Beburu Keberkahan Corps Da’i Dompet Dhuafa Singgalang

Teropong-(1)
PAdang, PADANGTODAY.com-Tanpa terasa Ramadhan sudah seminggu lebih kita jalani. Mengawali tulisan ‘teropong’ yang diamanahkan kepada saya ini, izinkan saya memanjatkan doa agar kita dapat menjalani Ibadah di Bulan Ramadhan ini dengan maksimal, serta diterimanya segenap amalan kita di sisi Allah Ta’ala. Aamiin.

Advertisements

Semua orang mungkin sudah sering mendengar dalil di bawah ini. Dalil shahih yang penuh makna dan menjadi andalan mengiringi Ramadhan tiba mengenai puasa, sholat malam (tarawih), serta ZISWAF (Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa berpuasa ramadhan imanan wahtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa shalat pada Lailatul Qadar imanan wahtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Menurut al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah, “Maksud iman di situ adalah keyakinan dengan kebenaran kewajiban puasa padanya. Sedangkan ihtisaban, meminta pahala dari Allah Ta’ala.”

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22).

Sementara menurut Imam al-Khathabi rahimahullah: “Ihtisab maknanya ‘azimah, yaitu dia berpuasa dengan berharap pahalanya dengan memperhatikan kebaikan bagi dirinya tanpa memberatkan pada puasanya dan tidak pula memperpanjang hari-harinya.” (Fathul Baari: 6/138 dari Maktabah Syamilah)

Menurut Imam Nawawi rahimahullah, makna iman: membenarkan bahwa dia itu benar dan berharap keutamaannya. Sedangkan makna Ihtisaban, dia berharap kepada Allah Ta’ala semata, tidak berharap penilaian orang dan harapan-harapan lain yang menyalahi ikhlas. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, no. 1266)

Pengertian dari kata ‘imanan wahtisaban’ sebenarnya telah cukup jelas untuk kita fahami. Namun saya tertantang untuk mencari tahu lebih dalam arti ihtisaban. Ada sesuatu dibalik kata ini – yang secara umum diartikan mencari pahala – sebagaimana tersebut di atas.

Jika ditimbang, kata ihtisaban berasal dari akar kata hasiba (menghitung), setara dengan fatiha (Al-fatihah), yang kemudian membentuk iftitahan. Dari sini kemudian banyak orang mengenal iftitah yang sering dimaknai pembukaan, seperti doa iftitah, yang artinya doa pembukaan untuk sholat.

Dengan demikian ihtisaban / ihtisab dapat diartikan sebagai perhitungan atau kalkulasi, yang kemudian dimudahkan bahasanya menjadi mencari pahala. Jadi ihtisaban maksudnya penuh perhitungan atau kalkulasi dalam mencari pahala. Hal ini diperkuat dengan dalil, bahwa berbuat kebaikan di bulan ramadhan dilipatkan, demikian juga dengan berbuat jelek, juga dilipatkan. Tentunya dengan perhitungan akal sehat, orang akan memilih berbuat baik daripada berbuat jelek di bulan ramadhan ini.
“Maka berhati-hatilah kalian pada bulan Ramadhan, sesungguhnya kebaikan & kejelekan dilipatgandakan (pahala/dosanya)” (HR.Tabrani)

Lantas akankah bulan Ramadhan yang sudah kita jalani ini berlalu begitu saja, tanpa adanya ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf) terbaik kita..?.

Seiring dengan tagline nasional Dompet Dhuafa, Ambil Berkahnya, kami menghimbau pada masyarakat, selamat melatih diri, berlomba-lomba dalam berburu keberkahan. Semoga kita bisa sukses melatih diri dengan 5 (lima) sukses Ramadhan; sukses puasanya, sukses tarawihnya, sukses tadarusnya, sukses ZISWAFnya dan sukses lailatul qodarnya. Semoga dengan begitu kita bisa mengambil eberkahan Ramadhan. Aamiin (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*