“Berdaya Bersama” Musfi Yendra Branch Manager Dompet Dhuafa Singgalang

Musfi Yendra Branch Manager Dompet Dhuafa Singgalang.

Musfi Yendra Branch Manager Dompet Dhuafa Singgalang.

PADANG, PADANGTODAY.com-Beberapa hari lalu saya dan tim mengunjungi salah satu rumah penerima manfaat Dompet Dhuafa Singgalang di Padang. Sebuah rumah tak layak huni. Papan dan triplek bekas yang disusun. Hanya terdapat satu jendela bertirai kain yang mulai kusam.

Di sekitar rumah bertumpukan barang rongsokan. Sampah berserakan, sisa bawaan hujan. Jika hujan datang dipastikan depan rumah akan dilewati air yang merembes dari jalan raya Bypass. Banjir dan becek melengkapi lingkungan rumah.

Namun di rumah itu terdapat depalan orang bermukim. Orang tua dan enam anaknya. Si Bapak, kepala keluarga menyambut dengan ramah di depan pintu. Senyum sumringah wajah tuanya seolah tanpa beban. Kami datang membawa sekarung beras, minyak goreng, telur dan ikan kaleng. Amanah donatur yang membayarkan fidyah. Cukup untuk makan seminggu bagi keluarga itu.

“Minggu depan anak bapak wisuda”. Ucap si bapak spontan. Saya haru mendengarnya. Si anak perempuannya akan wisuda di perguruan tinggi negeri terbaik di provinsi ini. Penantian orang tua seorang anak menjadi sarjana itu di antara puncak kebahagiaan. Tak hanya satu orang yang kuliah. Tiga orang lainnya juga sedang menuntut ilmu.

“Dengan kondisi ini, kami tetap sekolahkan anak hingga sarjana. Itulah tempat usaha bapak. Menempel ban mobil dan truk yang bocor”. Begitu ungkapnya sambil menunjuk satu pondok di pinggir jalan sebagai tempat usaha.

Sepenggal pelajaran hidup dari orang tua yang tak pernah berputus asa. Jalani hidup dengan optimis. Tak menyerah terhadap keadaan. Punya visi masa depan anak. Di situ saya ikut merasakan bahagia mereka.

Kisah hidup keluarga ini mengingatkan saya pada sisi kehidupan lain. Satu keluarga yang saya kenal baik. Hidup berkecukupan secara materi. Si kepala keluarga menjabat posisi penting di sebuah instansi. Rumah mewah dan fasilitas kendaraan lebih dari cukup. Namun kecukupan materi membuat keluarga itu berantakan. Sering berkonflik soal harta. Anak-anaknya tak ada berpendidikan tinggi. Bahkan ada yang jadi pemakai narkoba.

Dua rumah kehidupan yang berbeda. Allah menciptakan kaya dan miskin. Penyeimbang kehidupan dunia. Saya melihat realitas keadilan Tuhan. Siklus kehidupan terus berjalan. Roda terus berputar. Kaya adalah cobaan, miskin merupakan ujian. Mau hidup berubah, kembali kepada setiap insan. Kini kaya, lusa bisa saja miskin. Sekarang miskin, esoknya bisa berkecukupan.

Namun dua hal yang harus tetap dipegang adalah iman dan kepedulian. Hubungan vertikal kepada Allah. Hubungan horizontal sesama manusia. Ibadah adalah implementasi hubungan dengan Allah. Berbagi adalah di antara bentuk hubungan horizontal dengan manusia. Allah mewajibkan zakat, karena dalam harta kita ada hak orang lain.

Infak sedekah, wakaf, sosial kemanusiaan adalah kedermawanan sebagai upaya mengangkat kehidupan orang miskin. Menuju arah lebih baik dengan program pemberdayaan. Tersedia juga lembaga profesional yang mengelolanya.

Jika kita berdaya secara materi, maka berdayakan orang lain. Berdaya bersama, saling peduli adalah kebahagiaan kita sebagai manusia. Semua yang kita miliki hanyalah titipan sesaat dari Tuhan pemilik sesungguhnya. Apa yang kita bagikan pun tak hilang begitu saja, tapi investasi untuk yaumil akhir. Menjadi saksi atas semua pertanggungjawaban. (nisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*