Bagaimana Pekerjaan Kita Dimasa Depan?

Ilustrasi manusia dengan robot pekerja masa depan.

Ilustrasi manusia dengan robot pekerja masa depan.

Advertisements

PADANGTODAY.COM-Bayangan “mengerikan” akan sebuah kekalahan pamungkas, dari perjuangan bertahun-tahun menghadapi guru-guru yang tak mau mengerti, teman-teman yang sibuk dengan diri sendiri dan beberapa hubungan percintaan yang kandas. Perjuangan yang kita kenal dengan nama: sekolah.

Bayangan seram itu ditampilkan dengan jujur dalam lagu Sarjana Muda, salah satu karya legendaris Iwan Fals. Bayangan bahwa perjuangan bertahun-tahun di bangku sekolahan kemudian tak membuahkan hasil yang diharapkan. Tiada lowongan, untuk kerja yang didambakan.

Ibu dan Ayah melakukan segala cara untuk anak-anak mereka, mengorbankan banyak hal untuk mengirim anak-anak ke sekolah-sekolah. Kalau bisa, ke sekolah yang terbaik. Kalau tidak? Ya, yang terbaik di antara yang bisa diraih.

Maka bayangan itu menjadi mimpi buruk. Mimpi buruk yang kadang masih menghantui entah berapa ratus ribu angkatan pencari kerja setiap tahunnya.

Mereka yang beruntung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, yang kurang beruntung setidaknya tetap mendapatkan pekerjaan, yang belum mungkin akan berusaha lagi.

Gambaran proses pencarian kerja yang sulit itu masih terasa sejak “Sarjana Muda” muncul di awal 1980-an sampai saat ini, 30-an tahun kemudian.

Bukan kebetulan kalau Sarjana Muda menjadi judul album Iwan saat itu. Album yang sama yang memuat lagu-lagu “abadi” seperti Oemar Bakri, Hatta, 22 Januari dan Yang Terlupakan (atau populer dengan julukan Denting Piano).

Lawan Iwan dalam lagu Sarjana Muda dulu adalah lawan yang masih dihadapi Indonesia saat ini “ketimpangan dan ketidakadilan”.

Entah Iwan bisa menebak atau tidak, di masa depan bisa jadi muncul lawan baru yang bakal merebut pekerjaan dari para “sarjana muda”. Lawan baru itu adalah robot, komputer dan kecerdasan buatan.

Film yang belum lama ini tayang di bioskop-bioskop Tanah Air, Avengers: Age of Ultron, menampilkan apa yang terjadi jika kecerdasan buatan yang dirancang untuk melindungi manusia justru hendak memusnahkan manusia.

Hollywood pun seperti punya obsesi tersendiri atas tema itu, mulai dari seri Terminator atau film legendaris Stanley Kubrick bertajuk 2001: A Space Odyssey.

Martin Ford, dalam buku Rise of The Robots, berargumen bahwa meningkatnya teknologi robotik dan kecerdasan buatan bisa menghapus berbagai pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh manusia.

Benih-benih ini sebenarnya sudah bisa diamati di negara-negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, bidang pertanian pernah mencapai 80 persen dari pekerjaan yang ada di tahun 1800-an. Kini, tak sampai 2 persen, karena sudah tergantikan oleh mesin.

Namun perubahan yang akan datang ini berbeda cukup drastis dari sekadar mekanisasi dan industrialisasi pertanian. Kecerdasan buatan bisa menggantikan pekerjaan yang selama ini masih mengandalkan manusia.

Lembaga pemberitaan, misalnya, sudah menerapkan “robot” alias program komputer untuk menggantikan kerja reporter di bidang tertentu.

Tepatnya, hal ini dilakukan Associated Press pada Juni 2014 dengan memanfaatkan teknologi dari perusahaan bernama Automated Insights untuk menulis berita dari laporan keuangan.

Tentu, masih ada batasan akan apa yang bisa dilakukan oleh peranti lunak. Manusia masih harus terlibat dalam penulisan berita pada umumnya.

Ford, dalam wawancara dengan Wired, mengatakan pekerjaan yang bakal digantikan oleh robot bukan hanya dari tipe keahlian rendah tapi juga untuk mereka yang, seperti lagu Iwan, empat tahun lamanya bergelut dengan buku alias para sarjana.

Ford mengatakan, ada jenis-jenis pekerjaan yang sudah bisa diprediksi hasilnya. Inilah jenis pekerjaan yang bakal tergantikan. Tak hanya sebatas lulusan sarjana umum, bahkan sarjana profesi pun tak lepas dari “ancaman” ini.

Kesannya memang kabar buruk. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan manusia bakal digantikan oleh robot, komputer dan kecerdasan buatan.

Namun Ford justru melukiskan masa depan itu sebagai sesuatu yang menggembirakan. Menurutnya, sistem ekonomi di masa depan bakal berubah drastis.

Ia melihat akan adanya pemasukan standar bagi “semua orang”, sebuah jaminan penghasilan yang diberikan untuk seluruh warga masyarakat. Lalu, bagi mereka yang mau menghabiskan waktunya untuk belajar dan kuliah, akan ada pemasukan lain di luar itu.

Jaminan penghasilan yang dibayangkan Ford akan memberikan “modal” bagi warga masyarakat untuk bisa melakukan hal-hal yang lebih seru. Kewirausahaan, menurutnya, justru bakal meningkat.

“Orang bilang adanya jaminan penghasilan akan menjadikan orang pemalas dan merusak tatanan ekonomi. Saya pikir justru sebaliknya, hal itu akan mendorong kita untuk semakin getol berwirausaha dan mengambil risiko,” tuturnya.

Sebuah studi yang dibuat PEW Internet, Agustus 2014 lalu, mengutip pandangan optimistis dari Vint Cerf, salah satu “Bapak Internet Dunia” yang menjabat VP dan Chief Internet Evangelist Google.

Menurut Cerf, sepanjang sejarah, teknologi terbukti menciptakan pekerjaan lebih banyak dari yang dihapuskannya. Setidaknya, kata Cerf, kan harus ada orang yang membuat dan merawat robot-robot tersebut.

Masih dari studi yang sama, Jonathan Grudin, peneliti di Microsoft, mengatakan bahwa pekerjaan akan selalu ada demikian juga dengan pengangguran. “Ketika (populasi manusia) mencapai angka miliaran, ada miliaran pekerjaan juga yang tersedia. Kita tidak kekurangan hal-hal yang perlu dikerjakan, hal itu tak akan berubah,” tuturnya.

John Markoff dari New York Times juga punya pendapat mirip, meskipun ia sebenarnya tak berani membuat prediksi karena kenyataan selalu sulit untuk diramalkan. Namun ia mencontohkan: “Coba kita mundur 15 tahun ke belakang, siapa yang mengira bahwa search engine optimization akan menjadi kategori pekerjaan yang signifikan?”

Sementara perdebatan terus terjadi, di pinggir jalan para “sarjana muda” terus melangkah dengan langkah gontai tak terarah, keringat bercampur debu jalanan.

Fakta bahwa pekerjaan saat ini pun terasa sulit untuk didapatkan tak perlu ditekankan lagi. Nah, kalau sekarang saja sudah sulit, bagaimana nanti?

Beberapa perkembangan robotik menunjukkan cikal-bakal pekerjaan yang bisa digantikan oleh kecerdasan buatan.

Agustus 2014, robot yang mampu memasak burger layaknya manusia dipamerkan. Robot ini menandai sebuah langkah maju karena menampilkan kelihaian tangan (melempar dan membalik daging burger di atas pemanggang) yang sebelumnya tak dimiliki robot.

Google sudah cukup lama memamerkan mobil yang bisa berjalan sendiri. Bayangkan kalau digunakan untuk, misalnya, taksi. Bahkan Daimler sudah mendemonstrasikan truk yang bisa mengemudikan dirinya sendiri, dengan potensi untuk menghilangkan pekerjaan sopir truk.

Robot yang bisa memperbaiki dirinya sendiri pun sedang dikembangkan. Meminimalkan pekerjaan manusia untuk perawatan rutin.

Mark Nall, program manager di NASA, mengatakan perubahan yang terjadi akan berbeda dengan mekanisasi pertanian. Pendorong utamanya, kata Nall, adalah efisiensi ekonomi. Dampak sosialnya, bahwa pekerjaan dengan gaji layak akan semakin jarang.

Dari ucapan Nall itu mungkin kita bisa melihat kata kuncinya. Masalah yang ada di dunia kerja saat ini pun demikian, bukannya tidak ada pekerjaan sama sekali, tetapi pekerjaan dengan gaji layak. Itu kan yang sulit dicari?

Seperti kata Iwan, bukan sekadar tidak ada lowongan, tapi tiada lowongan untuk kerja yang didambakan.

Hal yang sesungguhnya akan terjadi nanti memang masih belum jelas. Apakah benar pekerjaan akan menghilang, dan semua orang kemudian bisa mendapatkan “jaminan penghasilan”, seperti yang diimpikan Ford?

Atau di sisi lain, robot, komputer dan kecerdasan buatan akan dikuasai para pemilik modal untuk semakin menguatkan posisi mereka?

Atau bahkan seperti yang ditakutkan Stephen Hawking, Elon Musk, Bill Gates dan kawan-kawan, bahwa kecerdasan buatan bakal melampaui kecerdasan manusia?

Pilih sendiri prediksi Anda. Karena saya, terus terang, belum berani membayangkan.

(wh/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*