Berikut Ini Alasan Jokowi Sulit Lepas Dari Jeratan Utang Asing

hutang_asingJakarta, PADANGTODAY.com – Sebagai informasi, utang luar negeri Indonesia per Juli 2014 tercatat telah tembus USD 290,6 miliar atau setara dengan Rp 3.501,2 triliun. Utang ini terdiri dari utang luar negeri swasta sebesar USD 154,4 miliar dan utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 134,15 miliar.

Presiden terpilih periode 2014-2019 Joko Widodo (Jokowi) berjanji tidak akan menambah utang untuk memenuhi kebutuhan belanja negara. Caranya dengan melakukan pembekuan anggaran.

“Ya penggunaan APBN itu secara efisien dan tepat sasaran. Tidak perlu ngutang,” ujarnya di Balai Kota DKI Jakarta.

Sedangkan untuk pembayaran utang yang semakin menumpuk, Jokowi menjawab dengan enteng. “Kalau utang ya dibayar,” singkatnya.

Ketua Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan menyebut pemerintahan Jokowi-JK akan sulit keluar dari jeratan utang luar negeri yang sudah menggunung. Masalah ini dinilai sama beratnya dengan melepaskan Indonesia dari ketergantungan impor energi.

Apa saja penyebab yang membuat Jokowi sulit lepas dari jeratan utang asing? Berikut ini alasannnya

1.Ekspor Indonesia masih kecil

Dani menilai tren penerimaan dari hasil ekspor Indonesia masih menurun. Padahal, utang bisa ditutupi dengan devisa hasil penerimaan ekspor. Pelambatan ekspor membuat pemerintah tidak memiliki uang.

“Ini juga karena pencairan utang luar negeri yang belum cair. Terutama utang proyek tergantung pada syarat syarat yang harus dipenuhi sekarang utang itu dicairkan,” tuturnya singkat.

Melansir data Bank Indonesia, utang luar negeri Indonesia per Juli 2014 tercatat mencapai USD 290,6 miliar atau setara dengan Rp 3.501,2 triliun. Utang ini terdiri dari utang luar negeri swasta sebesar USD 154,4 miliar dan utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 134,15 miliar.

2.Pajak masih rendah
Dani menyebut, dalam 10 tahun terakhir, tidak ada peningkatan signifikan dari penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Indonesia.

“Masalah fundamental adalah cara pemerintah selama ini membiayai pembangunan dengan menarik pinjaman baru. Ini sama juga halnya kemandirian energi tapi tidak membangun kilang baru,” ucap Dani.

Menurutnya cara mengurangi ketergantungan Indonesia dari utang luar negeri adalah dengan optimalisasi tax ratio atau peningkatan pajak. Pemerintah juga harus menagih piutang pajak yang jumlahnya disebut mencapai Rp 150 triliun.

3.Naikkan harga BBM bukan solusi
Dani Setiawan mengatakan untuk mengurangi utang luar negeri ini pemerintah Jokowi-JK harus kerja keras melakukan penghematan. Apalagi saat ini utang luar negeri pemerintah tumbuh tengah tumbuh lebih tinggi dibandingkan milik swasta.

“Harus ada kondisi penghematan dalam belanja pemerintah dan peningkatan penerimaan. Tapi penghematan jangan selalu menyalahkan subsidi BBM,” ucap Dani.

Menurut Dani, menaikkan harga BBM subsidi tidak akan menghemat anggaran negara. Pasalnya, saat subsidi dikurangi, pemerintah malah menambah anggaran belanja pegawai dan belanja barang. Kecenderungan ini sudah lama terjadi.

“Pengurangan subsidi BBM tapi uangnya itu engga lari ke masyarakat seperti anggaran kesehatan. Justru selama ini konstan naik itu peningkatan belanja pegawai dan barang,” tegasnya.

Dani menduga selama ini pengusaha ingin sekali Jokowi-JK menaikkan harga BBM subsidi. Hal ini justru menguntungkan pengusaha karena belanja pemerintah naik dan dana akan lari ke pengusaha itu sendiri.

“Ini birokrat yang ingin mendapat gaji naik, dan juga pengusaha dalam negeri, komposisi belanja pegawai barang pasti ada peningkatan nanti dan spending belanja pemerintah meningkat ke pengusaha penyedia barang dan jasa,” tutupnya.

4.Fundamental ekonomi Indonesia lemah, pelihara mafia utang
Ketua Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan menyebut tingginya utang luar negeri Indonesia disebabkan banyaknya mafia utang atau pemain bisnis utang yang bermain.

Menurut Dani, dalam masalah utang luar negeri Indonesia, bisa dilihat adanya unsur kesengajaan. Mafia utang menyebut Indonesia rentan akan krisis ekonomi dan sangat tergantung dengan ekonomi luar. Sedikit ada goncangan di ekonomi global maka ekonomi Indonesia langsung berpengaruh seperti melemahnya nilai tukar.

Kondisi ini membuat yield atau bunga surat berharga Indonesia membumbung tinggi. Para mafia tadi mengeruk keuntungan dari bunga utang yang tinggi yang dipinjam Indonesia.

“Kalau fundamental ekonomi Indonesia kuat tidak mungkin bunga obligasi setinggi itu. Amerika saja rendah sekali bunga utangnya. Itu karena ekonomi kita rentan dan dipermainkan pebisnis utang tadi,” ucap Dani.

Para pebisnis utang ini kemudian memainkan isu global yang membuat goncangan di ekonomi Indonesia. Negara maju seperti Indonesia dibuat ketergantungan akan utang dengan berbagai macam ketakutan yang datang dari luar.

“Mereka menggoyang dunia ketiga dengan provokasi akan utang meningkat. Mereka mengeluarkan persepsi instabilitas, tidak stabil,” tegasnya.

Dani menyebut kondisi seperti ini sudah lumrah dalam dunia utang. Suatu negara jika sudah berutang akan susah untuk lepas dari jeratan tersebut.(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*