Hutan Mangrove Bandar Bakau, Potensi Wisata Kota “Pengantin Berseri”

Wanda Syahrian, bersama mahasiswa Riau lainnya berada di kawasan Bandar Bakau, Dumai.

Wanda Syahrian, bersama mahasiswa Riau lainnya berada di kawasan Bandar Bakau, Dumai.

Dumai, PADANG-TODAY.com-Hutan bakau, banyak kalangan lebih mengenalnya dengan sebutan hutan mangrove. Keberadaan hutan mangrove ini dianggap penting, sebab menjadi pelindung abrasi dan dampak lingkungan lain yang diakibatkan dari aktivitas pantai pada umumnya. Namun siapa sangka, justru bagi sebagian masyarakat keberadaan hutan mangrove tak sekadar pelindung eksistensi lingkungan dari kerusakan.

Adalah ecotourism, wisata berbasis lingkungan menjadi salah satu produk yang ditawarkan hutan mangrove. Obyek wisata mangrove berbasis ecotourism ini dapat kita temui di Trenggalek, Probolinggo, Demak, Tulungagung, Indramayu, bahkan Bali dan Pantai Indah Kapuk. Tentunya masing-masing kawasan memiliki keindahan tersendiri yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke sana. Namun secara umum, kekuatan dan daya tarik dari hutan mangrove adalah nuansa tenang dan kedekatan pada alam yang jarang ditemui, terutama bagi masyarakat perkotaan.

Obyek-obyek wisata tadi pada umumnya berada di luar pulau Sumatera. Namun bagi masyarakat yang tinggal di pulau utama paling barat Indonesia ini, tak perlu kuatir. Sebabnya, di pesisir pantai Riau juga terdapat hutan mangrove yang pula punya pesona keindahan dan ketenangan layaknya di tempat lain.

Pengantin Berseri yang Sehat

Kota Dumai menjadi salah satu kota yang terkenal dengan pelabuhannya. Tak main-main, kota ini bahkan mengusung jargon “Pengantin Berseri yang Sehat”. Maksud jargon tersebut adalah menjadi kota pelabuhan, perdagangan, tourism, industri yang sejahtera, harmonis, aman dan tenteram, jadilah “Pengantin Berseri yang Sehat”.

Namun, jargon tersebut tidak semata penyemangat dan penyemarak nama kota ini saja. Salah satu perwujudannya adalah dengan pengembangan kawasan berbasis ecotourims, termasuk pelestarian hutan mangrove. Di Jalan Nelayan Laut, Kota Dumai, Provinsi Riau kita dapat bertemu dengan obyek wisata Bandar Bakau, dikenal dengan situs legenda Putri Tujuh yang mulai diketahui secara luas. Jangan salah, obyek wisata ini tak hanya hutan mangrove biasa. Justru obyek wisata hutan mangrove yang sekaligus menjadi kawasan konservasi ini mendapat lirikan banyak kalangan, mulai dari pemerintah daerah, peneliti, pecinta alam, mahasiswa, tentunya juga dari masyarakat dan pengunjung wisata Bandar Bakau sendiri.

Dua pengunjung mahasiswa Riau lainnya berada di kawasan Bandar Bakau, Dumai.

Dua pengunjung mahasiswa Riau lainnya berada di kawasan Bandar Bakau, Dumai.

Mengusung program unggulan ekosistem bakau, kawasan ini menjadi maknit ecotourism beragam kalangan tersebut. Salah satunya adalah Wanda Syahrian, mahasiswa program Ilmu Kelautan Universitas Riau yang memang dikenal aktif dalam banyak kegiatan berbasis lingkungan. Aktif di organisasi kemahasiswaan kampus, menjadikan Wanda ikut ambil peran di kawasan ini. Salah satu kegiatan yang diikutinya, yakni program pelestarian bakau.

Saat diajak berbincang-bincang oleh Padang-Today.com, Minggu (31/7), Wanda begitu terbuka berbagi pengalamannya dalam salah satu kegiatan pengabdian yang pernah diikuti. Menurutnya, segmentasi pengunjung dari hutan mangrove kebanggan Dumai ini tergolong beragam. Lebih lagi, obyek ini mulai ramai dikunjungi apabila diadakan kegiatan tertentu oleh pemerintah daerah dan kelompok lainnya.

“Pertengahan 2015 lalu, hingga sekarang kira-kira sudah dikunjungi 25.000-an pengunjung. Sebagiannya adalah masyarakat lokal Riau. Namun dari kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi, wisatawan lokal, hingga mancanegara juga kerap kali berkunjung ke daerah ini. Bahkan, beberapa kali Pemko dan SKPD Kota Dumai sudah melakukan kegiatan di lokasi tersebut,” ungkap Wanda.

Namun menurutnya, wisata hutan mangrove Kota Dumai ini masih terkendala perihal promosi. Sebabnya, promosi yang dilakukan masih sebatas usaha pemerintah kota, serta swadaya masyarakat dan para pecinta mangrove. Dari Provinsi sendiri, promosi untuk obyek wisata Bandar Bakau ini belum dilakukan secara optimal.

“Pengunjung yang datang sebenarnya sangat membantu perihal promosi. Arus informasi media sosial, menurut saya cukup besar pengaruhnya. Pengunjung kerap berfoto di obyek ini, lalu membagikannya pada kawan-kawan lain yang juga tentunya akan ikut tertarik,” terangnya lagi.

Di kawasan ini, tak hanya menyajikan bentangan hutan bakau pada para pengunjung. Terdapat pula sekolah alam yang ditujukan bagi pelajar tingkat sekolah dasar setiap hari Minggu. Ada pula program penghijauan yang dilaksanakan rutin oleh pengelola, juga penyediaan lokasi dan bibit penanaman bagi kelompok pengunjung yang ingin melaksanakan kegiatan bersama.

Saat ditanyai perihal harapannya terhadap kawasan ini, Wanda tak menafikan bahwa masih banyak keunggulan lain yang harus diusahakan berbagai pihak. Inginnya, kalangan Pencinta Alam Bahari, LSM, pihak pengelola, serta sebagian pengunjung bahu-membahu mengoptimalkan potensi mangrove yang sudah ada. Lebih lagi, bantuan promosi dari semua komunitas pegiat alam dan lingkungan, Pemprov, serta bantuan infrastruktur berupa tambahan jembatan titian di lokasi menjadi penunjang yang sangat besar.

Dengan adanya pengembangan wisata bahari dan pelestarian hutan mangrove di Riau tersebut, dipandang mahasiswa Ilmu Kelautan ini dapat menunjang salah satu pilar dari tujuan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Disampaikannya, konsep negara maritim adalah sebuah konsep yang memanfaatkan semua sumber daya alam di wilayah laut untuk kepentingan rakyat dan memakmurkan sebuah negara. Sebabnya, selain letak kota Dumai yang berada dekat dengan selat Malaka, pengembangan hutan mangrove Bandar Bakau berpotensi menjadi obyek wisata unggulan ke depan.

“Harapan dari saya sebagai pengunjung, pemerintah dapat meningkatkan kepedulian terhadap para pelaku konservasi, seperti pada Pak Darwis yang menjadi Ketua PAB (Pecinta Alam Bahari, red). Selain berbuat tanpa diminta, beliau adalah satu dari sedikit orang yang masih peduli lingkungan. Walaupun terhalang konversi lahan, beliau berusaha menjaga ekosistem mangrove dengan gigih,” tutup Wanda.(Novaldi Herman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*