Dilema Sosial Media Perusak Budaya

Media Sosial

Media Sosial

Advertisements

Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi yang begitu pesat membawa perubahan nyata dalam kehidupan. Perkembangan media sosial dalam kehidupan manusia sangat mempengaruhi cara-cara berkomunikasi antar manusia. Suami, istri, anak, teman yang berada didekat kita bisa jadi hanya dekat secara fisik tetapi tidak berkomunikasi secara efektif karena masing-masing disibukkan dengan media sosial melalui smartphone mereka. Sebuah perangkat modern yang membuat dunia seolah dalam genggaman.

Media sosial menurut Antony Mayfield didefinisikan sebagai tempat manusia berbagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, pemikiran, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan dan membangun sebuah komunitas.

Media sosial memungkinkan setiap orang berbagi dengan orang lain mengenai apapun tanpa terhalang jarak dan waktu, disisi lain media sosial mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, bahkan dapat disebut bahwa media sosial berubah menjadi media anti sosial. Akhir-akhir ini media sosial tidak lagi mendekatkan netizen, namun membawa ke jurang polarisasi yang dalam.

Hate Speech Budaya Siapa?

Menggunakan media sosial secara bijak tentu saja bagus untuk menjalin komunikasi, menjadi sumber pengetahuan bagi orang lain. Media ini bagaikan pedang bermata dua. Setiap detik jutaan orang membagikan perasaan, pengalaman, dan kegiatan mereka melalui media sosial, bahkan tidak sedikit pengguna yang tidak bertanggungjawab melakukan adu domba antar kelompok melalui hate speech. Ujaran kebencian yang membuat Ahok dijadikan tersangka penistaan agama, memicu aksi 411 dan 212, membuat dua kubu netizen yang saling berseberangan. Semua ini berawal dari ujaran kebencian yang dilontarkan oleh beberapa orang. Budaya Indonesia yang santun dan penuh rasa hormat menjadi tergerus oleh ujaran kebencian yang tak ada manfaatnya. Dimana tutur kata lembut kita?

Akhir-akhir ini, fenomena partisipasi aktif masyarakat dalam menggunakan teknologi untuk mendistribusikan dan menanggapi berita begitu cepat menyebar. Media sosial seperti whatsapp semakin banyak digunakan netizen untuk membentuk kelompok diskusi, yang akan memperkuat echo chamber (ruang gema).  Akibatnya hate speech, fitnah dan kekerasan dengan mudah menyebar di dunia maya. Tanpa disadari kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menghalalkan ujaran kebencian. Budaya siapakah ini sebenarnya? Bukan, ini bukan lagi cara yang benar dalam bersosialisasi dan berbudaya.

Masihkah Kita Indonesia?

Keadaan ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri, generasi muda kita sedang mengalami cobaan berat untuk tetap memegang nilai luhur budaya kita yang penuh dengan kesantunan. Media sosial tanpa disadari telah merubah berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya yang berlaku di masyarakat kita.

Dampak negatif yang jelas terlihat akibat maraknya media sosial diantaranya kurangnya waktu untuk bersosialisasi dan berinteraksi secara langsung, hilangnya komunikasi antar personal (Interpersonal Communication) dan kurangnya rasa kebersamaan atau diskusi bermanfaat yang dilakukan secara formal.

Informasi bergerak begitu cepat tanpa batas menembus jarak dan waktu. Perlu filterisasi terhadap informasi yang kita terima agar bernilai manfaat. Perlu pengawasan dan pembatasan akses oleh anak-anak agar generasi mendatang menjadi generasi emas yang membuat Indonesia berkilau di dunia. Pendampingan orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku anak saat mengakses media sosial. Selamatkan generasi muda Indonesia.

Hal yang perlu kita perhatikan adalah, bahwa media sosial tidak hanya di dunia orang dewasa. Dunia pendidikan yang dihuni oleh anak-anak kita juga menjadi imbas efek negatif penetrasi teknologi. Kembalikan budaya luhur Indonesia. Mulailah dari diri kita sendiri, dari keluarga, dari lingkungan kerja dan rekan sejawat. (AFIMRTW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*