5 Ketakutan Palsu

Ketakutan yang sebenarnya tak ada

Ketakutan yang sebenarnya tak ada

Advertisements

Jakarta, PADANGTODAY.COM- Anak-anak diketahui adalah makhluk yang jarang merasa takut. Tapi sebagai orang dewasa, kita malah  punya titik lemah akan ketakutan. Ada yang merasa takut ketinggian, menyelam, bahkan pada besar gelombang di lautan.

Belum lagi berbagai peristiwa kecelakaan akhir-akhir ini yang ramai diberitakan. Tapi jangan menyerah. Karena pada dasarnya ketakutan pasti bisa diatasi.   Bahkan kalau mau jujur ketakutan orang dewasa yang sering kali tak berwujud seringkali adalah ketakutan palsu.

Apa saja ketakutan palsu yang sebenarnya tak perlu ada itu. Berikut 5 ketakutan yang semestinya tak perlu muncul seperti di rangkum Huffington Post.

1. Merasa diri tak cukup baik

Ketika bicara soal kemampuan diri, seringkali kita sendiri yang menganggap diri sendiri kurang baik. Baik itu dalam hal pekerjaan maupun dalam hubungan pribadi. Kita selalu menjadi juara dalam hal mengkritik diri sendiri, seringkali karena kita merasa tak cukup baik melakukan sesuatu.

Tapi satu hal yang harus diingat adalah: tak ada seseorangpun yang sempurna — tapi ketidaksempurnaan tidak berarti kita tidak berharga. “Sebagai individual kita punya kekuatan yang luar biasa untuk memutuskan bahwa faktanya kita cukup baik,” Carolyn Rubenstein penulis bukuCarolyn RUbenstein on Psychology Today.  

“Anda adalah orang yang memiliki kunci untuk perasaan berharga diri sendiri, hal itu akan menentukan apa yang kemudian akan Anda lakukan. Untuk merasa berharga Anda harus percaya dulu bahwa Anda memang berharga.”

2. Ketakutan akan kehilangan atau melewati sesuatu.

Daripada sekadar tersiksa oleh perasaan ini, mengapa tidak berusaha saja untuk menikmati hidup Anda? Dengan  dominasi media sosial, kita seringkali merasa jadi orang luar dari kejadian-kejadian yang terjadi. Kita jadi sering merasa kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam suatu kejadian.

Namun perlu diingat bahwa ketakutan akan kehilangan kesempatan itu malah bisa menganggu hidup kita. Hal itu bisa mengakibatkan kecemasan, kesepian, dan lain-lainnya.

3.  Takut gagal

Kegagalan bukan fakta dalam hidup, dan perlahan-lahan kita akan menerimanya bukan ketakutan olehnya. Masalah akan berakhir, kondisi Anda juga akan membaik.

Fakta lainnya adalah tidak semua kegagalan itu adalah langkah yang buruk. Bahkan kemunduran atau kegagalan seringkali menjadi kesempatan untuk tumbuh dan berbuat lebih baik lagi. Pelukis Vincent va Gogh mengalami hal ini. Sepanjang hidupnya dia melukis lebih dari 900 karya selama 10 tahun. Namun dalam hidupnya dia cuma menyaksikan satu lukisan saja yang bisa terjual.

Demikian pula dengan Thomas Edison. “Saya bukan gagal 10 ribu kali, saya hanya menemukan 10 ribu cara yang sayangnya tidak berhasil,” kata Edison optimistis.

4. Takut hidup sendirian.

Seorang introvert yang senang menghabiskan waktu sendirian sebenarnya mendapatkan keuntungan. Psikoterapis dan penulis buku Ross Rosenberg mengatakan dalam kesendirian kadang kita malah bisa relaks dan menambah energi. “Anda bisa sendirian dan tetap merasa bahagia atau Anda bisa sendirian dan merasa kesepian,” kata Rosenberg.

Semuanya kembali ke pilihan Anda, merasa kesepian atau tidak Anda sendiri yang menentukan. Jadi berhentilah merasa takut akan kesendirian.

5. Takut tak diterima.

Ada lebih dari 7 triliun manusia di dunia, yang bermakna banyak sekali kemungkinan banyak orang akan merasa bisa akrab dengan Anda.

Hal yang penting dilakukan adalah menemukan orang-orang itu. Mereka yang bisa menghidupkan semangat ketika Anda merasa tidak mampu bertahan sendirian. Cara termudahnya adalah dengan mulai menerima diri sendiri.

“Perasaan diterima itu sangat baik, karena tanpa perasaan ini seseorang tak akan bisa berteman dengan siapapun di dunia ini,” kata Eleanor Roosevelt.

(utw/utw/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*