Limbah Aspi MTsN Cemari Lahan Pertanian

tinjau pencemaran limbahPadangpanjang, Padangtoday—Hampir 5 tahun belakangan, limbah asrama putri (aspi) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Padangpanjang mencemari lahan pertanian yang berada di belakang sekolah tersebut.

Advertisements

Salah seorang petani penggarap di kawasan pertanian belakang asrama MTsN tersebut, Armain Dt Tongga, 62, air limbah dari asrama dikatakannya sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanaman pertanian. Hal itu terlihat dari menyusutnya hasil panen padi miliknya mencapai hingga 80 liter padi.

“Sejak 5 tahun belakangan, pasokan air ke sawah telah bercampur limbah sabun cucian dan mandi penghuni asrama itu. Kami sudah pernah mengeluhkan hal ini, namun hingga sekarang belum tampak ada solusi yang akan dilakukan pihak MTsN,” ungkap Armain kepada Padangtoday baru-baru ini.

Wali Kota Padangpanjang, Hendri Arnis yang didampingi pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU), Lingkungan Hidup (LH) dan Dinas Pertanian (Distan) setempat saat melihat langsung kondisi lahan persawahan tersebut, meminta pihak Kementerian Agama (Kemnag) daerah berhawa sejuk itu untuk mencarikan jalan keluarnya.

“Kita harus segera mencarikan solusi yang terbaik agar limbah asrama tidak lagi mengganggu atau mencemari sawah itu. Pihak Pemko melalui dinas PU dan LH akan membantu pihak madrasah untuk mengambil tindakan sesegera mungkin,” tutur Wako Hendri usai melakukan pertemuan dengan pihak madrasah dan Kepala Kemnag Padangpanjang, Alizar Chan.

Kepala MTsN Padangpanjang, Edi Mardafuly membenarkan terkait limbah asrama yang mencemari aliran irigasi pertanian. Limbah tersebut berupa air sabun mandi dan cucian, serta air cucian dari dapur asrama. Namun demikian dikatakannya, madrasah memiliki dua tank penampungan limbah cair seperti itu sebanya dua unit sejak tahun 1988.

“Dua unit tank penampungan limbah cair asrama yang dibangun 1988 silam besar kemungkinan telah penuh. Sementara ini, pihak asrama menyalurkan air limbah melalui salurang yang bermuara pada aliran irigasi petani,” aku Edi di ruangan kerjanya kemarin.

Menyikapi kondisi yang diketahui sangat merusak hasil pertanian masyarakat tersebut, Edi menyebut pihak telah melakukan perencanaan pengendalian limbah dengan membangun tank penampungan baru di tanah pada sudut madrasah tersebut. Namun hingga saat ini belum terwujud karena kendala ketersediaan dana untuk membeli lahan milik masyarakat itu.

“Kami sudah berupaya mencarikan jalan keluar agar limbah tidak lagi mengalir dan mencemari aliran irigasi dengan membeli tanah seluas 50 meter, namun pemilik lahan hanya mau menjual dengan luas keseluruhan mencapai 400 meter. Karena kami tidak memiliki dana, maka Pak Walikota meminta kami untuk menyiapkan proposal permohonan bantuan dana dan akan diserahkan selambat-lambatnya sore ini (kemarin, red),” pungkas Edi. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*