Catatan Olahraga, “Karantau Madang Di Hulu, Dikampuang Sadang Hujan Batu”

78handrianto

PADANGTODAY.COM -Idiom lama, ”karantau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun.” Maksudnya, bagi anak muda, di Minangkabau diharapkan merantau mencari pengalaman hidup dan peghidupan yang lebih baik.

Kait berkait dengan olahraga prestasi. 12 medali emas PON XVIII di Riau tahun 2012 lalu menjadi catatan terbaik Sumatera Barat di multiiven nasional PON di Indonesia. Raihan medali ini menjadi catatan betapa saat itu, Sumbar berjuang dengan semangat tinggi. Saat itu, dukungan pendanaan daerah pun cukup. Ditambah dukungan sponsor dana dari berbagai stakeholder yang sangat membantu. Kala itu.

Kita sempat terbius oleh kehebatan Yosita Patricia Hapsari, dari renang, yang menyumbangkan tiga emas dan satu perak. Arena cabang renang itu menjadi saksi di Pekanbaru kehebatan atlet asli dari Sumatera Barat ini. Satu lagi, Mella Eka Rahayu, lifter angkat berat, penyumbang satu emas di PON XVIII, dan peraih emas di Kejuaraan Dunia 2013. Luar biasa Sumbar, memang luar biasa. Kembali kala itu.

Informasi sport intelijen dari KONI Kota Payakumbuh yang bertandang langsung bertemu dengan pengurus inti KONI Jabar, 2013 lalu, menemukan sebuah shock information. Prediksi matematis dan terkomputerisasi dari database prestasi dan potensi keolahragaan Indonesia, bahwa Sumbar tak lebih dari 1 medali emas di PON XIX di Jabar 2016 mendatang. Semula kami, tidak percaya. Sebab, dari faktor pembinaan dan prestasi, saat ini Sumbar sedang berjaya di level prima.

Jawa Barat, KONInya, ternyata menggunakan sport dan forensik intelijen yang kuat. Kedua hal ini ternyata benar-benar menjadi titik temu kesuksesan Jawa Barat dalam membina prestasi atletnya. Setiap kebijakan dan latihan dilakukan dengan kajian dari berbagai sisi. Sehingga, keputusan yang diambil betul-betul akurat. Meski tidak 100 persen.

Djumara Frasad, sang Brigjen TNI, Wakil Ketua I, ternyata memiliki pandangan dan visi pembinaan olahraga prestasi yang mumpuni. Betapa tidak, KONI Jabar sejak 2010 lalu sudah mengganyang pembinaan prestasi dengan sistem yang terintegrasi. Sebuah Badan Sport Intelijen juga dibentuk, diketuai oleh Ir Verdia Yosep melibatkan 7 orang perwira TNI, tim informasi dan teknologi andal, serta mendata, mengalisa, mengevaluasi serta menajamkan keputusan KONI secara presisi. Nyaris tidak ada kesalahan.

Jangan tanya dan bandingkan, harga pembinaan prestasi dengan hasil medali Jabar. Luar biasa. Di PON XVIII Riau, Jawa Barat di runner-up dengan 99 emas, 79 perak 101 perunggu. Di posisi I DKI Jakarta dengan 110 emas 101 perak 112 perunggu. Jawa Timur mengekor di urutan ketiga 86 emas 86 perak 84 perunggu. 11 12 posisi Jabar untuk pembinaan prestasinya dengan DKI. 2015 ini, menurut Wakil Sekum KONI DKI Erizal Azhar, dipasok dana Rp320 miliar.

Laporan tim sport intelijen KONI Sumbar yang direport, http://m.kompasiana.com/post/read/591144/1/humas-koni-payakumbuh-kunjungi-koni-jabar.html, mengisyaratkan bahwa semula secara prediktif Jawa Barat optimis di angka 114 emas. Artinya di PON Riau, Jabar sudah harus Juara Umum. Hanya ada miss prestasi di beberapa cabang olahraga. Wajar!

Djumara Frasad bersemangat menyebut dirinya yang pernah bertugas di Korem Sumbar, ketika itu berkantor di Lapangan Kantin Bukittinggi, hafal betul dengan raihan 49 medali Sumbar di PON XIII tahun 2012 di Riau. Sumbar kala itu, dapat prestasi 12 emas, 12 perak, 25 perunggu. Tapi, di Jabar, meski tidak dalam garis kekhawatiran Jabar, Sumbar terancam!

Terancam? Ya, dalam statistik keolahragaan, ada faktor dominan yang akan mengganggu perolehan medali Sumbar di 2016. Faktor Yosita di renang, menjadi prediksi 2013 di Kantor KONI Jabar, kini terbukti. 2015 ini kian jelaslah prediksi itu sangat akurat. Yosita Patricia Hapsari berlatih dan kuliah di Amerika. Dibiayai Pemprov DKI. Mella Eka Rahayu, selain berlatih, juga sudah mendapatkan pekerjaan di Bank DKI. Pada PON di Jawa Barat, 2016, keduanya masih berada dalam usia emas dan masih memiliki peluang untuk mempersembahkan medali. Medali untuk DKI.

MERANTAULAH

Kepergian keduanya demi cita-cita dan masa depan, bukan tidak mungkin akan diikuti atlet lain. Persoalan mendasar terkait dengan nasib mereka di kemudian hari. Secara lahiriah, para atlet ini juga manusia yang tidak bisa dikekang tanpa impian. Mengejar impiannya di DKI Jakarta yang langsung merealisasikan keinginan dan harapannya, Sumbar memang tidak mampu. Merantaulah para atlet hebat Sumatera Barat ini demi prestasi tinggi itu, sebab di kampung sedang ”hujan batu.”

”Pesaing Jabar sebenarnya, provinsi DKI dan Jawa Timur. Sebab itu, kami bersedia membantu tim yang tidak akan merugikan raihan emas kami di PON. Apalagi, Sumbar memiliki atlet yang berbakat,” ujar Djumara Frasad yang masih berwajah tegas itu, 2013 lalu menawarkan kepada tim sport intelijen KONI Sumbar.

Kepergian keduanya, Yosita dan Mella bukan dalam kerangka berkhianat. Tak ada lagi yang bisa ditawarkan oleh Sumbar bagi keduanya. Tawaran tak bisa direalisasikan. Sebab anggaran daerah ini seperti enggan diberikan oleh penguasa kepada pembinaan olahraga prestasi. Jika begitu, maka harapan tanpa bahasan dan analisa, 15 medali emas kian kabur. Analisa terbaik, di KONI Jabar, 1 emas di 2016 rasanya tidak angka yang berdusta.

Inilah ranah tanpa pondasi. Ranah yang sering gempa bumi. Ranah Sumatera Barat perlu untuk mengingat kembali bahwa yang dibangun tidak hanya beton, tapi juga manusia. Manusia seutuhnya. Lewat olahraga prestasi dan prestise juara. Itu!

Penulis adalah Handrianto, Wakil Ketua II KONI Sumbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*