Cagar Budaya, Warisan Yang Diabaikan

Lubang Jepang Cagar Budaya, Warisan Yang Diabaikan di Kenagarian Kuranji Hilir Sungai Limau, Padangpariaman

Advertisements

Padang-today.com__Sebuah goa atau lubang peninggalan penjajahan Jepang di Nagari Kuranji Hilir, Sungai Limau, Kabupaten Padangpariaman, Sumbar, salah satu bukti sejarah masih minim perhatian pemerintah dan masyarakat setempat. Lokasi tersebut berada sekitar 100 meter dari pasar Sungai Limau, dengan memiliki panjang 30 meter.

Konon lubang tersebut dahulunya difungsikan sebagai tempat persembunyian sekaligus posko utama penjajah Jepang. Dalam Lubang, terdapat 8 kamar sebagai ruang istirahat. saat ini, lubang tersebut telah banyak mengalami kerusakan dan pergeseran tanah akibat bencana gempa beberapa waktu lalu.

Bangunan tersebut luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat setempat. Padahal kehadiran bukti sejarah tersebut dapat menjadi cagar budaya dan edukasi pariwisata sejarah Padangpariaman.

Zainal Arifin, salah satu warga yang tinggal disekitar lokasi menyebutkan, kondisi lubang peninggalan penjajahan Jepang tersebut sudah ada sekitar tahun 1946. Dahulunya, sekitar tahun 1980-an dan 1990-an, anak-anak masih sering bermain dan mengunjungi lubang tersebut.

“Sejak Gempa 2009 lalu, kondisi lubang yang sudah mulai merosot akibat getaran dan pergesran tanah, lokasi dianggap tidak layak dan terlihat membahayakan pengunjung. Jarangnya kunjungan, membuat lokasi yang berada di antara perbukitan itu semakin merimba,” kata dia.

Al Muktadir, Sekretaris Nagari Kuranji Hilir mewakili Walinagari Janar Beyen menyebutkan, Pemerintah Nagari telah berusaha maksimal agar lokasi tersebut dapat termanfaatkan menjadi peningkatan perekonomian masyarakat. Hanya saja kendala yang dihadapi persoalan lahan masih rancu dan bermelut antara suku Koto dengan suku Sikumbang.

Kami dari pihak pemerintahan nagari telah berupaya menfasilitasi antara pihak Suku Koto dan Suku Sikumbang. Dahulunya tanah tersebut sempat dibeli orang bersuku Koto, namun belum diketahui batas-batas wilayahnya. Lahan tersebut adalah Pusako tinggi kaum Sikumbang, karena perjanjian jual beli atau paga bali maka sebagian lahan milik dari Seseorang bersuku Koto” kata dia.

Kamelut tersebut tersebut hingga saat ini, jelasnya, belum mendapat titik terang. Namun, ia berharap Pemerintah setempat dapat ikut turut serta menyelamatkan Kelestarian Cagar Budaya Peninggalan Penjajahan Jepang tersebut agar tidak hilang tertimbun tanah.

Lokasi Peninggalan Jepang di Sungai Limau Padangpariaman

“Dengan adanya Cagar Budaya ini adalah satu bukti bahwa didaerah ini pernah disinggahi oleh bangsa asing, untuk itu pihak pemerintah dan masyarakat setempat agar dapat menjaga dan menyelamatkan kelestariannya,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Pendidikan, lanjutnya, telah menyerahkan Sebuah Plang pengumuman Peninggalan Bersejarah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padangpariaman. Tapi Plang tersebut belum dapat dipasang akibat sengketa lahan yang masih berlangsung.

Peran Niniak Mamak, Pemerintah Nagari, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Padangpariaman diharapkan dapat menuntaskan persoalan tersebut. Pasalnya, melihat kondisi dan situasi lokasi yang berada diatas perbukitan, sangat tepat dikelola menjadi kunjungan Wisata Cagar Budaya. Pemandangan nan indah panaroma laut, disertai Edukasi Sejarah menjadi daya tarik untuk meramaikan lokasi tersebut. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*