Himpun Jajaran Terkait Kasus Pasien, Walikota Siap Berkantor di RSUD

Seluruh jajaran direksi,  kepala dan komite keperawatan di RSUD Adnaan WD Payakumbuh dihimpun Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi, Rabu (28/7) pagi.

Seluruh jajaran direksi, kepala dan komite keperawatan di RSUD Adnaan WD Payakumbuh dihimpun Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi, Rabu (28/7) pagi.

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-Seluruh jajaran direksi,  kepala dan komite keperawatan di RSUD Adnaan WD Payakumbuh dihimpun Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi, Rabu (28/7) pagi. Hal tersebut terkait dengan pemberitaan miring pelayanan di RSUD Adnaan WD yang dimuat di sejumlah media sehari sebelumnya.

Kedatangan Walikota Riza Falepi bersama Sekretaris BKD Drs. Hendri Warman dan Kabid Mutasi Firdaus ke RSUD Adnaan WD untuk meluruskan persoalan pelayanan. Hal tersebut dimaksudkan agar di kemudian hari tak terulang lagi kejadian yang sama.

Demi peningkatan pelayanan, Walikota menyatakan siap untuk mengantor di rumah sakit. Kepada jajaran direksi, Walikota meminta disiapkan ruangan kerja buat dirinya.

“Tolong siapkan ya, Buk, ruangan buat saya dan gak perlu besar-besar,” ucap Walikota kepada dr. Elista Yosepha, MARS didampingi semua direksi, kepala keperawatan dan sejumlah  perawat.

Di depan pejabat dan unsur  tenaga medis dan paramedis RSUD,  Walikota Riza Falepi meminta penjelasan terhadap kejadian yang sebenarnya atas pelayanan di rumah sakit tersebut.  Walikota juga meminta manajemen rumah sakit melakukan evaluasi dan benar-benar memperhatikan soal pelayanan.

“Saya akan terus memantau dan mengawasi pelayanan di rumah sakit ini,” katanya.

Namun Walikota menilai pihaknya perlu mendengar jawaban dari petugas, agar persoalannya menjadi terang.

Dijelaskan oleh Direktur Pelayanan dan Penunjang RSUD Adnaan WD di depan Walikota, kejadian pasien yang dikabarkan lari malam tidaklah benar. Menurut rekam medik, justru yang ada pasien memaksa diri untuk  pulang meski tak diizinkan dokter Hari Pernando yang piket malam itu. Dalam status pasien yang bersangkutan menandatangani surat pernyataan pulang atas permintaan sendiri.

Terkait dengan infus yang menjadi inti persoalan, menurut dr Elista Yosepha, diakui ada kelemahan perawat yang bertugas di ruangan itu. Tapi, ditambahkannya, bukan berarti setiap keluhan pasien dan keluarganya tak ditanggapi perawat. Jam per jam, dalam status pasien selalu tercatat, kapan perawat melakukan tindakan terhadap pasien bersangkutan.

Menurut dr. Elista Yosepha,  ada satu kali perawat yang bertugas malam itu terlambat memperbaiki infus pasien, karena tengah menjalani shalat magrib. Tapi, usai shalat magrib ketika keluarga datang untuk meminta  memperbaiki infus pasien,  juga sudah diambil tindakan dan sudah diperbaiki kembali oleh perawat.

Dijelaskannya pula, sekitar 15 menit  kemudian, keluarga pasien datang lagi meminta memperbaiki infus pasien, karena tetesan air infus yang tak lancar dan mengatakan tangan pasien sudah bengkak dan berdarah. Setelah diperiksa ulang, ternyata tak ada pembengkakan di lengan dan pendarahan. Kecuali, sedikit darah dalam pangkal  infus.

Saat perawat memberikan penjelasan tentang pemakaian infus, serta supaya tangan pasien tetap nyaman, perawat menyarankan untuk mengompres tangan pasien dengan air hangat. Namun, saran perawat disangkal keluarga pasien, seolah perawat mengomel. Sehingga terjadilah ribut-ribut antara perawat dengan keluarga.

“Tuduhan tangan pasien bengkak dan berdarah, dikatakannya, tak sesuai kenyataan. Darah yang dimaksud itu adalah darah dalam slang infus, akibat terlalu banyak digerakkan. Dan itu bisa saja terjadi dan tak membahayakan,” jelas dr. Elista.

Namun, terhadap kejadian tersebut, Walikota mengingatkan seluruh jajaran rumah sakit untuk tetap sabar dalam menghadapi  sikap emosional pasien dan keluarganya.

“Bagaimanapun beratnya pekerjaan kita, tetaplah memelihara kesabaran yang tinggi,” tegas Walikota.

Walikota juga meminta pihak rumah sakit untuk menyelesaikan setiap kasus yang ada secara berjenjang.

“Jika ada keluarga pasien yang dinilai terlalu banyak tuntutan, jangan dibiarkan beban itu ditanggung sendiri oleh perawat yang bertugas. Seyogyanya, persoalan itu disampaikan kepada pengawas perawatan dan dokter ruangan,” ingat Riza.

Menurut Walikota Riza Falepi, jumlah perawat yang masih kurang di RSUD Adnaan WD,  tak sesuai dengan beban kerja yang kian meningkat. Tidak tertutup kemungkinan berdampak kepada pelayanan. Pemko sudah sering meminta tambahan PNS keperawatan itu, tapi masih belum direspon pemerintah pusat.

“Kita di jajaran Pemko, sudah berbenah, tapi pandangan pasien dan keluarga pasien dengan tenaga medis di rumah sakit dalam menjalankan tugas, kadangkala berbenturan. Ada hal-hal yang kurang objektif,” ungkapnya.

Walau begitu, sebagai aparat pelayanan publik, atas nama Pemko, Walikota Riza Falepi meminta maaf kepada publik, terutama keluarga pasien bersangkutan.

“Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan itu,” sebutnya.

Untuk menindaklanjuti kejadian tersebut, sesuai dengan SOP RSUD dr. Adnaan WD, jajaran direksi rumah sakit mengundang keluarga pasien datang ke rumah sakit, Kamis (28/7) siang, guna mendengar keluhan dan klarifikasi  secara langsung dari keluarga pasien. Termasuk dari perawat dan kepala ruangan, terkait dengan pemberitaan di media massa.

Hal tersebut dilakukan untuk perbaikan pelayanan ke depan.

“Jika  benar terbukti dokter dan perawat kita yang salah, kita akan meminta maaf kepada pasien dan keluarganya atas ketidak kenyamanan tersebut. Sebaliknya, jika  hanya sekedar mis-komunikasi, seyogyanya keluarga pasien, ikut bertanggung jawab meluruskan nama baik rumah sakit,” terang Elista.(rel/Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*