA.

Selain mencemari lingkungan, Kawasan wisata dilokasi tersebut yang terkenal cukup indah saat ini sudah terganggu oleh gulma yang menyebar hingga tepi tebing serta aroma busuk dari air yang tertahan di danau akibat penutupan turbin PLTA yang membuat wisatanwan enggan untuk singgah.

“Pihak pemerintah perlu melakukan tindakan cepat terhadap pihak yang menyumbangkan sampah dan menghambat sampah yang kurang keluar dari Danau terutama sekali bagi PLTA” pintanya.(martunis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*