Annisa Aulia: Bencana Dunia, Tanggung Jawab Kita

teropong-(11)

Advertisements

Padang, PADANGTODAY.com-Kurun waktu dalam dua minggu ini, layar pemberitaan berbagai media dipenuhi wajah Ibu Kota Nepal, Khatmandu, yang mengalami bencana Gempa Bumi berkekuatan 7,9 SR pada Sabtu (25/4) lalu.

Tak ayal juga, bagaimana berbagai pihak menganalisis musibah yang terjadi di negeri timur ini dalam berbagai perspektif. Dari sudut geografis, Nepal dikondisikan sebagai daerah yang patahannya rawan gempa. Dari perspektif konsep bangunan, Nepal dikategorikan memiliki tata kota yang masih bertahan dengan bangunan kuno, sehingga rentan terhadap kerusakan.

Dan teranyar, spekulasi yang muncul dari segi religius. Banyak versi berita yang mengaitkan kebencanaan Nepal dengan adzab dari Sang Pencipta.

Gempa Nepal dianggap sebagai Adzab Allah yang ditimpakan di negeri yang minoritas muslim tersebut. Isu-isu mengenai upacara keagamaan dengan ritual pembantaian ribuan hewan untuk persembahan Dewa, marak dipublikasikan untuk mengaitkan dengan musibah yang mereka terima.
Tanpa sadar muslim turut menghujat, mengadili dengan persepsi sendiri. Mendahului pengetahuan akan rencana Tuhan terhadap musibah yang Ia timpakan di negeri yang hanya dihuni 4% pemeluk Islam tersebut.

Dan ini merupakan kesyirikan dalam Islam. Menghujat tanpa menyusuri kebenarannya. Jika mengaku muslim, ajaran islam mengarahkan kita untuk mengecek valid tidaknya suatu berita (Tabayyun).
Isu mengenai pembantaian ribuan hewan tersebut merupakan festival keagamaan di Nepal. Festival ini dinamakan Ghadimai, yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Terakhir pelaksanaannya yakni pada tahun 2009 dan 2014.

Sebagai muslim penyebaran informasi mengenai isu ini dianggap tidak bijak. Sebab, sebagian besar pemberitaan memaparkan bahwa gempa terjadi berselang beberapa hari setelah pembantaian ternak ini. Padahal, kebenarannya, festival keagamaan ini dilaksanakan pada tahun lalu, tepatnya akhir 2014.

Pemberitaan yang mengaitkan musibah gempa Nepal dengan azab Allah ini akan membuat penduduk yang dikategorikan negara non-Islam ini menjadi antipati terhadap Islam.

Apakah ini ajaran Islam? Bukankan Nabi Muhammad SAW saja mengirimkan doa-nya untuk pelaku kesyirikan penduduk thaif yang sudah mengusir beliau secara hina? Ini juga akan memicu kebencian mereka terhadap islam. Padahal, sikap ini jelas tertuang larangannya dalam kitab suci Al-Quran :
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-‘An`ām : 108)

Agama Islam adalah kasih sayang dan cinta sesama, bukan menghujah, tapi membantu. Itu yang selalu dilandaskan dalam islam. Sebaik-baiknya muslim adalah yang memberi manfaat bagi sesama. Islam adalah agama yang loyal untuk aktivitas sosial.

Dompet Dhuafa, lembaga swadaya masyarakat yang berbasiskan islam. Bahkan, untuk pengajuan rujukan bantuan, Dompet Dhuafa Singgalang menekankan pembatasan untuk mustahik perokok. Kita bisa lihat sendiri kerugian dari konsumsi rokok. Candu, penyakit, kemiskinan, dan bahkan berefek moral dari kebiasaan merokok. Hal ini ditujukan semata-mata untuk menanamkan nilai kebaikan bagi mustahik bahwa merokok hanya berefek negatif.

Islam melarang segala bentuk kegiatan merusak diri, namun selalu menekankan menebar manfaat bagi sesama. Berbasis hal itu, Dompet Dhuafa langsung tanggap bencana terhadap kabar duka yang diterima dari negeri jiran, Nepal, tanpa memandang latar kehidupan sosial negara tersebut.

Dua hari berselang dari musibah Nepal, lewat Damage Management Center (DMC), Dompet Dhuafa menerbangkan bala bantuan untuk Nepal. Dan hingga sekarang masih membuka donasi rekening khusus untuk kebencanaan dunia, tanpa peduli isu-isu SARA yang mengaitkan ke-non-islaman Nepal.
Beginilah sikap muslim seharusnya. Untukmu Agama-mu, Untukku Agama-ku. Hakikatnya adalah tidak mengganggu keyakinan orang lain. Tapi bukan berarti kita juga mengabaikan fungsi sosial kita untuk peduli atas duka.

Lupakah kita, saat bencana di tanah air? Saat gempa Padang, Tsunami, Longsor, dan bencana Indonesia lainnya. Siapa yang membantu kita? Apa kita bisa bangkit sendiri tanpa bantuan negara tetangga? Manusia sebagai makhluk sosial, lumrahnya akan selalu membutuhkan orang lain.

Lewat segala macam musibah yang terjadi di dunia, semoga akan selalu mengingatkan kita untuk saling menunjukkan peduli kita, bukan melihat dari perspektif negatif. Biar Tuhan saja yang tahu, tujuan apa yang hendak Ia sampaikan lewat segala macam musibah, dan tugas kita hanyalah melakukan amal bakti penuh kasih sayang antar sesama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*