Inilah Kisah Dari Koalisi Merah Putih Gerilya Bangun Oposisi Di Parlemen

sby-bertemu-koalisi-merah-putih-rev1Jakarta, PADANGTODAY.com – Sejak awal pilpres kubu Prabowo-Hatta merangkul sebanyak-banyaknya parpol untuk bergabung memenangkan pasangan nomor urut 1 di pilpres kemarin. Beda dengan kubu Jokowi-JK yang menyatakan hanya akan berkoalisi ramping, tak butuh banyak partai.

Pilpres pun telah usai, Jokowi-JK dengan koalisi rampingnya yakni PDIP, PKB, NasDem dan Hanura berhasil menang. Namun Prabowo-Hatta yang didukung koalisi besar yakni Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP dan PKS di malah kalah.

Akan tetapi, Jokowi-JK merasa butuh tambahan parpol untuk mendukung pemerintahannya di parlemen. Berbagai upaya, rayuan dilakukan kepada parpol Prabowo-Hatta yang biasa dikenal dengan koalisi Merah Putih.

Mereka tak bergeming, Golkar, Demokrat, PPP bahkan PAN yang sempat diragukan loyalitasnya hingga kini masih setia berada di koalisi Merah Putih. Bahkan kemarin (2/9), Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengundang koalisi Merah Putih ke Cikeas dan mengapresiasi sikap mereka yang konsisten menjadi penyeimbang di parlemen.

Tidak hanya itu, bahkan koalisi Merah Putih sempat merayu PKB untuk bergabung di saat ada silang pendapat antara Jokowi dan partai pimpinan Muhaimin Iskandar soal menteri harus tinggalkan jabatan parpol.

Berikut cerita koalisi Merah Putih gerilya bangun barisan oposisi di parlemen:

1.Deklarasi koalisi Permanen di parlemen
Sehari sebelum Pilpres 2014 digelar, tepatnya 8 Juli parpol koalisi pendukung Prabowo-Hatta melakukan deklarasi koalisi permanen di parlemen. Momentum deklarasi ini juga diambil setelah DPR mengesahkan Revisi UU MD3 dengan segala kontroversinya.

Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP dan PKS berkomitmen akan koalisi permanen di DPR hingga 2019 apapun yang terjadi dari hasil pilpres yang terjadi pada 9 Juli kala itu. Sejumlah visi dan misi koalisi permanen pun dibangun, disusun dan ditandatangani oleh seluruh ketua fraksi parpol yang hadir saat itu.

Namun setelah Prabowo-Hatta dinyatakan kalah di pilpres, Demokrat dan Golkar paling santer terdengar dikabarkan goyah dan akan menyeberang ke Jokowi-JK. Akan tetapi hingga putusan MK keluar, koalisi ini tetap komitmen bersama.

2.Tantowi rayu PKB gabung koalisi Merah Putih
Pernyataan Jokowi yang ingin menteri lepas jabatan parpol membuat gejolak di internal koalisi Jokowi-JK. PKB paling ngotot dan menentang niatan itu, karena posisi Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dinilai masih layak jadi ketua umum sekaligus menteri.

Melihat fenomena itu, koalisi Merah Putih mencoba memanfaatkan peluang. Wasekjen Partai Golkar Tantowi Yahya mengaku siap menampung jika PKB ingin mengalihkan dukungannya dan gabung ke koalisi Merah Putih.

Tantowi bahkan menyindir koalisi Jokowi – JK yang selalu mendengungkan tanpa syarat. Menurut dia, koalisi Prabowo – Hatta juga tanpa syarat. “Di Merah Putih juga tanpa syarat. Dari sebelum pilpres, parpol-parpol yang tergabung di Merah Putih tidak pernah membicarakan jatah menteri,” tutur dia.

Wasekjen Golkar ini menyatakan sangat membuka pintu bagi PKB jika ingin bergabung dengan koalisi merah putih. Dia yakin koalisi Prabowo-Hatta akan semakin solid dan kuat jika PKB bergabung.

3.Ical buka pintu jika PDIP gabung koalisi Merah Putih
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau Ical mengaku belum ada tawaran dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) untuk meminta partainya bergabung di pemerintahan. Malahan, Ical menawarkan PDIP untuk bergabung ke koalisi Merah Putih.

Ical pun menegaskan kalau Golkar akan tetap setia bersama Prabowo Subianto. “Golkar sudah pasti di Merah Putih,” ucapnya.

4.SBY bertemu koalisi Merah Putih
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengundang koalisi Merah Putih ke kediamannya di Puri Cikeas, Bogor. SBY mengapresiasi komitmen koalisi pendukung Prabowo-Hatta ini untuk menjadi penyeimbang di parlemen.

Menurut Wakil Ketua Umum Golkar Fadel Muhammad, pertemuan Merah Putih dan SBY untuk membahas perihal kerjasama dengan Demokrat dan merayu agar partai pimpinan SBY itu tak gabung dengan Jokowi-JK.

“Untuk bahas kerja sama dengan Partai Demokrat, dan biar Demokrat tidak perlu ke Koalisi Indonesia Hebat (Jokowi-JK),” kata Fadel.

Usai pertemuan itu, Ketua Harian Demokrat Syarief Hasan pun menegaskan bahwa partainya bakal menjadi penyeimbang di parlemen bersama koalisi Merah Putih. Bahkan, secara terang-terangan dia menyebut bahwa Demokrat tidak akan berada di pemerintahan Jokowi-JK.

Syarief menolak ketika ditanya apakah Demokrat sudah menjadi bagian dari Koalisi Merah Putih. Secara gamblang, ia menyebut seluruh mitra koalisi merupakan bagian dari partai berlambang mercy tersebut.(mr/nol)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas