Di NTB Jagung Jadi Primadona

Taanaman Jagung.

Taanaman Jagung.

Advertisements

PADANGTODAY.COM-Jagung adalah primadona baru di Nusa Tenggara Barat. Di setiap daerah, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, dengan mudah kita bisa menemukan ladang jagung. Hamparan ladang jagung pula yang mewarnai pemandangan jika melintasi Jalan Lintas Poto-Sape di Pulau Sumbawa, terutama di wilayah Kabupaten Sumbawa dan Dompu.

Ketika kami melintas di wilayah Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, pada akhir Maret, sepanjang mata memandang, ladang jagung terhampar mulai dari lahan datar di tepi jalan hingga medan meliuk-liuk di lereng perbukitan.

Tiga tahun terakhir, warga di daerah ini dan kecamatan sekitarnya getol menanam jagung. Komoditas itu menggantikan tanaman “tradisional” kacang hijau yang perawatannya dinilai sulit dan memiliki risiko kegagalan tinggi.

Muhammad Rakib (42) adalah salah satu petani di Desa Gapit, Kecamatan Empang, yang turut terkena “demam” jagung ini. “Dulu kami tidak tahu lahan kering di sini cocok untuk jagung, jadi tahunya hanya menanam kacang ijo,” ujarnya.

Tiga tahun lalu ada perusahaan pembeli jagung yang berpromosi kepada warga untuk menanam jagung. Perusahaan itu menyewa kebun percontohan yang ditanami jagung hibrida, dan sukses. Warga pun dilatih menanam jagung.

“Hasilnya, warga tertarik ikut menanam. Saat ini sudah ada 5.000 hektar ladang jagung di Kecamatan Empang,” kata Rakib yang juga Ketua Kelompok Tani Jagung Lenang Rea.

Bagi warga yang memiliki lahan tegalan, jagung hanya ditanam satu kali setahun dengan masa tanam 105 hari. Biasanya periode tanam dimulai pada November dan memasuki panen raya pada awal April. Di lahan sawah, jagung menjadi selingan tanaman padi saat kemarau.

Momen emas pertanian jagung juga mendorong Abdurrahman Mohammad Ali (65) pensiunan pengawas sekolah dari Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, menyewa lahan di Empang sejak 2009. Sebelumnya, memiliki 3 ha lahan jagung di Bima. Kini, ia mengelola 10 ha lahan jagung di Sumbawa dan Bima.

“Bertanam jagung bisa menjadikan kami petani berdasi. Ibaratnya kalau beli sepatu, kami bisa membeli sepatu dari harga Rp 1,5 juta sampai Rp 15 juta. Tetapi, itu perumpamaan saja. Hanya gambaran betapa usaha jagung ini menguntungkan,” kata Ketua Kelompok Tani Temba Ndanda di Bima ini.

Dengan rata-rata produktivitas jagung sebesar 7 ton per ha dan harga rata-rata Rp 2.500 per kilogram, Ali bisa mendapatkan Rp 17,5 juta per ha. Setelah dikurangi biaya produksi termasuk sewa lahan, penghasilannya Rp 7,5 juta per ha.

Rakib mengatakan, pada masa awal-awal menanam jagung, produktivitasnya hanya berkisar 4-6 ton pipilan (biji jagung tanpa tongkol) per ha. Kini, seiring petani makin menguasai teknologi budidaya, pemupukan, jarak tanam, dan obat-obatan, produktivitas jagung meningkat menjadi 8-10 ton pipilan per ha.

“Karena itu, sekarang ada ungkapan ‘menanam jagung, menanam uang’ di sini,” ujarnya sembari tersenyum. Dengan 3 ha lahan jagung, Rakib bisa mengantongi Rp 30 juta-42 juta.

Keuntungan optimal juga diperoleh petani jagung di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu. Salah satunya adalah Jumardin (33) yang akhir Maret lalu sedang panen jagung di lahannya seluas 3 ha di Hu’u. Ia dan istrinya, Leni Arif (30), sampai membuat pondok dari kayu di areal jagung yang sudah dipanen untuk tempat menginap.

“Sudah dua hari ini kami menginap. Panen bisa habis dalam waktu tiga hari, makanya kami menginap di sini sembari menjaga hasil panen,” ujarnya.

Harga jagung di Hu’u mencapai Rp 3.000 per kg kering pipil, sedangkan jagung basah Rp 2.500 per kg. Untuk panen kali ini, Jumardin memperkirakan hasilnya bisa 8 ton per ha.

“Kami menunggu bos (pembeli) datang untuk membeli jagung. Kalau tahu kami sudah panen, bos-bos pasti banyak berdatangan dan menawar harga. Harapan kami sih harga jagung kering bisa naik lagi sampai Rp 4.000 per kg,” katanya.

Seluruh jagung hasil petani selalu terserap pasar. Setiap musim panen, belasan truk kontainer mengantre untuk membeli jagung. Pembeli dari Banyuwangi, Surabaya, dan Bali, untuk dipasok ke pabrik-pabrik pakan ternak di sana.

Abdul Razak (46) salah satu pengepul jagung di wilayah Kecamatan Empang dan Tarano, mengatakan setiap musim panen ia bisa menghabiskan uang Rp 3 miliar untuk membeli jagung dari petani. “Jagung itu lalu dikirim ke Banyuwangi, Blitar, dan Bondowoso (Jawa Timur),” ujarnya.

Setelah padi, jagung memang menjadi salah satu komoditas andalan Pemerintah Provinsi NTB. Melalui program Pijar atau akronim dari sapi, jagung, dan rumput laut yang digalakkan sejak 2008, pengembangan jagung di NTB gencar dilakukan. Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura NTB Budi Subagio mengatakan, produksi jagung NTB meroket dari sebelum adanya program Pijar sebesar 350.000 ton menjadi 785.864 ton pada 2014.

“Jagung dipilih sebagai komoditas unggulan karena mudah dibudidayakan, potensi lahan NTB yang luas dan iklim yang cocok, serta pasar yang terbuka lebar,” katanya. Selain di Kabupaten Sumbawa dan Dompu, sentra jagung terdapat di Kabupaten Lombok Timur.

Pemprov NTB pun tengah berupaya mengundang investor untuk membuka pabrik pakan ternak di NTB. Selain mendekatkan pasar dan upaya hilirisasi komoditas, keberadaan pabrik juga akan memberikan nilai tambah bagi perekonomian NTB.

(eng dkk/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*