Anak Sekecil Itu Begelut Dengan Waktu

Keluarga Asnimar Ketika Dikunjungi Oleh Pemerintah Padangpariaman

Advertisements

Padang-today.com__Anak sekecil itu bergelut dengan waktu demi mempertahankan kehidupan keluarganya yang terbelenggu dalam garis kemiskinan. Kemiskinan salah satu memutus mata rantai pendidikan dalam suatu keluarga.

Sebut saja Asnimar (36) janda warga Korong Duku Banyak, Nagari Balah Aia, Kecamatan VII Koto Sei Sariak, Kabupaten padangpariaman-Sumbar menghidupi 7 anaknya dengan hasil mengumpulkan barang bekas (pemulung) bersama 3 orang anaknya yang putus sekolah.

Kemiskinan tidak kunjung lepas dari keluarga Asnimar, sudah dua tahun ia bergelimang sebagai pemulung demi kelangsungan hidup keluarganya. Janda 7 anak ini ditinggal mati oleh suaminya, sehingga terpaksa ia tinggal dengan berlantaian tanah dan berdinding kardus dari hasil memulung.

Dengan pendidikan yang bisa memutus rantai kemiskinan di dalam suatu keluarga, karena itu bersekolahlah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, kata bijak ini sering didengungkan oleh penyelenggara pemerintah. Namun, bagi keluarga Asnimar tak membuat ia gamang degan kata bijak tersebut.

Sebut saja Deden (12) dengan semangat bergegas untuk bangun dari tidurnya demi membantu ibunya mengais rezeki sebagai pemulung di pagi hari untuk mempertahankan kehidupannya yang malag itu. Anak sekecil itu tidak sempat menikmati waktu seperti teman-teman sebayanya yang hidupnya tergolong mampu.

“ Iyo awak ndak sakolah doh, awak mambantu amak untuk makan keluarga, awak jago pagi pukua 05.30 WIB mandorong becak” ungkap Deden.

Setiap harinya, Asnimar mengais rezeki di tumpukan sampah bersama anaknya dengan mengayuh becak mencari barang bekas yang di dapat dari hasil jerih payahnya selama ini. Sesekali Asnimar dibantu mendorong becak oleh dua anak tertuanya yang sudah berumur 12 tahun dan 13 tahun. Hasil mulung di jual ditempat penampungan barang bekas di Simpang Jaguang, Pariaman.

Asnimar mengais rezeki biasanya pukul 05.30 WIB dengan mengandalkan becak dorong yang dibantu kedua orang anakya yang tertua dari tujuh bersaudara. Dengan panas dan hujan dilalui oleh janda ini, namun ia tetap tegar untuk mempertahankan kehidupanya.

“Kalau tidak memulung, darimana kami bisa makan. Biasanya jam 05.30 WIB sudah berangkat. Nanti siangnya sudah pulang untuk menyiapkan makan anak-anak,” ungkapnya.

Setelah mengais rezeki sebagai pemulung menjelang sore, Asnimar berkumpul dengan keluarganya sambil memberi makan anaknya yang 7 orang tersebut. Asnimar hanya bertemanan dengan ruang terbuka yang beratapkan langit. Soalnya, tempat ia tinggal dan tidur sehari-harinya hanya mengandalkan dinding terpal dan kardus bekas.

Ketujuh anaknya ini dengan asiknya bermain tanpa mengenakan alas kaki sambil menunggu nasi yang dimasak oleh ibunya untuk makan malam. “ Saya memasak nasi untuk anak-anak saya apabila ada beras yang untuk dimasak. Kalau tidak ada beras kami hanya memakan mie, dan itupun kalau ada rezeki dari memulung,” kata Asnimar.

Asnimar memandang anaknya makan seadanya tanpa lauk pauk, dengan garam beryodium sudah cukup untuk menyantap nasi bagi anak-anaknya yang malang itu. “Meski tanpa lauak kami sekeluarga tetap lahap menyantap makanan ini” ungkap Asnimar.

Tidak hanya mulung, selepas menanak nasi, biasanya Asnimar juga mencari kayu bakar. Hasil yang didapat juga tidak begitu besar. “Kadang kalau ada rezeki, bisa dapat Rp 40 ribu hasil dari mulung dan mencari kayu. Alhamdulillah bisa untuk makan sehari-hari kami,” terangnya.

Ia mengatakan, demi mencari sesuap nasi, terkadang hujan dan panas terik matahari mesti dilalui bersama Azizah, anaknya yang baru berumur 1,7 tahun. Bahkan, saat mulung, dirinya pernah ditabrak kendaraan di jalan karena mencari plastik bekas pada malam hari. Lagi-lagi hal itu tidak mengahambat semangatnya dalam memenuhi kebutuhan ketujuh anaknya yang sudah dua tahun menjadi yatim.

Malamnya kondisi keluarga ini juga semakin memprihatinkan. Dengan hanya bermodalkan terpal yang diikat ke pohon kelapa, keluarga ini tidur beralaskan kardus.”Azizah saya tidurkan di atas becak mengingat masih terlalu kecil dan tidak baik bergolek bebas di atas tanah. Saya bersama enam anak saya tidur di atas tanah beralaskan kardus bekas. Kadang kalau hujan, kami basah,” ujarnya.

Ironisnya, dua anaknya, Marlianis (6 ) dan M. Jamil (8) menderita gizi buruk. Namun, dirinya masih tetap bersyukur pada Allah karena masih bisa makan dan hidup bersama ketujuh orang anaknya.

Dari ketujuh anaknya, hanya dua orang yang mengenyam pendidikan. Anak sulungnya saat ini sekolah di SDLB Balai Baru kelas VI. Sementara anak keduanya, Anisa Nuraini baru menginjak sekolah dasar Kampung Paneh kelas satu.”Yang lainya belum sekolah dan setiap hari selalu saya bawa untuk mencari plastik bekas menggunakan becak,” kata dia.

Asnimar menjelaskan, tidur tanpa atap, tanpa dinding dan tanpa lantai sudah dijalaninya sejak empat bulan belakangan. Sebelumnya, ia sempat menumpang di pekarangan rumah warga.

Sebelum suaminya meninggal dua tahun lalu, Asnimar sempat merasakan hidup layak. “Suami saya waktu itu menjahit. Alhamdulillah layak lah, dan ngontrak rumah,” katanya.

Meskipun kehidupan Asnimar dan anaknya jauh dari standar, tapi dia sama sekali tidak mengeluh, apalagi sampai minta-minta. Ibu tangguh ini menyampaikan dirinya tidak bisa berharap banyak pada pemerintah.”Jika ada bantuan rumah kecil syukur alhamdulillah. Kalau tidak, saya tetap ikhlas jalani ini dengan anak-anak saya,” katanya.

Dari kondisi kehidupan Asnimar itu, masih ada beberapa tetangga darinya untuk membagi kasih dengan memberikan bantuan makanan. Namun, bantuan tersebut hanya sementara.”Tentunya tidak setiap hari karena kehidupan kami juga sulit,” kata Asnimar. (sg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*