Wabup Ferizal Upayakan Hak Paten Ikan “Gurami Sago”

Wabup Ferizal Ridwan saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif di RRI Pro-1 FM Bukittinggi di Nagari Mungo, kemarin.

Wabup Ferizal Ridwan saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif di RRI Pro-1 FM Bukittinggi di Nagari Mungo, kemarin.

Advertisements

Limapuluh Kota, PADANG-TODAY.com-Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, terus membangun gerakan ‘inofasi terkendali’ guna mengatrol pendapatan dan ekonomi masyarakat. Kali ini, orang nomor dua di Limapuluh Kota tersebut, berencana bakal membuat sebuah gerakan bersama, terhadap pengembangan budidaya perikanan air tawar yakni ikan gurami merah.

Sebab, seperti diketahui peternakan ikan gurami merupakan salah satu produksi protein yang cukup banyak dikelola masyarakat Limapuluh Kota seperti di Nagari Mungo dan Andaleh, Kecamatan Luhak. Ke depan, Ferizal mengaku ingin menuntut hak paten, terkait kawasan pemeliharaan ikan gurami merah di kawasan kaki Gunuang Sago.

“Terhadap urusan perikanan, kita fokus mendorong masyarakat atau punkelompok tani, melakukan gerakan bersama budidaya ikan gurami. Saya ingin, Gurami Sago ke depan, bisa dihak-patenkan oleh pemerintah secara nasional,” kata Ferizal, ketika menjadi narasumber dialog interaktif RRI Pro-1 FM Bukittinggi, di Nagari Mungo, Selasa (30/8).

Dalam dialog interaktif yang dipandu oleh reporter sekaligus penyiar RRI, Elmar, yang bertema “Program Terkini Kabupaten/Kota untuk Sumatera Barat Membangun” itu, Wabup Ferizal sempat melakukan sosialisasi terkait berbagai potensi alam untuk pengembangan budidaya perikanan di Limapuluh Kota.

Ia menyebut, selain didukung suburnya alam Limapuluh Kota, perikanan didukung oleh kawasan perairan, sehingga sangat cocok dikelola pada bidang perikanan. Selama ini, untuk skala kecamatan, sejumlah kelompok tani di Nagari Mungo sudah melakukan budidaya ikan gurami merah dalam skala besar.

Usaha pembibitan dan pemeliharaan biasanya menggunakan kolam air tawar. Seperti pengelolaan peternakan ikan yang ada di kelompok perikanan ‘Ingin Maju’ yang sudah banyak memproduksi ikan gurami unggul.

“Bahkan, sejak tahun 1970-an disini sudah dikembanhkan budidaya ikan gurami,” sebutnya.

Selain Luak, di Limapuluh Kota, ada 6 Kecamatan yang terus melakukan budidaya ikan. Namun, untuk ikan jenis gurami merah hanya dipelihara dan hidup di sekitar kawasan kaki Gunung Sago.

“Ke depan, melalui program Dinas Perikanan, kita akan terus melakukan penguatan melalui pembinaan kelompok, permodalan, maupun pemasarannya,” tukuk Ferizal.

Adapun Kepala Dinas Perikanan, Ir Refilza, yang juga ikut sebagai narasumber dalam dialog interaktif bersama RRi Bukittinggi turut menyosialisasikan terhadap program kegiatan yang tengah dan akan dijalankan di instansinya. Selama ini, produksi dan pemasaran ikan gurami merah asal Luak masih tinggi, karena cukup banyak diminati masyarakat.

“Tak hanya di dalam daerah tetapi juga luar daerah hingga ke luar negeri. Sebab, rasa daging ikan gurami merah ini sangat enak dan gurih, sehingga banyak rumah makan mewah, menyajikan kuliner masakan khusus ikan gurami. Tak hanya itu, pada prosesi kegiatan adat, ikan gurami tak pernah ketinggalan,” sebut Refilza.

Kendati demikian, menurutnya, masih ada berbagai kendala dihadapi para peternak dan kelompok ikan, seperti persoalan pengairan. Namun, persoalan yang mendasar, yakni belum diterapkannya sistem teknologi oleh kelompok maupun peternak ikan, sehingga mempengaruhi jumlah produksi.

“Secara umum, kendala kita adalah sistim pengairan kita, berasal dari tadah hujan dan mata air. Tapi, sukurnya, Gurami adalah jenis ikan yang mampu hidup di berbagai kondisi cuaca dan perairan. Kami tahun 2016 ini sudah melakukan pembinaan dan penyuluh bagi kelompok oleh KKP, salah satunya pembudidayaan ikan gurami,” sebutnya.

Sejak tahun 1998, sebutnya, permintaan ikan gurami terus meningkat karena banyak diminati masyarakat luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Kelompok Ingin Maju, bahkan sempat kewalahan menyiapkan permintaan pasar. Adapun harga, Gurami bisa dijual dengan harga tinggi, sehingga menambah pendapatan kepada masyarakat.

Adapun sistim tekhnologi terhadap pembenihan, katanya, para kelompok budidaya ikan di Mungo sudah mengembangkan sistim baskom, guna menciptakan bibit gurami unggul. “Hampir 90 persen warga Mungo memproduksi ikan gurami merah. Tidak hanya di sini, juga ada di Lareh Sago Halaban, hingga di 6 kecamatan lainnya,” imbuhnya.(rel/Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*