3) NARASI HEY DI BILIK PIKIRAN TENTANG WAKTU, PEDANG, DAN UANG

Catatan: Pinto Janir (Sastrawan)

Advertisements

Rindu pada ibu dan kampung halaman menyasak dada HEY (H Erwin Yunaz) untuk kembali ke ranah Minang; ke kampung halaman yang ia cintoi. Sang kakak mengizinkan. HEY melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 3 Payakumbuh yang sekarang berganti nama menjadi SMA Negeri 2 Payakumbuh. Di sini HEY kembali bertemu dengan teman-teman semasa SD.

Kecerdasan sosial HEY memang sudah terasah sejak bocah. Ia pandai berkawan. Kawannya banyak. Orang suka berkawan dengan HEY karena HEY mengerti arti pergaulan dan paham makna persahabatan. Sejak SMA, HEY gemar berorganisasi. Banyak kawan suka berteman dengan HEY, karena HEY ‘seorang pendengar dan penyimak yang baik’. Kata kawan-kawan, HEY itu pribadi yang tidak egois. HEY itu pribadi yang suka membantu kawan-kawan.

HEY lulus SMA tahun 1990
Ia seperti berkontemplasi dalam kehidupan. Ia merenung. Ia berpikir. Ia merawat mimpi.
Kala itu, seperti lazimnya, kawan-kawannya sibuk mencari universitas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Apalagi, kawan-kawannya yang orangtuanya berduit tentu akan lebih memilih kuliah di luar propinsi atau kuliah di PTS favorit.

Hey, sepertinya sadar diri. Ia tahu, bahwa ia anak yatim. Walaupun kakak-kakaknya banyak yang sukses, namun Hey tak ingin membebani sang kakak. Kalau HEY mau, bisa saja HEY memilih kuliah di tempat mana yang ia mau. Ia tinggal bilang pada kakaknya. Tapi itu tak dilakukan HEY. Karena HEY ingin belajar hidup mandiri. Ia sadar; ia adalah lelaki. Lelaki minangkabau, sejatinya adalah lelaki yang kuat dan gagah. Tidak manja. Tidak cengeng. Dan tidak menjadi lelaki yang “lemah”.
Apalagi ketika terngiang di telinga HEY pesan sang ayah.

Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah baguno balun

Keputusan HEY adalah marantau!
Ya, ia merantau ke Jakarta. Ia ingin mengadu nasib di kota besar ini. Ia ingin bekerja. Ia susul sang kakak. Ia bantu usaha kakak ketiganya Haswan Yunaz yang bergerak di bidang percetakan. Ia konsen dalam kesungguhan. Padahal pada saat itu sang kakak bersikeras kepada HEY agar melanjtkan pendidikan dulu.Kuliah dulu. Tapi, sekali lagi Hey menolak. Ia ingin berkuras sendiri. Ia tak ingin dimanja. Ia ingin mencari sendiri. Ia ingin biaya kuliahnya dari hasil dan gaji sendiri.

Gaji bekerja di perusahaan kakak ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari gaji itu juga ia daftarkan diri untuk kuliah di Akademi Grafika. Sebuah pilihan yang sangat inovatif. Kepandaian grafis adalah kepandaian yang paling populer di abad ini !

Dunia grafis dunia seni. Dunia grafis adalah dunia garis dari rasa yang memicu kita untuk berpikir kreatif. HEY, kuliah sambil bekerja atau bekerja sambil kuliah. Siang ia kuliah. Pulang kuliah ia bekerja tanpa lelah. Hingga larut malam, Hey masih di percetakan. Di sela itu, ia masih mampu melaksanakan tugas-tugas kuliah.

“Waktu tak pernah lenyap. Ia tak akan pernah membeku atau membatu. Ia selalu ada. Yang membuat waktu itu tak ada adalah ketika kita lalai mengaturnya”, ujar Hey dalam narasi beraroma filsuf.

Sekarang saya percaya, salah satu yang membuat kita berhasil dalam mewujudkan mimpi adalah ketika kita pintar dan cerdas menata waktu. HEY, melakukan itu agaknya.

Ia kutip pepatah dari Timur. Waktu adalah pedang. Kemudian ia kutip pula pepatah dari barat; “Time is money!”.

Diberi tahu tentang waktu, sebagai seorang seniman saya hanya mengangguk-angguk. Tak tahu saya apa arti anggukan saya itu. Yang saya tahu, waktu saya adalah ketika bulan saya matahari dan matahari saya bulan. Saya kacau dalam soal waktu. Waktu saya waktu tak tentu. Yang tertentu bagi saya adalah ruang. Ruang tempat melaksanakan pikiran. Yang jelas, beri saya batas waktu. Niscaya, pas di batas itu; kerja saya pasti selesai. Saya tahu, pola hidup macam saya ini tak bagus. Tak berdisiplin dalam waktu. Tapi saya tidak kuasa, begitu kebiasaan saya sejak dulu. Itu bukan berarti saya mengulur waktu. Bagi saya “waktu” adalah “moody” atau suasana hati. Kalau suasana hati saya sedang bagus, waktu saya jadi rancak.

Tapi kepada HEY saya ingin belajar menghargai waktu dan tidak mengulur-ngulur waktu. Hey pernah berkata pada saya. “ Bang, apa yang membuat orang gelisah?”

Pertanyaan Hey itu saya diamkan.

“Mengapa abang diam?” Hey mendesak saya.
Saya tetap diam sambil menghembuskan asap rokok saya . Asap rokok itu dalam pikiran saya adalah lukisan abstrak. Karena, bagi saya hidup adalah susunan abstrak yang saya harap melukis realita!

“Bang, diam itu dua makna. Diam berpikir atau diam gelisah?” Hey memancing saya.

“Bang, salah satu faktor yang menyebabkan kegelisahan adalah ketika kerja menumpuk di waktu tinggal sedikit.Ketika kerja diulur-ulur. Ketika kita enggan menghargai waktu dan membiarkan waktu berlalu begitu saja. Bang, hidup itu adalah kajian disiplin. Kajian ketaatan. Taat waktu, taat beribadah”.

Hey membuat saya terkejut. Hey membuat saya tersadar. Hey membuat saya tahu bahwa saya harus “berdisiplin” dalam hidup. Tak lagi boleh tergantung suasana hati atau moody.

Itu hari saya mengucapkan terimakasih pada Hey yang telah mengingatkan saya dengan cara memola waktu! (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*