Pilgub, Dilema Pilihan Masyarakat Agam dan Piaman

Oleh

Yohanes Wempi

Pada siang kemarin Penulis berkumpul dengan tokoh muda Piaman Raya. Seperti biasa Kita diskusi atau “mahota” panjang lebar tentang negeri ini. Mulai dari cerita tentang Mbak Puan yang menyebut Propinsi Sumbar harus kembali mengikut negara Pancasila, serta efek pemilih terhadap Calon Gubernur Sumbar yang diusung Partainya.

Sampai cerita tentang banyaknya calon dari asa urang Agam, dan dari asa urang Piaman. Namun menurut salah satu ‘hotaa” ajoo bahwa yang akan manang tetap Walikota Padang, Buya Mahyeldi karena didukuang oleh urang sumando Piaman, Wakil Walikota Padang sekarang asli urang Padang yang akan otomatis jadi Walikota Padang. Dengan pasangan Mahyeldi adalah Audy asli Solok Raya, satu-satunya calon Kepala Daerah.

Dilihat dari peta kedaerahan yang ada memang asal kelahiran calon Gubernur ini banyak dari asa urang Agam seperti Jendral Fahkrizal, Mulyadi, Indra Catri, dan Mahyeldi. Saat ini ada pameo urang Agam yang penulis dengar diperantawan, katanya “mamiliah dak mamiliah urang Agam yang akan jadi Kepala Daerah Sumbar tetap urang Agam. Hehehe betul juga.

Maka kata mereka urang Agam, santai-santai saja lah, biar adil dibagi rata se suara urang Agam ini. Pilkada 2020 saat ini, Penulis memang angkat topi sama urang Agam, panen tokoh Pilkada, urang Agam otomatis jadi Kepala Daerah Sumbar.

Lain lagi Piaman Raya nasibnya, bahwa yang jadi calon ada urang sumando asli Sungai Limau, Jendral Fahkrizal dan wakilnya jika tidak berubah Genius Umar. Ada juga Ali mukhni yang berpasangan dengan Mulyadi. Namun nasib urang Piaman agak beda dengan Agam. Jika mau menang maka urang Piaman harus wajib memberikan suaranya kepada salah satu calon asli Piaman, jika tidak maka putra Piaman dak akan tapiliah satupun jadi Kepala Daerah Sumbar nanti.

Secara kepentingan dalam Pilkada Sumbar saat ini urang Piaman serba dilematis, kalau ditiru gaya urang Agam jadi penonton tidak bisa karena calon putra Piaman hanya 2 paket pasangan calon. Jika dianggap ada satu paket lagi yaitu pasang Mahyeldi-Audy hanya mendapatkan bonus, urang sumando Piaman menjadi Walikota Padang yang merupakan menantu Leo nardi urang sumando Anas Malik, Bupati Padang Pariaman yang fenomenal.

Mau tidak mau urang Piaman sekarang berada di persimpangan jalan, mau memilih totalitas salah satu calon karena ada dua putra Piaman tidak akan mungkin. Bisa ribut-ribut dilapangan dan masing-masing calon punya basis di Piaman, pecah juga suara ini. Kalau memilih paket yang lain yang hanya dapat bonus saja yaitu Wakil Walikota Padang jadi Walikota.

Maka dilema urang Piaman ini perlu diselesaikan secepatnya. Penulis urang Piaman melihat karena suara urang Piaman sudah pecah maka dimohon kepada urang Piaman tetap kompak mendukung ke salah satu calon yang banyak memiliki kebaikan dan maanfaat terhadap pembangunan Piaman kedepan. Dan besar peluang menang tapi masih ada usur sangkut paut Piamannya.

Secara keorganisasian PKDP bahwa jika banyak Calon Gubernur atau Wakil Gubernur berasal dari urang Piaman maka organisasi PKDP netral. Kepada urang Piaman pilihlah calon Kepala Daerah berdasarkan hati nurani yang bisa memperkuat persatuan untuk Sumbar sejahtera dan memberi manfaat terhadap nagari ini.

Namun pilihan urang Piaman hanya tiga saja menurut penulis yaitu memilih Jendral Fahkrizal-Genius, Mulyadi-Ali Mukhni, atau memilih Mahyeldi-Audy yang nanti urang sumando Piaman Hendri Septa jadi Walikota Padang yang merupakan menantu cucu Anas Malik, Mando Leo Nardi[*].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas