Yutiardy Rivai, Masih Ada PIRT Belum Standar Nasional

Padang-today.com – Menghadapi bonus demografi pada tahun 2045 sangat dibutuhkan generasi yang sehat, cerdas dan mengkonsumsi pangan yang memenuhi standar kesehatan. Sehingga anak-anak bangsa Indonesia bisa berkompetisi dengan anak-anak dari negara lain.

Bonus demografi merupakan saat di mana suatu negara memiliki total jumlah penduduk dengan usia angkatan kerja (usia 15 tahun sampai usia 65 tahun) lebih banyak daripada jumlah penduduk non angkatan kerja (0-15 tahun dan 65 tahun keatas). Dalam bonus demografi ini Indonesia memiliki sekitar 70% dari total jumlah penduduk dalam kategori usia angkatan kerja dan sisanya merupakan usia non produktif.

” Melalui Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan melakukan pembinaan,  pengarahan dan memberikan solusi kepada industri rumah tangga yang melakukan pengolahan pangan dan makanan. Bagi yang sudah memiliki PIRT tentu makanan yang dihasilkannya sudah memenuhi standar keamanan pangan. Sehingga layak untuk dikonsumsi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Padang Pariaman Drs. Yutiardy Rivai, Apt kepada usai membuka Kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Ketahanan Pangan, di aula Dinas Kesehatan Padang Pariaman, Kamis (5/11/2020). Tampil sebagai narasumber Ahli Madya Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Padang Drs. Lega Fatma Apt.

Menurut Yutiardy, memang masih ada Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT yang belum sesuai dengan standar kesehatan dalam pengolahan pangan. Karena itu, Dinkes Padang Pariaman terus melakukan pembinaan sehingga sesuai dengan standar keamanan pangan.

Terkait dengan jajan anak sekolah, kata Yutiardy, kita juga melibatkan anak-anak sekolah. Kemaren kita sengaja mengundang anak sekolah melalui pramuka untuk mengetahui bagaimana ketahanan pangan yang sehat. Dinkes mendorong anak-anak sekolah tersebut untuk berbelanja di warung sehat. Kita ingatkan agar pramuka mendorong pihak sekolah mewujudkan warung sehat yang menyediakan makanan jajan sehat. Termasuk melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)nya.

Terkait dengan stunting, kata Yutiardy, tentu ada kaitannya dengan ketahanan pangan. Di Padang Pariaman tahun 2019 angka stunting masih  mencapai rata-rata 16,19 persen. Angka ini terus menurun sejak 2016, 2017 dan 2018. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional. Target di tahun 2024, harus di bawah 14 persen.

Lega Fatma dalam pemaparannya menyebutkan, pangan aman untuk dikonsumsi adalah pangan yang aman dari pencemaran baik fisik, kimia maupun biologis. Cemaran fisik maksudnya benda-benda yang tidak boleh ada dalam pangan seperti rambut, kuku, staples, serangga mati, kerikil dan lainnya. Sedangkan cemaran kimia yang berasal dari bahan kimia yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan manusia, seperti logam berat, mikotoksin (racun yang dihasilkan jamur) dan lainnya. Cemaran biologis yang berasal dari makhluk hidup, dapat berupa  cemaran mikroba atau cemaran lainnya seperti cemaran protozoa dan nematoda (cacing parasit).

Mewujudkan keamanan pangan Badan POM menerapkan system pengawasan 3 pilar. Yakni BPOM (pemerintah), industri dan masyarakat. BPOM melalui pengawasan sebelum dan setelah produk pangan beredar dengan pengawasan pre-market dan postmarket. Pihak industry harus menjamin mutu, manfaat dan khasiat pangan yang dihasilkan dengan menerapkan  cara produksi yang baik. Sedangkan masyarakat harus cerdas dalam memilih produk pangan yang akan dikonsumsi serta dalam menyikapi informasi yang beredar,” kata Lega Fatma.

Kegiatan dipandu Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Padang Pariaman Zairil. “Peserta berasal dari Pengurus Forum Kabupaten Sehat (FKS) Padang Pariaman, awak media cetak, elektronik, online,  televise dan undangan lainnya, ” kata  Kabid Kesmas Dinkes Padang Pariaman Nurhyati. (SugeR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*