Dituduh Makar, Orang Suliki itu Ditangkap

Adityawarman Diamankan Bersama 7 Orang Lainnya

Advertisements

———————————
Oleh: RIJAL ISLAMY
———————————

PADANG, PADANG-TODAY.COM
ADITYAWARMANThaha, menjadi salah satu tokoh yang ditangkap atas dugaan makar. Purnawirawan TNI yang ahli di bidang bom tersebut adalah putra asli Suliki kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada 4 Maret 1945. Adityawarman juga sempat menjabat sebagai Staf Ahli Panglima TNI. Dia ditangkap oleh kepolisian menjelang Aksi Damai 212. Ia diamankan di rumahnya pada Jumat pagi oleh petugas dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Beberapa nama lainnya yang juga diamankan adalah Rachmawati Soekarno Putri, Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zen, Ratna Sarumpaet, Rizal Kobar, dan lainnya.

Adityawarman dikenal sebagai seorang ahli bahan peledak kelas dunia. Predikat ini diperolehnya saat menjalani pendidikan militer di Fort Bragg, Amerika Serikat. Adityawarman memperolehnya bersamaan dengan purnawirawan lainya, Sjafrie Sjamsoeddin, yang menyabet gelar serupa dalam bidang spionase dan anti-teror.

Selepas pensiun dari TNI, Adityawarman banyak berkecimpung di dunia politik dan keorganisasian. Ia tercatat pernah menjabat sebagai ketua Gerakan Ekonomi dan Budaya (Gebu) Minang periode 2001-20014. Selain itu, Adityawarman sempat menduduki posisi sebagai Ketua Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2011-2015.

Dalam ranah politik, Adityawarman aktif sebagai juru kampanye Partai Bulan Bintang (PBB) dalam Pemilu 2014. Belakangan, seperti dikutip dari Media Indonesia, Adityawarman dikenal sebagai tokoh yang gencar menyuarakan bahaya pengaruh asing. Menurutnya, paham-paham seperti komunisme oleh Cina dan kapitalisme oleh Amerika Serikat pelan-pelan telah mengancam serta menghisap kekayaan Indonesia secara terselubung.

Dalam sebuah wawancara, Adityawarman mengaku berlatar belakang Islam yang kental. Ayahnya lulusan al-Azhar Kairo dan bekerja di Departemen Agama. Saat masih muda ia aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Bahkan ketika sudah aktif sebagai militer dengan pangkat mayor, ia mengaku pernah membuat pelatihan dasar bagi kader-kader PII.

“Saya di TNI pernah dianggap ekstrim kanan dan pernah diadili di kesatuan. Untung saja ada Pak Feisal Tanjung saat itu menjadi komandan brigade,” akunya kepada redaksi Suara Islam beberapa waktu lalu.

Ia dekat dengan tokoh-tokoh Islam. Saat itu, pada awal 1980an, Soeharto memang punya kecurigaan yang laten kepada kelompok Islam garis keras. Rentetan peristiwa seperti Talangsari dan Tanjung Priok mencerminkan pendekatan keras Soeharto kepada kolompok Islam garis keras.

Pada Pilpres 2014, ia mendukung Prabowo Subianto. Ia merasa Prabowo lebih cocok untuk kepentingan umat Islam.

“Waktu itu Prabowo banyak membantu ‘ABRI Hijau’. Kalau nggak ada tangan dia, belum tentu dapat banyak berbuat,” lanjutnya.

ABRI Hijau adalah sebutan untuk faksi Islam di dalam tentara Indonesia. Di dalamnya ada nama-nama seperti Faisal Tanjung, R. Hartono, dan Z.A. Maulani. [(*)]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*