Wakil Gubernur Muslim Kasim: Silat Tradisi Bahagian Dari ABS-SBK dan Pembangunan Nagari

DSC_6742DSC_6738

AGAM, PADANGTODAY.com-Batagak Agam, Silat tradisi merupakan bahagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan suatu nagari di Ranah Minang Sumatera Barat. Sila tradisi juga merupakan bahagian dari pembangunan karakter Adat Bandi Sarak, Sarak Bansandi Kitabullah ( ABS-SBK) yang merupakan jati diri masyarakat Minangkabau dalam menata diri, kehidupan adat dan budaya ditengah-tengah kehidupan sehari-harinya.

Hal ini disampaikan Wagub Muslim Kasim ketika membuka Gelanggang Silat Tradisi Silih Berganti di Lapangan Bola Nagari Batagak kabupaten Agam, Sabtu malam ( 9/5). Hadir juga dalam kesempatan tersebut Sekda Agam, Tokoh Tua-tua Silat, Haji Kobar Pendeka Silat Tradisi yang melatih Kopassus di zaman Prabowo, Tua Silat dari Agam, Lintau, Maninjau dan tokoh-tokoh masyarakat tradisi lain-lainnya.

Lebih lanjut Muslim Kasim menyampaikan, Sayang saja memperlajari silat tradisi ini baru sebatas kelompok kecil dalam keluarga, suku atau kaum latihannya secara sembunyi di ladang pisang, di surau di saat malam-malam menjelang. Mungkin dahulunya silat tradisi ini merupakan titah penguasaan seseorang yang hendak pergi ,merantau, atau sebagai bekal dalam menjalani hidup sebagai pedagang, petani ,maupun sebagai bekal perjalan mencari ilmu kenegeri orang.

Memperlajari silat tradisi bagi orang minang merupakan sebuah dinamika belajar mengendalikan diri dari siaft-sifat yang buruk, dan dengan menguasai ilmu silat seseorang akan mampu mengendalikan dirinya secara baik serta dapat mengambil kebijakan dalam pilihan-pilihan hidup yang sesuai dengan keinginan diri untuk lebih baik.

Silat tidak saja menjadi modal karakter diri, akan tetapi juga mampu membangunan nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, berhitung dan berstrategi dalam memajukan pembangunan di nagari. Jika saja para pesilat ini tidak terlatih dari dahulunya, tentunya para pendekar yang ikut berjuang mencapai kemerdekaan Republik Indonesia.

Karena sebelum kemerdekaan bangsa ini belum punya tentara, belum punya senjata yang hebat dalam berjuang dalam meraih kemerdekaan ini. Silat merupakan ilmu beladiri masyarakat minang yang dinamis dan selalu berpedang pada Al Qur’an dan hadist, ujarnya.

Muslim Kasim dalam kesempatan itu juga menjanjikan, akan membentuk wadah yang sehat dalam memajukan kesejahteraan para pendekar dan sasaran-sasaran silat tradisi agar semua ini dapat dilestarikan sebagai seni budaya bangsa di Sumatera Barat.

Kita berharap dalam waktu dekat ini akan ada sebuah pertemuan akbar sarasehan para pendekar silat tradisi di Ranah Minang Sumatera Barat untuk, bangkit memberikan kontribusi dalam kemajuan pendidikan, dan menciptakan karakter generasi muda minang nantinya.

Haji Kobar salah seorang pendekat Tuo-Tuo Silat Tradisi yang pernah mengajar silat bagi tentara kopasus RI di Jakarta dalam kesempatan itu menyampaikan pendapat, saat ini jika meninggalnya satu seorang tua silat itu sama dengan telah hilang satu generasi sejarah pendekar.

Karena dirasa amat sedikit sekali para tetua silat ini menurunkan ilmunya kepada anak, kemenankannya atau generasi muda yang lain. Sehingga ilmu silat tradisi yang dimiliki seseorang tettua silat ini tidak ada yang menyambut atau melanjutkanya. Karena itu apa yang digagasan oleh Bapak Muslim Kasim ini tentu sebuah apresiasi yang baik dalam mempertahankan budaya dan tradisi masyarakat minang hari ini dan masa datang, harapnya. (admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*