upaya Pemerintah Mengalihkan Dari Kebiasaan Makan Nasi Ke Bahan Pangan Lainnya

Ubi Jalar

Ubi Jalar

Advertisements

PADANGTODAY.COM– Beberapa hari terakhir, kenaikan harga beras di sejumlah daerah di Indonesia membuat masyarakat menjerit. Wajar saja mengingat beras masih menjadi kebutuhan pokok dan paling dibutuhkan masyarakat.

Kondisi ini mengingatkan kembali soal upaya pemerintah melakukan diversifikasi pangan, mengalihkan dari kebiasaan makan nasi ke bahan pangan lainnya. “Agar kebutuhan beras nasional bisa ditekan,” Kepala Bagian Umum Ditjen Tanaman Pangan Kementan Sarwo Edhy di kantor BKPM, Jakarta, Kamis (26/2).

Untuk merealisasikan diversifikasi pangan, Kementerian Pertanian gencar menawarkan promosi investasi sektor pertanian kepada investor asing. Luasnya lahan dan suburnya tanah di Indonesia, jadi bahan promosi ke investor yang ingin menanamkan modalnya di dalam negeri.

Dengan modal yang besar, lahan-lahan tersebut bisa dimaksimalkan menanam bahan pangan alternatif selain padi. Bahan pangan pengganti itu kemudian diolah untuk konsumsi masyarakat.

“Jadi promosi itu untuk mengurangi konsumsi beras. Biasanya diversifikasi ke sagu atau ubi jalar dan kayu,” ucapnya.

Sarwo menyebut, ada dua negara yang paling berminat menanamkan modalnya untuk sektor pertanian yakni Thailand dan Hong Kong. “Mereka sebetulnya juga sama-sama negara pertanian.”

Salah satu alasan mereka tertarik menanamkan modal di Indonesia lantaran luas lahan dan potensi pertanian di Indonesia masih cukup besar. Investor asing masih percaya, lahan di Indonesia mampu ditanam berbagai komoditi pangan.

“Potensi lahan di Indonesia menanamkan segala komoditi masih memungkinkan. Sehingga mereka tertarik,” tuturnya.

(noe/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*