Di Berlakukan Bak Teroris, Massa Prabowo-Hatta Minta Kapolri Dipecat

kubu-prabowo-merasa-diperlakukan-seperti-teroris-oleh-polisi-rev2Jakarta, PADANGTODAY.com – Waketum Gerindra Fadli Zon langsung memprotes tindakan polisi yang dinilainya berlebihan. Dia bahkan meminta agar Kapolri Jenderal Pol Sutarman memecat Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Dwi Priyatno karena membubarkan Massa Prabowo yang bersikukuh melewati pagar kawat polisi untuk merangsak maju ke depan gedung MK secara paksa oleh polisi.

Hasilnya, sejumlah pendukung Prabowo – Hatta mengalami luka-luka. Kubu pasangan capres cawapres nomor urut satu ini pun berang.Menurutnya, polisi telah menggunakan peluru karet untuk membubarkan massa. Padahal massa tak berbuat anarkis.

Meski Kapolri Jenderal Pol Sutarman telah memberi penjelasan dan membantah menggunakan peluru karet saat membubarkan demonstrasi, kubu Prabowo tetap mempersoalkannya. Kemarin kuasa hukum dan sejumlah pendukung Prabowo – Hatta mendatangi kantor Komnas HAM. Mereka melaporkan tindakan polisi membubarkan demonstrasi tersebut.

Mereka meminta Komnas HAM turun tangan. Mereka menilai tindakan polisi berlebihan dan telah melanggar HAM. Mereka merasa diperlakukan bak teroris oleh polisi.

1.Massa Prabowo-Hatta minta Kapolri dipecat
Massa pendukung koalisi Merah Putih yang tergabung dalam Aliansi Penyelamat Pemilu menyambangi Komnas HAM, Jakarta Pusat, Senin (25/8) siang. Mereka mendesak Komnas HAM agar meminta Kapolri Jenderal Sutarman bertanggungjawab dalam insiden penembakan terhadap relawan Prabowo-Hatta pada Kamis (21/8) lalu.

“Hari ini kita hadir di Komnas HAM supaya Kapolri di copot, karena pada 21 Agustus kemarin kawan-kawan kita ditembak saat melakukan demonstrasi putusan pilpres di MK,” kata koordinator aksi Pardong di depan Gedung Komnas HAM.

Menurut mereka, dalam aksi unjuk rasa menunggu putusan Mahkamah Konstitusi, pihaknya tidak melakukan tindakan anarkis.?

“Supaya Komnas HAM menindaklanjuti dari kawan-kawan kita untuk mengusut tuntas penembakan membabi buta yang terjadi pada 21 Agustus lalu,” kata Pondang ditanggapi teriakan pendukungnya.

“Sehingga Komnas HAM bisa memunculkan surat pemecatan untuk Kapolri dan Kapolda Metro Jaya,” kata dia.

2.Kubu Prabowo sebut Kapolri bohong besar
Kubu Prabowo-Hatta yang terdiri dari relawan dan kuasa hukum mendatangi Komnas HAM untuk melaporkan dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan anggota kepolisian terhadap relawan Prabowo-Hatta saat demonstrasi saat putusan sengketa pilpres di MK, Kamis (21/8) lalu. Dalam laporannya mereka menuding Kapolri Jenderal Sutarman melakukan pelanggaran HAM.

“Hari ini kami tim pembela Merah Putih bersama yang menjadi korban kekerasan datang dalam konteks menindaklanjuti laporan kami pada aksi unjuk rasa kemarin pada saat dilaksanakannya putusan PHPU oleh MK di mana ada puluhan orang jadi korban dan ada beberapa korban yang luka serius,” kata Habiburokhman di Komnas HAM, Jakarta, Senin (25/8).

Habib menilai, pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman yang menyebut tidak ada peluru untuk membubarkan massa saat unjuk rasa adalah bohong besar. Pihaknya mengklaim memiliki bukti tindakan represif yang dilakukan oleh anggota kepolisian untuk membubarkan demonstrasi di depan patung Wiharjuna Jalan Medan Merdeka Barat, Kamis lalu.

“Kalau dikatakan para petinggi Polri tidak ada peluru dalam tindakan pengamanan, saya rasa itu adalah bohong besar karena saksi dan bukti kami bisa hadirkan,” katanya.

Menurutnya, dalam insiden itu banyak para relawan Prabowo-Hatta yang mengalami luka berat. Oleh karena itu, pihaknya berharap Komnas HAM mengusut secara tuntas tindakan represif Polri ini dengan menghadirkan foto dan alat bukti.

3.Kubu Prabowo nilai polisi melanggar HAM
Kubu Prabowo-Hatta menuding Kapolri Jenderal Sutarman membohongi publik karena mengatakan tidak ada aksi penembakan dalam usaha membubarkan massa pendukung Prabowo-Hatta saat demo menunggu putusan sengketa pilpres di MK Kamis (25/8) lalu. Menurut kubu Prabowo-Hatta tindakan kepolisian melanggar HAM.

“Yang sebenarnya terjadi Polri tanpa melakukan peringatan dan langsung menembakkan peluru dan menembakkan gas air mata dan diakhiri oleh water cannon,” kata salah satu anggota tim Prabowo-Hatta, Andry Rosaide usai memberikan laporan di Komnas HAM, Menteng, Jakarta, Senin (25/8).

Menurutnya, tindakan aparat kepolisian sangat represif. Sebab, massa yang kabur terus dikejar dan dipukuli oleh petugas.

“Jadi informasi yang dilontarkan Kapolri dan Menko Polhukam bisa kami pastikan itu bohong,” ujar Andry.

4.Kubu Prabowo merasa diperlakukan seperti teroris oleh polisi
Kubu Prabowo-Hatta mengaku sebelum terjadi bentrok dengan polisi telah tiga kali melakukan negosiasi dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Dwi Priyatno. Namun, Irjen Pol Dwi Priyatno tidak menghiraukan pendapat mereka.

“Kami tidak meminta orasi di depan MK tapi saat itu suasana panas sekali kami hanya minta di depan Kemenhan atau di depan Museum Nasional yang banyak pohon sehingga kawan-kawan relawan tidak kepanasan tapi Kapolda tidak mau bernegosiasi dan tetap tidak mau bergeser sehingga muncullah keresahan,” kata salah satu anggota tim Prabowo-Hatta, Andry Rosaide, di Komnas HAM, Senin (25/8).

Menurut Andry, tindakan aparat kepolisian itu berlebihan. Bahkan seakan menganggap pihaknya seperti teroris.

“Tindakan polisi yang sangat lebay dengan memasang kawat duri dan memakai water cannon seakan memperlakukan kami yang selama dua minggu melakukan aksi seakan seperti teroris,” bebernya.

Andry mengklaim, total korban yang terdata ada 54 orang dan sampai sekarang masih ada yang dirawat di rumah sakit.

“Ada yang tertembak, ada yang bocor pipinya ada yang bocor kepalanya, kepala belakang, perut, jadi ini terlalu prematur kalau Kapolri bilang tak ada peluru,” tandasnya.(mr/nol)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*