Catatan Sepakbola Sumbar di Porwil, Jangan Ngaku Peduli

faisalbudimanSepakbola Sumbar gagal lolos ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016, setelah kalah bersaing diarena Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) di Babel lalu. Hasil ini tentu sangat disesali masyarakat Sumbar khususnya pengemar sepakbola, soalnya sejak PON 2004, sepakbola Sumbar selalu lolos ke PON.

Advertisements

Sepahit apapun, hasil yang diraih sepakbola Sumbar diarena Porwil lalu, harus kita terima dengan jiwa besar. Soalnya, pemain, pelatih dan offisial sudah berjuang untuk memberikan hasil terbaik dan mereka ini tidak bisa kita salahkan, karena perjuangan mereka sudah maksimal.

Namun, sebagai pencinta sepakbola dan melihat langsung perjuangan tim sepakbola Sumbar diarena Porwil, memang tidak seharusnya tim ini gagal. Kemampuan, skill dan teknik para pemain masa depan Sumbar ini jauh lebih baik dari tim-tim lain.

Lalu apa yang salah?
Ini yang menjadi pertannya besar bagi saya? Selama iven, pemain tidak memperlihatkan kemampuan sesuguhnya, mereka kelihangan motivasi, jendral lapangan yang menjadi komando juga tak terlihat.

Sebagai wartawan olahraga, saya mencoba mencari tahu, apa sebenarnya yang terjadi di tim sepakbola Sumbar ini, hingga hilangnya motivasi pemain. Banyaknya jawaban yang saya dapat, namun dari sekian jawaban itu, satu yang membuat saya tersentak.

Jawaban yang satu itu? tak adanya kepedulian lembaga yang katanya tempat membina sepakbola. Mereka lebih mementingkan iven sesaat dan mengabaikan kepentingan sepakbola Sumbar. Pemain yang sudah sehati dan menjadi tulang punggung tim, di tarik satu persatu, sehingga pemain lain kehilangan motivasi.

Selain pemain, sang nahkoda yang menjadi pengayomnya juga meninggalkan tim dan memilih untuk mendampingi tim lain. Sang nahkoda ini memberikan tanggung jawab ke nahkoda lain. Tentu, ini menjadi dilema tersendiri bagi nahkoda baru, karena dia naik di tengah jalan dan sulit memahami karatekter anak buahnya.

Disini saya mengambil kesimpulan bahwa kegagalan ini, karna hilangnya kepedulian terhadap sepakbola Sumbar. Istilahnya, kalau tidak ada job di sepakbola nasional, mereka rame-rame untuk membantu, tapi bila job ada, tim ini mereka tinggalkan.
Tapi sudahlah, mari kita nilai sediri. Nasi sudah menjadi bubur, sepakbola Sumbar sudah gagal ke PON. Ayo semua insan sepakbola Sumbar, kita maju sama-sama satukan langkah, satukan arah dan tujuan. Lihat ke cermin saja apa kesalahan dan kekurangan kita masing-masing, kita benahi, kita koreksi demi kemajuan bersama. Mari kita bersama-sama melakukan evaluasi dan biarkan hasil di Porwil ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. (faisal budiman, wartawan olahraga)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*