Walikota Buka Pelatihan Adat se-Kota Payakumbuh

Asisten II Amriul Dt. Karayiang membuka pelatihan adat.

Asisten II Amriul Dt. Karayiang membuka pelatihan adat.

Advertisements

Payakumbuh, PADANGTODAY.com-Guna meningkatkan wawasan serta program dan fungsi ninik mamak & bundo kanduang di tengah masyarakat, Pemerintah Kota melalui Bagian Kesra Setdako menyelenggarakan pelatihan Adat, diikuti sebanyak 76 peserta dari utusan KAN 10 Nagari yang tersebar di lima kecamatan di Payakumbuh.Gelar acara ini dibuka Walikota Payakumbuh diwakili Asisten II Amriul Dt.Karayiang bertempat di aula kantor bersama Jl.Pahlawan Sawah Padang Selasa (10/3).

Hadir dalam kesempatan ini Kabag Kesra Setdako Yonrefli, S.Sos,M.AP, Ketua LKAAM Kota Payakumbuh diwakili Dt.Tan Mamat dan 4 orang nara sumber yaitu dua dari Propinsi masing-masing Daulat Rajo Alam Pagaruyuang Prof.Dr.Taufik Thayib dan Tuan Gadih Pagaruyuang Prof.Dr.Puti Reno Raudha Thaib sedang dua nara sumber lainnya dari Kota Payakumbuh M.Yanis Dt.Rajo Indo Nan Mamangun dan Raden Awaluddin Dt.Panduko Alam dari Tanjung Pati Lima Puluh Kota.

Kabag Kesra Yonrefli yang juga selaku Ketua Panitia menyebutkan kegiatan pelatihan Adat tersebut berlangsung selama dua hari Selasa dan Rabu 10-11 Maret 2015 yang dikuti 76 peserta dari 10 Nagari yang ada yang terdiri dari unsure Ninik Mamak, Bundo Kanduang dan Pengurus LKAAM Kota Payakumbuh.
Ditambahkannya tujuan dilaksanakan pelatihan Adat ini adalah untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta peran dan fungsi ninik mamak & Bundo Kanduang ditengah-tengah masyarakat dalam Kota Payakumbuh, ujarnya.

Asisten II Amriul Dt.Karayiang ketika memberikan sambutannya menyebutkan dilaksanakan pelatihan adat ini bukan berarti para Ninik mamak dan Bundo Kanduang tidak memahami tentang adat namun dimaksudkan disamping meningkatkan wawasan juga untuk menerima masukan berupa persoalan adat yang ditemui ditingkat Nagari dan dibahas dalam pelatihan tersebut sehingga nanti bisa dijadikan sebagai masukan bagi Pemko dalam membuat program kerja kedepannya, ujar Asisten.

Lebih jauh dikatakannya meskipun di tiap Nagari pelaksanaan Adat itu berbeda-beda dan bahkan disinyalir ditemui adanya persoalan adat yang muncul salah satu diantaranya dulu ”kato nan bajawek,” kini ”kato nan tatulis.”
Oleh karena itu melalui pelatihan ini kepada peserta Amriul Dt.Karayiang mengharapkan agar dapat melahirkan atau membuat literature-literatur yang tertulis nantinya ditingkat Nagari supaya penerapan adat itu sesuai dengan kedudukan dan kekerabatannya atau dengan kata lain penerapan adat “Indak lakang dek paneh, indak lapuak de hujan’ simpulnya.(mnc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*