Wisata Religius yang Tak Ter Urus

Padang-today.com__Padang Pariaman, Sumbar cukup dikenal dengan wisata religius yang dinamakan ‘Basapa’. Wisata relegius yang satu ini merupakan wisata sejarah berkembangnnya sejarah Islam di Minangkabau.

Wisata religius ‘Basapa’, tepatnya di Kecamatan Ulakan Tapakis, Nagari Manggopoh Palak Gadang mempunyai nilai cukup tinggi tentang keberadaan Islam di daerah itu. Kenapa tidak, di Nagari Manggopoh Palak Gadang terdapat makam Syekh Burhanuddin yang megembangkan Islam ke daerah itu.

Bagi jamaah Syattariyah sudah tidak asing lagi untuk berkunjung ke makam guru Syekh Burhanuddin. Untuk berkunjung ke makam tersebut, cukup menghabiskan waktu sekitar 10 menit dari Banadara Internasional Minangkabau, jamaah sudah dihadapkankan dengan peninggalan-peninggalan Syekh Burhanuddin.

Pada bulan Syafar, ribuan jamaah dan murid-murid Syattariah dari berbagai daerah mengikuti kegiatan tahunan ‘Basapa’ di makam Syekh Burhanuddin di Kecamatan Ulakan Tapkis. ‘Basapa’ adalah salah satu aktifitas ritual keagamaan yang dilakukan oleh kelompok muslim tarekat Syatariah.

Tradisi Basapa biasanya dilaksankan pada tanggal 10 Syafar atau pada hari Rabu minggu kedua dan Minggu ketiga bulan Syafar. Basapa ini dilakukan masyarakat sebagai ungkap rasa syukur dan terimakasih terhadap Syekh Burhanuddin atas jasanya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau.

Para ziarah yang akan melakukan ritual ‘Baspa’ kalau tidak mengunjung Surau Pondok Ketek untuk melihat pakaian Syekh Burhanuddin dan menemui Kalifah 15 Syekh Burhanuddin, seakan belum lengkap dengan ritual yang telah dilakukan oleh jamaah Syattariah itu.

Tarekat Syatarriah yang dibawa Syekh Burhanuddin mendapat tempat di hati masyarakat Miangkabau pada waktu itu, sehingga berkembanglah agama Islam di Ranah Minang. Tanggal 10 Safar sendiri diyakini sebagai hari dimana meninggalnya Syekh Burhanuddin yaitu 10 Syafar 1111 H/1691 M.

Nuansa relegius yang dibalut dengan kearifan lokal berupa budaya masyarakat menjadikan Nagari Manggopoh Palak Gadang sebagai Destinasi Wisata Religius yang memancarkan daya tarik tersendiri.

Namun, hingga saat ini keseriusan pihak pemerintah daerah dalam mengelola wisata yang satu ini terkesan setengah-tengah dalam pengembangan dan pelestarian budaya di daerah itu. Padahal, wisata tradisi Basapa sudah menjadi agenda tahunan bagi jamaah Syattariah dalam ritual keagamaan di daerah itu.

Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya kualitas jalan penghubung di setiap destinasi-destinasi yang akan dikunjungi para peziarah. Seperti di tempat ziarah surau pondok ketek yang berada di Korong Koto Panjang Timur dan Korong Tanjuang Medan.

“Sebelum kami melakukan ziarah ke makam Syekh Burhanuddin, kami dari jamaah Syttariah dari Teluk Kuantan mengawali ziarah ke Surau Pondok Ketek untuk melihat pakaiaan Syekh Burhanuddin dan menemui khalifah yang ke XV dari keturunan Syekh Burhanuddin,” kata Zaharruddin jamaah Syattariah dari Teluk Kuantan, Selasa, 15-10-2019.

Katanya, ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk berziarah yaitu berzikir, membaca tahlil dan tahmid. Kegiatan itu kami lakukan di tiga tempat yaitu di Korong Koto Panjang, Korong Tanjung Medan dan Korong Palak Gadang yang berada di Kecamatan Ulakan Tapakis ini.

“Tepatnya Surau Pondok Ketek ini, kami dikagetkan dengan masih rendahnya kulitas jalan penghubung dari daerah lain ke daerah yang satunya lagi. Apalagi di jalan utama yang akan menuju ke makam, sudah jalannya kecil dan sempit, kendraan yang melintasi wilayah itu tidak dapat bergerak sama sekali pad saat ritual basapa dilangsungkan.” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah setempat telah mengakui potensi kemajuan ekonomi setempat yang dapat dilakukan oleh wisata yang tangguh. Dalam hal ini wisata religus. Wisata yang satu ini akan menjadi salah satu penunjang bagi daerah setempat untuk meningkatkan perekonomIannya dalam setahun sekali.

Artinya, apabila suatu daerah yang telah mmpunyai potensi daerah, tetapi kurang seriusnya dalam memanfaatkan peluang pada sektor wisata religius ini membuat pelaku sadar wisata cukup geram dengan lambannya untuk melahirkan terobosan-terobosan dalam pengembangan wisata tersebut.

“kalau bisa di setiap lokasi yang akan dikunjunggi para peziarah dilengkapi dengan sarana prasarana yang mendukung, seperti jalan harus di aspal,” kata dia. (Suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas