Jembatan Kuranji : Sampai Kapan?

Oleh : MS Irsyad

Advertisements

Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi Universitas Andalas, Padang/Asisten Peneliti Dr. Bob Alfiandi, M.Si/Warga Kuranji

 

Sejak dibangun tahun 2010 sampai 2020 ini masyarakat masih menyimpan Tanya, Sampai bilo salasai pembangunan jambatan ko kawan? Ujar teman warga kuranji sekitar jembatan. Pertanyaan itu pernah saya tanyakan kepada diri sendiri 2 tahun sebelum teman ini menanyakannya.\

Bukan maklum lagi, sudah 10 tahun pembangunan jembatan kuranji nyaris tidak banyak yang berubah. Mungkin, yang lalai itu warga sekitar karena tidak mau berpartisipasi mewakafkan tanah-tanah angku moyang yang telah digarisi turun-temurun ataukah mereka yang menjanjikan pembangunan akan tuntas di 2020?

Entahlah kawan, kita hanya bisa berharap dan berdoa agar kelak pembangunan jembatan dapat kita rasakan suatu saat nanti, atau boleh jadi cucu-cicit kita yang merasakan dampaknya di tahun 2100 mendatang? Bisa saja!

Tentu, banyak pihak yang mengharapkan pembangunan cepat terealisasi, tapi, tidak semua pihak mengharapkan pembangunan dituntaskan. Kira-kira bagaimana mencerna pernyataan tersebut. Dalam praktek dilapangan yang saya temui, ada pihak-pihak yang “mengurangi” jatah berupa post angka-angka hitungan.

Baik itu material, budgeting, MOU dan tenaga kerja. Hal itu telah terendus dibalik genangan lumpur bekas tetesan hujan dari bibir jembatan. Kenapa harus 10 tahun dulu, artinya dua periode gubernur tidak ada perhatian serius dalam merealisasikan pembangunan jembatan kuranji ini. Tidakkah jembatan kuranji masuk dalam program strategis-prioritas dinas-dinas terkait?

Tidakkah terbersit untuk merampungkan pembangunan yang telah terkatung-katung? Tidakkah ada pendekatan ramah-tamah dengan warga sekitar? Ataukah hanya menjalankan tugas dengan dibalut kata” hadir” dimonitor ruang kantor yang kemudian menggunakan fasilitas Negara demi kepentingan negarakah? Apakah sudah tidak ingat bahwa diawal menjadi ASN, di awal menjabat telah bersumpah dengan menyebut nama Allah. Lalu, dimanakah sumpah itu?

Sebagai warga kuranji, harapan hanya tertumpu pada yang diatas, hanya mengharapkan kepada yang menguasai langit dan bumi. Apalah mereka itu, hanya makhluk sama seperti saya yang jauh dari sifat-sifat memperbaiki.

Tapi satu hal bahwa untuk menjadikan Sumatera Barat agar optimal harus dibangun terlebih dahulu mental SDM yang pantang-susut, pantang-susut bila dicemooh, pantang-susut bila dibentak, pantang-susut bila tak diperhatikan bahkan pantang-susut bila tak dihargai karena yang mesti menjadi perhatian prioritas adalah bukan ridho makhluk tapi ridho Allah semata. Begitulah ujung kata yang pernah disampaikan imam syafii ketika salah seorang muridnya bertanya, Ridho siapakah yang mesti kita cari ya imam?.

Monitoring, Realisasi

Dalam Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) tahun 2018, data dinas terkait, 60 persen lebih anggaran habis hanya untuk biaya administratif perkantoran. Sisanya baru disumbangkan untuk pembangunan jalan, jembatan, gedung dan sebagainya. Begitu budaya kerja yang mestinya seorang pimpinan bisa mengakomodir mana yang hendak menjadi prioritas dan bagian terpenting demi masyarakat banyak.

Dalam mekanisme dan aturan yang ada, semestinya post-post anggaran serta program-program kerja yang telah tersusun hendaknya mengusahakan barang lama daripada barang yang baru masuk. Dominasi dan disposisi seorang pimpinan dapat langsung memberikan instruksi secara ramping dan cepat dalam menindak lanjuti program prioritas dari tahun ke tahun. Termasuk pembangunan jembatan Kuranji yang telah dicanangkan di akhir periode Gubernur Gamawan Fauzi dulu.

Lantas, warga sekitar sebagai agent utama yang mengetahui jalannya suatu pembangunan terus menanti dan menanyakan. Kapan waktu penyelesaian jembatan dalam MOU yang semestinya dan apa keluhan dari pemerintah terkait problem yang terjadi dilapangan? Apakah tidak bisa dilaksanakan komunikasi secara baik-baik dengan warga yang bersangkutan?

Ataukah ada keengganan dari masing-masing stakeholders untuk saling bertemu bertegur sapa dalam satu forum silaturahmi? Bukankah setiap stakeholders saling bahu-membahu agar pembangunan cepat terealisasi. Ataukah tender yang dijalankan senyap dan sunyi dari keterbukaan informasi kepada public? Ataukah tidak adanya transparansi post-post output yang telah berlangsung selama hampir 10 tahun kepada warga yang ingin melihatnya? Dimanakah spanduk transparan itu terpampang?

Maka, perlu kepekaan dan pendekatan dari pemerintah terlebih dahulu dalam mengidentifikan setiap delik masalah aduan yang dikeluhkan dan disampaikan oleh warga. Begitupun dengan warga sekitar, jangan hanya mencari untung lebih yang seharusnya warga harus paham bahwa pembangunan jembatan membutuhkan uluran kerjasama triple helix (pemerintah, swasta dan masyarakat).

Untuk itu, sebagai warga kuranji kembali mengingat dan mencurahkan semua aspirasi dan pertanyaan warga, melalui tulisan ini untuk mengenang kembali 10 tahun yang telah lalu untuk tidak lagi abai terhadap penanganan yang telah terbengkalai selama 10 tahun ini. Setiap kita harus paham pentingnya pembangunan jembatan bagi sebuah daerah yang akan berkembang dan menjadi koridor utama penghubung berbagai sektor. Sekali lagi mohon kepekaan dari bapak-ibu warga sumatera barat, baik dilevel pemerintah, swasta dan masyarakat sendiri. Untuk kembali ke pangkuan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*