Dahlan Iskan Mikul Dhuwur

cucumagekdirih

H. Sutan Zaili

Adalah Dahlan Iskan, kini Menteri Negara BUMN—dan terakhir memperoleh doktor honoris causa (Dr HC) dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang dan Arellano University Manila, Filipina, semakin menjadi sorotan politik dengan pembobotan motif politik kental. Sebagai orang yang selalu nothing to loose (tak takut kehilangan posisi-jabatan/tak takut kehilangan kesempatan memangku amanah-posisi lebih tinggi/tak berharap manfaat bagi kepentingan pribadi), Dahlan Iskan juga seorang tidak sama sekali mempertaruhkan apapun. Baginya, apalah pula akan berorientasi pada diri/keluarganya, posisi/jabatan jabatan yang sedang dipangku atau apa lagi posisi/jabatan akan dipoercayakan untuk dipangkunya, semata amanah dari Allah SWT—tugas/tanggung jawabnya bekerja. Bagi Cucu Magek Dirih, Dahlan Iskan bukan hanya jujur, tapi, (more than) lugu; bukan hanya amanah, tapi, ambil tanggung jawab (tidak menghindar dan lari dari tanggung jawab); bukan hanya cerdas, tapi, mengutamakan berkerja dari wacana; dan bukan menyampaikan/beretorika, tapi, mewujudkan ide/gagasan menjadi perbuatan/hasil nyata.

AMANAH, satu kata yang selalu dikaitkan dengan empat kata/sifat utama (shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh) yang selalu pula dikaitkan dengan sosok Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam hal pribadi yang terpilih. Sebagaimana kita mengetahui, keempat sifat utama itu dikaitkan dengan sejarah hidup Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib bin Hasyim, yang amat fenomenal: ketika seusia kanak-kanak, dadanya dibedah malaikat, dikeluarkan segala hal buruk dari hatinya, diganti/diisi dengan keempat sifat utama itu. Bagi Cucu Magek Dirih, peristiwa fenomenal tentang dada Muhammad SAW dibedah malaikat ketika masih kanak-kanak memberikan tekanan arti/makna lebih pada keempat sifat utama tersebut. Tidak saja bagi setiap muslim/muslimah, tapi terutama sebagai kondisi utama yang harus dimiliki calon pemimpin/pemimpin: apa dalam rekam jejaknya seorang calon pemimpin/pemimpin sudah menunjukkan empat sifat utama tersebut, atau dinyatakannya sendiri melalui suatu proyek pencitraan (sementara sebagian orang mengetahui sebaliknya)!

Secara ringkas dapat kita baca kembali perihal keempat sifat utama: satu, shiddiq secara harfiah berarti jujur, dan karena ada tasdik, maka makna semakin ditekankan (di-drive), sifat utama yang dinisbahkan kepada pribadi yang diketahui dan diakui masyarakat sebagai orang nyaris selalu jujur. Dan jauh berbeda dengan orang/calon pemimpin/pemimpin yang menyatakan dirinya benar, tapi, mulut (hati dan otaknya) kotor dan bau. Sifat shiddiq, selain dikaitkan dengan salah satu utama Muhammad SAW, juga pernah dinisbahkan pada sahabat utama Abu Bakar al-Shiddiq. Kebanyakan kita dan calon pemimpin/pemimpin menyatakan diri sebagai orang yang jujur—sambil tertawa cengengesan karena mengira orang yang mendengar akan membenarkan (ia/dia pikir orang banyak bodoh dan bisa dibohongi), tapi orang banyak mengetahui dan memiliki fakta dan bukti ia/dia berbohong. Bohong/tidak jujur salah satu sumber utama kejahatan. Sebab, untuk menutupi satu kebohongan harus melakukan rangkaian kebohongan lainnya lagi—tidak peduli siapa pun ia/dia!

Dua, amanah, secara harfiah berarti dipercaya/diandalkan yang dinisbahkan kepada sifat orang yang menunjukkan diri sebagai orang dipercaya. Karena merupakan kata bentukan (gerund/Inggris) dan dalam bentuk kata dharaf (bahasa Arab), maka arti persisnya adalah selalu dalam keadaan (dipercaya/diandalkan), atau nyaris tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai orang yang tidak dipercaya (sakali lancuang ka ujian/salamo iduik urang ndak picayo—sekali saja menunjukkan diri dan terbukti dengan fakta atau bukti bahwa ia tidak dapat dipercaya, selama hidupnya ia/dia sudah tidak akan pernah lagi dipercaya). Berbeda hal dengan apa yang kita sering saksikan: ada orang/pemimpin yang terbukti secara faktual sudah sudah tidak dapat dipercaya, toh masih merasa diri dipercaya, tidak menunjukkan rasa bersalah/tidak merasa bersalah, tidak merasa malu, dan bahkan masih melanjutkan peranannya/masih terus-meneruskan menunjukkan diri sebagai orang tidak dipercaya.

Tiga, fathanah yang secara harfiah berarti cerdas. Cerdas adalah suatu daya akal dan hati yang membuat orang (yang cerdas) memikirkan dan mempertimbangkan apa yang dipikir dan dirasanya dan apa yang akan dilakukannya mempunyai manfaat dan atau akibat bagi dirinya sendiri (kecerdasan otak/intelectual quotient) dan orang banyak (emotional intelligence—ada sebagian pakar yang menerjemahkan sebagai social quotient atau spritual quotient). Manusia tidak cukup hanya sebatas cerdas secara otak karena hanya pandai menghitung dan cenderung berorientasi pada diri sendiri dan pada orang yang dihormati/ditakuti—lebih cenderung mengabaikan kepentingan orang banyak/sing penting untuk diri sendiri dan tidak peduli kepada orang banyak (kalau pemimpin demikian—seperti birokrat/teknokrat dan sebagian profesional yang cenderung manut atasan/who is in command). Yang lebih utama dalah kecerdasan sosial atau kecerasan rohaniah/spritual. Mengutamakan kepentingan orang banyak—kepentingan dirinya termasuk di dalamnya.

Empat, tabligh, yang secara harfiah berarti menyampaikan dan memberitahukan dalam perspektif pengetahuan/ilmu—perspetif balighu ‘anni walau ayah, perspektif apa yang sesuai peraturan/ketentuan harus disampaikan/diberitahukan, dan apapun yang seharus/selayak/sepatut/sebaiknya disampaikan/diberitahukan. Secara aspek/dimensi pula, tabligh meliputi perspektif kebijakan/keuangan/pertanggungjawaban, khusus di lingkungan kenegaraan/pemerintahan—populer dengan mekanisme musyawarah dan partisipatif (demokratis), transparan (proses terbuka), dan akuntabilitas. Rakyat harus diberitahu/dicerdaskan agar mampu berpartisipasi dalam musyawarah dan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan—Islam adalah agama mengutamakan musyawarah terutama dalam urusan dunia (antum ‘alamu bi umuri duniakum). Tabligh, setidaknya dalam pemahaman Cucu Megek Dirih, tidak hanya sebatas artifisial tentang kaidah ”sampaikanlah apa yang dari aku— walau satu ayat”.

BEGITULAH, sebagian kita mampu menyatakan dirinya jujur, sementara ia/dia sendiri tahu betul tentang/selalu berbohong tanpa rasa takut dirinya menjadi orang yang yang munafik (tanda-tanda orang munafik: bilamana berkata bohong/kalau dipercaya berkhianat; dan berjanji mangkir). Begitulah sebagian kita mampu menyatakan diri dapat dipercaya, tapi, lari dari tanggung jawab, atau ia/dia mudah berjanji untuk mudah memungkiri/mengkhianati (sakali lancuang ka ujian/saumua iduik urang indak lai picayo). Begitulah, sebagian dari kita memiliki kecerdasan inteklektual, tapi, mengutamakan diri/golongannya sendiri (walaupun ia/dia abdi negara/abdi rakyat, tapi lebih manut kepada atasan/pimpinannya daripada kepada rakyat dan Tuhan). Begitulah sebagian kita mampu berkata manis/berpidato dengan retorika yang indah—yang mengesankan ia/dia bak malaikat, tapi, menyembunyikan dan memutarbalikan kebenaran. Mereka adalah termasuk orang-orang munafik.

Begitulah seorang Dahlan Iskan secara sangat dramatis mengambil tanggung jawabnya. Baik ketika kisruh kenaikan harga elpiji 12 kg Rp 3.500/kg, dan isu lama kerugian yang terjadi saat Dahlan menjadi Direktur Utama PLN (ketika Dahlan memilih mengatasi listrik padam di Jakarta dengan mengerahkan genset yang tentu saja boros, memakai solar/BBM yang dibeli dengan harga industri/tanpa disubsidi—daripada listrik padam dan Jakarta lumpuh! dalam jangka waktu cukup lama? Sesungguhnya, kenaikan harga elpiji 12 kg berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pertamina menjual elpiji 3 kg dengan harga disubsidi, tapi, masih menjual harga elpiji 12 kg yang tidak disubsidi dengan harga di bawah harga pokoknya. Sudah empat tahun Pertamina merugi di sektor LPG (dibaca elpiji) karena Pertimina menjual elpiji 12 kg di bawah harga pokoknya. BPK mempersoalkan. Pemerintah masih meminta Pertamina menunda, sampai mulai 1 Januari 2014 elpiji nonsubsidi/12 kg dinaikan.

Heboh. Pertamina yang secara praktik manajemen murni (corporate actions) dan atau karena BPK mempersoalkan harga elpiji 12 kg nonsubsidi yang menimbulkkan kerugian diminta menaikan harga. Karena nonsubsidi, kebijakan menaikkan harga elpiji 12 kg merupakan wilayah corporate actions—Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan sama. Karena reaksi konsumen dianggap melampaui batas toleransi dari pencitraan pimpinan nasional, walau secara manajerial bukan kewenangan pemerintah, sebagai pemegang saham pemerintah/Presiden SBY minta Pertamina mengoreksi kenaikan harga—padahal dengan kenaikan semula pun Pertamina masih mensumbsidi (sedikit) dengan nilai kerugian masih sekitar/hampir Rp 2 triliun. Pertamina manut. Kenaikan harga dikoreksi dari semula Rp 3.500/kg menjadi naik Rp 1.000/kg. Ada yang menyebutnya, harga elpiji naik, dan kemudian gurun lagi.

Seperti salah satu dari kebiasaan kita adalah latah, mencari: siapa salah? Siapa kambing putih harus dicat hitam? Ada menteri berkelit bilang tidak tahu. Secara lugu, Dahlan Iskan mengambil tanggung jawab. Apabila dicari siapa salah, ia salah. Dahlan mengatakan, harus ada yang mengambil tanggung jawab. Dalam perspektif Cucu Magek Dirih—agak mengerti sedikit kultur Jawa, Dahlan mengambil posisi ”mikul dhuwur”—yang lazim disejalankan dengan ”mendhem jero”. Sebagai Menteri BUMN, Dahlan tidak mau menyalahkan direksi Pertamina—at all. Tindakan Pertamina, kata Dahlan, sudah benar dan sekligus memenuhi arahan dari BPK. Pertamina sudah benar menaikkan harga elpiji nonsubsidi 12 kg—itu pun masih tetap rugi. Jadi, secara kebijakan/manjerial tidak ada salah. ”Yang salah” reaksi konsumen atas kenaikan elpiji 12 kg yang akhirnya direspons Presiden SBY. Kata Dahalan, SBY yang merespons keluhan rakyat juga benar. Yang salah, kata Dahlan, adalah dirinya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*