Badan Pusat Statistik Mencatat Penurunan Impor Pada Februari Jika Dibandingkan Periode Sebelumnya

Ilustrasi

Ilustrasi 

Advertisements

PADANGTODAY.COM – Badan Pusat Statistik mencatat penurunan impor pada Februari 2015 jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Impor mengalami penurunan USD 11,55 miliar atau 16,24 persen.

Secara keseluruhan, impor migas mengalami penurunan. Namun jika dilihat lebih detail, yang menurun hanya impor minyak. Sedangkan impor gas sebaliknya, justru mengalami kenaikan. “Impor gas meningkat sebesar 16,49 persen,” ujar Kepala BPS Suryamin di kantornya, Senin (16/3).

Kondisi ini tentu kontraproduktif jika mengacu pada pengakuan Indonesia sebagai negara yang kaya akan gas. Bukan tanpa alasan Indonesia tetap mengimpor gas.

Kandungan gas dalam negeri bentuknya Liquid Natural Gas (LNG) yang terdiri methana (C1H2) dan ethana (C2H4). Gas jenis ini yang banyak diekspor. Indonesia masih doyan impor lantaran membutuhkan gas bentuk Liquified Petroleum Gas (LPG) yang komponennya berupa propana (C3H6) dan butana (C4H8). Gas ini yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Dari catatan BPS, impor migas Februari 2015 mengalami penurunan sebesar 18,7 persen dibanding Januari 2015 atau month to month. Sedangkan untuk untuk nonmigas pada Februari 2015 turun 6,34 persen.

“Impor minyak mentah turun sebesar 19,7 persen. Demikian juga untuk impor hasil minyak turun 22,01 persen,” tuturnya.

Jika dilihat secara bulanan, total impor pada Februari 2015 juga turun 8,42 persen dibandingkan Januari 2015.

“Mudah-mudahan ini karena upaya penekanan impor kemudian ekspor digenjot dan bisa terjadi penurunan,” kata Suryamin.

Suryamin memaparkan data impor Januari-Februari 2015 yang tercatat USD 24,16 miliar. Nilai ini turun 15,83 persen secara yoy atau dibanding Januari-Februari 2015.

“Untuk impor nonmigas Januari-Februari 2015 sebesar USD 20,33 miliar, turun 6,32 persen (yoy),” tuturnya.

Impor terbesar masih didominasi mesin dan peralatan mekanik, sedangkan impor mesin dan peralatan listrik menyumbang share USD 2,58 miliar turun 15,14 persen.

“Impor nonmigas terbesar datang dari China dengan USD 5,20 miliar. Naik 5,44 persen. Kedua impor dari Jepang USD 2,43 miliar. Ketiga impor Thailand USD 1,34 miliar. Penurunannya 11,16 persen,” ucapnya.

Untuk impor nonmigas dari ASEAN sebesar USD 4,21 miliar (20,73 persen), dan impor nonmigas dari Uni Eropa USD 1,77 miliar (8,69 persen).

(noe/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*