Dibalik Kisah Perjuangan Warga Melati, Milyaran Rupiah Dihasilkan Jorong Ini

Kondisi jalan utama memasuki Jorong Melati, Kenagarian Lubuk Jantan Kecamatan Lintau Buo Utara, Tanah Datar yang hingga saat ini minim perhatian dari pihak terkait. (Ddy)

Advertisements

“Bunga melati, Indah mahkotamu tiada tara, Bening bak susu pualam, Tanpa noda tanpa cacat”

Tanah Datar, www.padang-today.com,- Sepertinya sajak diatas tidak berlaku buat Melati, salah satu dusun atau jorong di Kenagarian Lubuk Jantan Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar. Jorong Melati ini keindahannya tertutup oleh kondisi infrastruktur jalan yang dinilai warga setempat sangat tidak layak.

Siapa sangka, dibalik perjuangan masyarakatnya untuk mendapatkan fasilitas jalan yang terpantau www.padang-today.com, daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil padi terbesar di Lintau.

Menurut salah seorang warga Jorong Melati, Toni Febrian kepada media ini, Kamis (04/01/18) mengatakan jika jorong yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Lintau Buo ini terkenal dengan penghasil gubah padi terbanyak.

“Dilihat dari geografis daerah, jorong ini merupakan hamparan sawah yang luas, bahkan untuk sebuah rumah saja disini berada diantara sawah. Dan kondisi kekayaan jorong tidak seimbang dengan apa yang kami dapatkan disini,” ungkap Toni Febrian.

Diakui, jika mayoritas penduduk jorong Melati merupakan petani penggarap yang setiap tahun memanen dua kali dalam setahun. Dan jorong yang memiliki luas lebih kurang 700 hektar ini katanya bisa menghasilkan lebih kurang Rp 25 Milyar pertahun dari hasil penjualan padi.

Dari luas daerah itu, ungkap Toni 500 hektar merupakan hamparan sawah yang digarap lebih dari 100 kepala keluarga sebagai pengarap.

“Mata pencaharian utama sebagai petani penggarap bisa menghasilkan hasil padi yang cukup luar biasa, bahkan Kementrian Pertanian RI melirik jorong kami sebagai tempat dilakukan panen Raya yang akan dilakukan pada musim panen tahun ini,” pungkasnya.

Ketertarikan kementrian untuk menjadikannya Jorong Melati sebagai tempat panen raya dibuktikan dengan kalkulasi hasil padi di jorong yang tidak pernah mendapatkan bantuan infrastruktur jalan ini.

“Bayangkan, sawah seluas 500 hektar dilakukan panen 2x dalam setahun. Hasil panen per hektar normalnyo 5 ton sampai 6 ton/ha. Jika rato rato 5 ton/ha sekali panen, 500 ha x 5 ton ( 5000 kg) bisa menghasilkan gabah padi sebanyak 2.500.000 kg. Jika harga saat ini Rp 5.000/kg saja dikalikan 2,5 juta kg dapat menghasilkan Rp 12,5 Milyar sekali panen,” sebutnya.

Namun, hal itu tidaklah semahal harga sebuah kemerdekaan bagi warga jorong Melati. Hingga saat ini masyarakat yang terdiri dari 200 kk tersebut masih berharap atas perbaikan jalan yang konon tidak bisa dilewati jika musim hujan.

Hal itupun diakui oleh salah seorang tokoh masyarakat Lubuk Jantan, Elmi Yondra (34) jika hingga saat ini jalan yang menjadi sarana transportasi masyarakat di Melati sudah sangat mengkuatirkan.

“Apalagi jika musim hujan, kondisi jalan sangat berlumpur dan sulit dilalui. Hal ini menjadi kekuatiran warga disini atas keselamatan saat berkendara. Hal ini sudah kita sampaikan kepada otoritas daerah ini, tapi kemerdekaan untuk mendapatkan itu belum juga ada,” ungkap Yondra.

Informasi yang didapat media ini di jorong Melati, jika total panjang jalan yang belum tersentuh aspal itu berkisar 2 kilometer lebih dengan kondisi bebatuan dan berlumpur.

Kesulitan utama sangat dirasakan masyarakat, dan sudah sangat mengkuatirkan bagi keselamatan pengendara.

Kondisi jalan yang pernah di upload ke akun facebook netizen beberapa waktu lalu, sempat memberikan taggar kepada pemimpin daerah dan provinsi, namun hingga saat ini belum ada pernyataan dari pejabat berwenang untuk mencari jalan keluarnya.(ddy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*