Cegah Aliran Terlarang, Kemnag Awasi Penerimaan Ponpes

IMG20160211111551Padangpanjang, Padangtoday—Menyikapi tingginya potensi gangguan dari gerakan aliran-aliran terlarang, Kementerian Agama (Kemnag) Padangpanjang melakukan pengawasan ketat setiap aliran bantuan terhadap pondok pensantre (ponpes) di daerah berjuluk Serambi Mekkah itu.

Advertisements

Kepala Kemnang Padangpanjang, Alizar Chan mengaku sangat prihatin dengan eksistensi pergerakan aliran dinyatakan dilarang yang sangat gencar beberapa waktu belakangan. Di antaranya yang paling mengkhawatirkan masyarakat belakangan ini, yakni Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dan terbaru kabar mulai menggeliatnya aksi aliran Ahmadiyah.

Khususnya terkait gerakan Ahmadiyah dalam mengembangkan aliran dan pemahaman, dikabarkan mulai merambah ke institusi pendidikan seperti madrasah dan ponpes. Bahkan informasi yang beredar di media sosial (medsos), Ahmadiyah masuk ke ponpes di Sumbar dengan cara memberikan bantuan-bantuan berupa buku tentang aliran tersebut.

“Ini jelas harus menjadi perhatian kita semua agar tidak membawa efek buruk terhadap generasi pelajar kita. Meski hingga saat ini kami belum menerima informasi secara pasti, salah satu upaya Kemnag mencegah pengaruh tersebut yakni dengan melakukan pengawasan terhadap batuan yang mengalir ke ponpes,” ujar Alizar di ruang kerjanya, Jumat (12/2) kemarin.

Berkaitan berbagai gangguan terhadap aqidah masyarakat belakangan ini, selain pengaruh aliran sesat juga akibat dorongan faktor ekonomi dan terparah karena kendangkalan pemahaman agama. Hanya dengan iming-iming jaminan kesejahteraan materi, sangat disesalkan seseorang dengan mudah percaya dan mengganti kebesaran bacaan kalimat syahadat.

Kondisi ini dikatakannya terjadi pada banyak kalangan, seperti tokoh masyarakat, orangtua dan sasaran paling empuk belakangan ini yakni remaja atau peserta didik. Karena itu dikatakannya, guna mengantisipasi keterjerumusan masyarakat terhadap peralihan aqidah serta ketaqwaan tersebut sangat dibutuhkan peran semua semua elemen.

“Sesuai dengan hasil pertemuan lintas tokoh yang digelar Mapolres Padangpanjang beberapa hari yang lalu, para ustad bertanggungjawab terhadap jamaahnya dan seterusnya ninik mamak terhadap keponakan, orangtua terhadap anak dan guru bagi pelajar atau murid-murid mereka,” tutur Alizar yang juga mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Padangpanjang itu.

Namun khusus untuk Padangpanjang, Pemerintah Kota (Pemko) setempat telah menyiapkan program siswa ke masjid yang akan digelar satu sekali dalam sepekan. Kegiatan tersebut sangat baik guna menghidupkan kembali tradisi remaja masjid yang sudah hampir tidak ada lagi. Faktor ketiadaan karena kesibukan orangtua, diharapkannya dapat tumbuh lagi dengan program ini.

“Program siswa ke masjid ini sangat besar pengaruhnya untuk penguatan imtaq peserta didik kita. Setidaknya dengan rentang waktu Dzuhur hingga Ashar, cukup banyak pemahaman agama yang bisa ditanamkan terhadap anak-anak kita. Kabarnya program yang telah dianggarkan melalui APBD ini, segera di-lounching Maret mendatang,” pungkas Alizar. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*