Bangun Perumahan, Warga Palolok Keluhkan Masalah Air Limbah

Warga RT 5 RW 3, Kelurahan Campago Ipuah Palolok, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi saat melakukan pembersihan air limbah.

Warga RT 5 RW 3, Kelurahan Campago Ipuah Palolok, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi saat melakukan pembersihan air limbah.

Advertisements

Bukittinggi, PADANGTODAY.com – Beberapa orang kepala keluarga yang tinggal di Jalan Haji Miskin RT 5 RW 3, Kelurahan Campago Ipuah Palolok, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi hingga saat ini masih merasakan ketidaknyamanan.

Pasalnya  warga yang tinggal tepatnya disebelah Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota bukittinggi ini merasa dirugikan oleh ulah seorang pengembang atau developer perumahan yang membangun disekitar lingkungan mereka tinggal.

Suyerman, salah seorang warga menuturkan kepada PADANGTODAY.com bahwa pihak developer ini telah sewenang-wenang dalam mendirikan bangunan tanpa memperhatikan keadaan disekelilingnya sehingga dampaknya merugikan warga yang telah lebih dahulu menetap dilokasi itu.

“Sang pemilik tanah DH dalam membangun disekitar tempat tinggal warga, tidak memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) bagi warga sekitar dan kondisi seperti ini telah berlangsung selama tiga tahun terakhir,“ ujarnya.

Dari dampaknya ini Suyerman menambahkan sangat dirasakan sekali oleh warga, karena tidak adanya sumur resapan disekitar bangunan yang menampung sirkulasi air. Terutama jika musim hujan datang selain debit air yang melimpah karena tidak adanya sumur resapan, air selalu menggenangi rumah warga hingga mencapai ketinggian satu meter dan meluap ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang berada tepat dibelakang perumahan warga.

Menurut Suyerman, setelah izin mendirikan bangunan dikeluarkan oleh Dinas KPPT dan bagian Tata Ruang Dinas Pekerjaan Umum, mereka dengan seenaknya meninggikan badan jalan dan membangun tembok tinggi didepan rumah warga, yang mengakibatkan setiap musim hujan rumah warga digenangi rembesan air bercampur dengan lumpur.

Pada kesempatan sebelum bangunan ini didirikan tambah Suyerman lagi, seluruh kepala keluarga yang terimbas air limbah itu telah melakukan pendekatan kekeluargaan pada developer, tingkat RT dan RW, memprotes ke Dinas Pekerjaan Umum Bidang Tata Ruang, mempertanyakan permasalahan izin ke Dinas KPPT, hingga mengadukan permasalahan ini ke DPRD Bukittinggi. Namun kenyataannya hingga sekarang belum ada tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan itu. (doni)