Volo Instititut Gelar Diskusi Lokal, Menggagas Pemimpin Berkarakter Demi Masyarakat Sejahtera

Volo Instititut Gelar Diskusi Lokal, Menggagas Pemimpin Berkarakter Demi Masyarakat Sejahtera 2 Mei 2015

Volo Instititut Gelar Diskusi Lokal, Menggagas Pemimpin Berkarakter Demi Masyarakat Sejahtera 2 Mei 2015

Volo Instititut Gelar Diskusi Lokal, Menggagas Pemimpin Berkarakter Demi Masyarakat Sejahtera 2 Mei 2015

Volo Instititut Gelar Diskusi Lokal, Menggagas Pemimpin Berkarakter Demi Masyarakat Sejahtera 2 Mei 2015

Limapuluh Kota, PADANGTODAY.com–Diskusi yang menghadirkan Sejarawan Nasional Profesor Mestika Zed, di Aula Sagho Bungsu, Sabtu (2/5) menguji karakter pemimpin yang kini ada. Diskusi Lokal yang bertema Menggagas Ulang Tipologi dan Karakter Kepemimpinan Kepala Daerah Lima Puluh Kota untuk Mewujudkan Masyarakat Sejahtera yang digagas Volo Institute dimoderatori oleh Konsultan dan Investment Ahmad Gazali ini berlangsung cukup panas.

Selain menghadirkan para bakal calon Bupati yang berniat berlaga di arena Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2015; Letkol Hikmat Israr, Irfendi Arbi, Ridho Illahi, juga anggota DPRD Sumbar yang tokoh masyarakat Talago Prof Erman Mawardi, juga hadir para mahasiswa, BEM, tokoh masyarakat, LSM, dan unsur lainnya.

”Saya bersepakat, dengan konsep bahwa di Sumbar saat ini sedang kosong pemimpin. Justru yang ada hanya Gubernur, Bupati, dan Walikota saja lagi,” ujar Yudilfan Habib, LSM Peduli Luak Limopuluah yang terkenal kritis dan tegas.

Meneruskan komentar Habib, Syaiful Rahman LSM Madani juga mengutip ungkapan dari Budayawan Wisran Hadi, Sumbar hari ini sudah kehilangan pemimpin! Bahwa, Sumbar, khususnya di Limapuluh Kota hari ini, masyarakatnya sangat merindukan pemimpin yang membangkitkan semangat masyarakatnya, membangun sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

”Pemimpin itu memberikan contoh, menjadi tauladan, bukan sentra kritisi atas banyak kesalahan dan kesewenangan.”

Pemimpin Deduktif

Profesor Mestika Zed sendiri, menyentak peserta dialog lokal dengan ungkapan kesetujuannya mendapatkan pemimpin secara deduktif, bukan induktif. Deduktif, artinya pemimpin didorong hadir dari level bawah sehingga maju ke depan sebagai tauladan. Induktif artinya, pemimpin didorong menjadi figur dari atas, berdasarkan realitas.

Bersama Profesor Mestika Zed, Profesor Erman Mawardi, Letkol Hikmat Israr, Irfendi Arbi, Ridho Illahi, moderator Ahmad Gazali, difasilitasi oleh Radio Total FM juga membuka line interaktif berbincang dan berdiskusi.

Hikmat Israr sendiri berpendapat tidak ada pemimpin yang sempurna. Makanya, harus terjadi sinergi, bekerjasama satu dengan yang lain.(Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*