10 Besar Nasional, Payakumbuh Terima Adipura 2015

Walikota H. Riza Falepi menerima Piala Adipura 2015 dari Menteri LHK Siti Nurbaya, dalam acara Malam Anugerah Lingkungan Proper dan Adipura di Hotel Bidakara Jakarta, Senin malam.

Walikota H. Riza Falepi menerima Piala Adipura 2015 dari Menteri LHK Siti Nurbaya, dalam acara Malam Anugerah Lingkungan Proper dan Adipura di Hotel Bidakara Jakarta, Senin malam.

Advertisements

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-Piala Adipura  kembali milik  Kota Payakumbuh. Hebatnya, di Sumatera Barat, hanya kota yang  dipimpin pasangan Walikota H. Riza Falepi dan Wakil Walikota H. Suwandel Muchtar ini, yang sukses merebut Anugerah Adipura 2015, untuk kategori kota sedang. Kota Padang, sebagai ibu kota provinsi, hanya memperoleh Sertifikat Adipura, kategori kota besar.  Nama Sumatera Barat tetap berkibar dalam kancah perebutan Adipura Nasional tahun ini.

Piala Adipura 2015 buat Payakumbuh itu, diterima Walikota H. Riza Falepi dari tangan Wapres Jusuf Kalla bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dalam acara Malam Anugerah Lingkungan Proper dan Adipura di Hotel Bidakara Jakarta, Senin (23/11) malam. Dalam laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI,  ada 65 kota yang memperoleh Adipura.  Rinciannya,  5 kota metropolitan, 3 kota kategori kota besar, 25 kota sedang, dan 32 kota kategori kota kecil.

Sedangkan,  kota peraih Sertifikat Adipura yang merupakan penghargaan kepada kota/ibukota kabupaten yang mengalami kenaikan nilai Adipura dibandingkan tahun sebelumnya, tercatat 69 kota. Yaitu, 1 kota kategori metropolitan, 3 kategori kota besar, 18  kategori kota sedang  dan 47 kota kategori kecil.

Walikota Riza Falepi, saat menerima Piala Adipura itu, didampingi Kepala Kantor Lingkungan Hidup  Syamsurial, M.Si,  Kepala DTRK Elfi Jaya, ST, Kabid Kebersihan Men Apris, SH, Staf Ahli Walikota Dafrul Pasi dan Ruslayetti, M.Pd, dan Masrizal pejabat di Kantor LH Payakumbuh.

Piala Adipura yang diterima Walikota Riza Falepi itu, merupakan piala kedelapan bagi Kota Payakumbuh di era Pemerintahan Reformasi ini. Pemerintah pusat menilai,  Payakumbuh punya manajemen pengelolaan  sampah  dan  lingkungan hidup yang cukup baik, dibanding kota/kabupaten lainnya di Sumatera Barat.

Rangking Payakumbuh di tingkat nasional, berada di posisi ke-10 dari 65 kota penerima Adipura. Di Sumatera, Payakumbuh berada di peringkat ke-2 setelah Jambi. Sementara, tahun sebelumnya, Payakumbuh berada di peringkat ke-37 nasional.

Ditunjuknya Payakumbuh sebagai lokasi Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sampah bagi lima kota/kabupaten  di Sumatera Barat, bukti nyata kota berpenduduk sekitar 130 ribu jiwa itu, punya komitmen tinggi dalam bidang kebersihan dan persampahan ini.

Keterangan Kepala LH Syamsurial,  total timbulan sampah  di Payakumbuh mencatat 237 per hari. Yang dibawa  sampai ke TPA (Tempat Pengolahan Akhir) sampah di Kelurahan Kapalo Koto, Payakumbuh Selatan,  hanya 40% dari timbulan sampah dimaksud. Sisanya,  60% sampah lagi, dikelola masyararakat, melalui  program bank sampah dan pengomposan di setiap sumber.

Faktor pendukung lainnya,  LH membuat program gerakan Payakumbuh Bersih, melakukan penilaian lingkungan ke kelurahan dan  sekolah secara diam-diam.  Kemudian, program Kota Sehat Payakumbuh yang sudah maju,  juga merupakan kunci sukses Payakumbuh yang diakui tim  penilai Adipura  pusat.

Berikutnya, tim penilai juga memberikan apresiasi terhadap program pengelolaan air bersih di kota ini. Sistem pengelolaan sumber air yang cukup bagus,   ditandai dengan  sungai yang bebas dari sampah dan limbah lainnya, memberikan nilai positif dalam perebutan Adipura.   Kemudian, juga ditunjang dengan peningkatan ruang terbuka hijau (RTH) untuk publik serta komitmen tinggi Walikota Riza Falepi bersama DPRD Payakumbuh, ungkap Syamsurial.

Tak Menyerah

“Jangan tanya soal fasilitas. Tapi, lihatlah semangat juang kami yang tak pernah menyerah dengan keterbatasan,” kata Kepala DTRK Elfi Jaya dan Kepala LH Syamsurial. Menurut kedua pejabat berkompeten ini, peran serta masyarakat dalam mengolah sampah di Payakumbuh cukup tinggi. Karena, sampah-sampah di tengah masyarakat telah diminimalisir jumlahnya, melalui program 3 R (Reduce, Reuse, Recycle). Disejumlah kelurahan dan banyak sekolah sudah memiliki bank sampah, dengan program 3 R.

Produksi sampah di pasar tradisional di Pasar Ibuah pun, juga tekan lebih sedikit lagi. Karena, pasar  sehat ini telah memiliki pabrik pupuk organik, yang bahannya terbuat dari sampah basah dan ampas unggas yang dipotong. Kompos olahan di pasar Ibuah ini, sudah mencapai 3 ton per bulan. Dengan total penerimaan buat PAD lebih kurang Rp7 juta/tahun.

Menyangkut armada atau truk sampah yang dimiliki DTRK saat ini, dikatakan Elfi Jaya, cukup minim sekali dibanding dengan total produksi sampah di Payakumbuh. “Kami sekarang ini baru punya 18 truk, dan mayoritas berusia di atas 10 tahun. Idealnya, minimal DTRK punya 25 truk. Kemudian, ditunjang dengan 22 becak motor yang mengambil sampah sampai ke daerah pemukiman yang memiliki gang-gang kecil, kata Elfi Jaya dengan semangat.(rel/dod)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*