Wendra Yunaldi : Walikota Payakumbuh Kehilangan Arah

Wendra Yunaldi

Wendra Yunaldi

Advertisements

PAYAKUMBUH, PADANGTODAY.COM- Dua tahun plus 1, Walikota Payakumbuh kembali melantik pejabat. Pejabat yang dilantik, bukan titik persoalan. Persoalannya, yang dilantik ini, apakah sudah sesuai kompetensi dan sesuai dengan daya kerjanya?

”Saya kasihan dengan personil pejabat yang tidak sesuai penempatannya. Bahkan terkesan bongkar muat, bongkar pasang. Saya heran, Walikota mengerti tidak dengan kinerja bawahannya. Apakah ada ”Walikota” lain yang berperan?” ujar Wendra Yunaldi, tokoh muda yang kritis di Payakumbuh.

23 September 2012, dengan megah Walikota Riza Falepi dan Wakil Walikota Suwandel Mukhtar dilantik Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Tak hanya undangan biasa, bahkan seperti Gedung DPD RI di gedung bundar Senayan dipindahkan ke GOR M Yamin. Para anggota DPD RI yang sejawat dulunya dengan Walikota turut hadir, berhari-hari.

Masyarakat Payakumbuh terujar banyak menaruh harapan kepada Walikota yang lulusan Master Teknologi Institut Teknologi Bandung ini. 100 hari pasca kepemimpinannya, saat ditanyakan tingkat sukses kinerja, dijawab dengan mendirikan Taman Digital di Medan Nan Bapaneh. Taman Digital itu kadang hidup kadang mati. Kini, entahlah.

Sebutan Crass Program yang dijalankan disematkan pada 1 taman kecil beratap yang kemudian ditambah lagi 1 taman. Walikota Payakumbuh, meresmikannya. Keheranan publik semakin menjadi manakala banyak muncul bangunan dan pembangunan yang tidak jelas. Lihat saja ”smoking room” di samping Kantor Balaikota, pos-pos lalu-lintas ber AC, kacanya pecah-pecah, Medan Nan Bapaneh beraspal hotmix, Restoran Internasional yang tak jadi siap alias terbengkalai.

Wendra Yunaldi, menuturkan, arah kebijakan dan keputusan Walikota ini seperti tidak terbantahkan oleh staf dan orang dekatnya. Janji Walikota yang dulu mengatakan dengan gagahnya, punya jaringan investor yang luas, malah sempat ke Hongkong mempresentasikan Payakumbuh, sampai hari ini tinggal angan.

Walikota Riza Falepi sepertinya beberapa hari saja optimistik dengan mimpinya ini. Kini, ungkap Wendra Yunaldi, sang Walikota yang se Almamater dengan Walikota Bandung Ridwan Kamil itu menuai misteri dalam kinerjanya selaku kepala daerah.

”Ya, misteri. Sebab, kebijakan pindah memindahkan pejabat ini justru banyak yang aneh. Pejabat yang hebat dan bersertifikasi nasional di non job kan. Pejabat yang penjilat dan ”asal bapak senang” dinaiktingkatkan. Kita bisa hitung mana pejabat yang betul-betul berkompeten,” ujar Wendra Yunaldi mengalaskan alasannya menyebut bahwa Walikota sering bongkar muat barang.

Pejabat lama ditempatkan kembali di tempat semula. Lalu, pejabat tak berkompetensi, tak punya keilmuan di bidang itu, ditempatkan di posisi terhebat. ”Aneh!” kata mantan Ketua KNPI ini.

Ahli hukum tata negara ini, mengakui tidak ada sanksi dalam peraturan perundang-undangan dalam salah penempatan pejabat oleh kepala daerah. Jikapun termaktub dalam UU Aparatur Sipil Negara, tentang mekanisme dan pengawasan pengangkatan pejabat, namun hal ini tetap terlanggar sebab kewenangan kepala daerah yang menjadi pemutus akhir jabatan.

Komentar-komentar bermunculan saat ditanyakan tentang sukses kinerja Walikota Payakumbuh selama dua tahun belakangan. Perantau Payakumbuh yang gigih mengkritisi, Titin Hastinar, mengatakan, darimana bisa kita peroleh informasi tentang capaian keberhasilan kepemimpinan, sebab website yang ada hanya memajang citra positif saja. Setiap waktu saya pulang ke Payakumbuh, belum tampak investor yang dulu dijanjikan Walikota.

Sementara itu, tokoh masyarakat Edlen Syarkawi, mengatakan kinerja Walikota dan Wakil Walikota untuk kemajuan Kota Payakumbuh belum ada yang menonjol. Belum ada perubahan sesuai dengan janji kampanye dahulu.
”Kami, yang dulu relawan ”FWan” ikut membantu untuk kemenangan demi kemajuan Kota Payakumbuh memang kecewa dengan kinerja Walikota yang belum terlihat ini.”

Senada dengan itu, Astra Santayana, yang dulu berhasil menghimpun dukungan petani-petani ikut kecewa. Tak ada janji Riza Falepi untuk masyarakat yang dirasakan nyata, semua mimpi.
Salah seorang pengusaha, Idrawedi Sas, menyebut, ”Sabar, masih ada tiga tahun lagi.”

Tokoh muda, Budi Febriandi menulis beberapa catatan; pertama: perjelas penggunaan Kantor Walikota yang baru agar tidak sia sia dan mubazir, sebab uang rakyat yang digunakan untuk terbangunnya Kantor tiga lantai itu. Kedua; bangunlah sinergitas Payakumbuh-Limapuluh Kota ”Tata betullah Pasar Payakumbuh,” ujar Budi Febriandi yang berdomisili di Sarilamak Limapuluh Kota ini.(malin​)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*