Walikota Keluarkan Surat Edaran Untuk Sekolah

Padang-today.com___Kebebasan pemakaian android atau telepon pintar dikalangan pelajar Kota Pariaman, Sumbar, tidak terkontrol dengan maksimal oleh pihak sekolah, maupun oleh keluarga pelajar itu sendiri.

Hal itu dibutikan dengan ditemukannya konten-konten didalam telepon seluler pelajar yang bisa membuat pelajar dengan komunitasnya bebas melakukan hal-hal yang mengarah negatif.

Untuk menyikapi itu, pihak pemerintah didaerah itu mengeluarkan edaran melarang siswa untuk membawa telepon pintar ke sekolah.

Lahirnya surat edaran itu, pasca ditemukannya grup media sosial menyimpang yang anggotanya dari para pelajar SMP.

“Mulai besok Satuan Polisi Pamong Praja akan merazia seluruh sekolah di Kota Pariaman guna melihat apakah edaran ini berjalan,” kata Wako Pariaman, Genius Umar di Pariaman, Rabu 27-02-2019 kepada wartawan.

Kebijakan untuk melahirkan surat edaran itu salah satu upaya untuk mencegah generasi muda di Kota Pariaman terjebak pengaruh negatif perkembangan teknologi.

Miskipun demikian, untuk mengawasi pelajar tidak saja bisa dilakukan oleh pihak sekolah, dan pemerintah setempat namun butuh bantuan dari orang tua.

“Pengawasan dari sekolah kan terbatas jadi juga dibutuhkan pengawasan dari orang tua,” kata dia.

Ia menyatakan peristiwa siswa SMP menjadi anggota grup berisi konten dewasa yang terungkap beberapa waktu lalu tidak baik untuk pertumbuhan pelajar.

“Oleh karena itu dalam waktu dekat kami akan memanggil orang tua pelajar tersebut,” katanya.

Ia berharal orang tua yang mempunyai durasi waktu yang cukup lama berinterkasi dengan anaknya, seharusnya dapat mengawasi anaknya kearah yang lebih baik dan positif. Sehingga penggunaan telepon pintar agar tidak menjadi korban penyalahgunaan teknologi.

Sebelumnya, Kepala Seksi Penyidik Pegawai Negeri Sipil Satpol-PP Pariaman, Siti Mayangsari di Pariaman mengatakan pihaknya sedang menyelidiki grup media sosial menyimpang yang anggotanya rata-rata merupakan siswa SMP di daerah itu.

Ia mengatakan penemuan tersebut berawal dari razia pihak sekolah dan menemukan telepon pintar siswa yang di dalamnya terdapat sejumlah grup media sosial yang mana percakapannya berisi kalimat kasar dan provokatif bahkan berisi konten dewasa.

Pada Senin lalu pihaknya telah memanggil sejumlah siswa yang merupakan anggota grup itu untuk meminta keterangan dan bahkan memberikan pencerahan dari tokoh agama dan psikolog. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas