Jonpriadi, Masih Banyak BABS dan Jamban Cubluk di Padangpariaman

Setdakab Padangpariaman Jonpriadi pada saat memberikan sambutan pada acara  EHRA (Environment Health Risk Assesment) di IKK Parit Malintang

Setdakab Padangpariaman Jonpriadi pada saat memberikan sambutan pada acara EHRA (Environment Health Risk Assesment) di IKK Parit Malintang

Padang-Today.com__ Terdata 26,1 Ribu KK masih melakukan BABS, sementara itu dari 70,7 ribu jamban skala rumah tangga hanya 2,6 ribu jamban sehat permanen/septik. Hal ini terungkap hasil analisa terhadap Study EHRA (Environment Health Risk Assesment) yang dilakukan oleh Tim Penyusun Dokumen RPJMD Sektor Sanitasi Kabupaten Padangpariaman.

Dalam kajian EHRA di Padangpariaman,  Buang Air besar Sembarangan (BABS) dan Jamban Cubluk (jamban yang masih mencemari air tanah) masih banyak ditemukan. Terkait dengan kajian tersebut, Tim EHRA tersebut berupaya pada bulan juni ini melakukan Pemetaan Profil Sanitasi Kab. Padang Pariaman tahun 2016.

Dalam siaran pers Humas Setdakab Padangpariaman menjelaskan, Terdata 26,1 Ribu KK masih melakukan BABS, sementara itu dari 70,7 ribu jamban skala rumah tangga hanya 2,6 ribu jamban sehat permanen/septik. Dengan kata lain 68,1 ribu jamban skala rumah tangga lainnya masih mencemari air tanah.

Bahkan analisa yang dilakukan oleh Tim Teknis Pokja Sanitasi Padang Pariaman Pada Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) tersebut menemukan beberapa Nagari bahkan memiliki angka yang
melebihi data tersebut di atas.

Sekdakab Padangpariaman, Jonpriadi yang menghadiri rapat tersebut mengatakan, ternyata, di Padang Pariaman, Buang Air besar Sembarangan (BABS) dan Jamban Cubluk (jamban yang masih mencemari air tanah) masih banyak. Ini terungkap dari rapat mingguan Tim Penyusun Dokumen RPJMD Sektor Sanitasi atau lebih dikenal dengan Strategi Sanitasi Kabupaten Padang Pariaman 2017-2021 di Sekretariat Pokja Sanitasi, katanya.

“Ditemukan bahwa masih banyak BABS dan Jamban Cubluk di Kab. Padang Pariaman. Hasil analisa tersebut berdasarkan analisis terhadap Study EHRA (Environment Health Risk Assessment) yang dilakukan oleh Tim Penyusun Dokumen SSK pada hari Kamis 23 Juni 2016,” ungkap Jonpriadi.

Dijelaskan, Sebagai contoh di Kenagarian III Koto Aur Malintang belum ada satupun jamban sehat permanen/septik, demikian juga di Nagari Aia Tajun BABS-nya mencapai 44% jauh lebih tinggi dari jumlah data-data BABS Kabupaten yang hanya 26,1%.

Pada kesempatan itu, Ketua Tim Penyusun Dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten Padang Pariaman tahun 2017-2021 menjelaskan, Pada rapat kali ini, Pokja Sanitasi hanya sempat melakukan analisa terhadap Sub Sektor Air Limbah Domestik hasil study EHRA Dinas Kesehatan tersebut. Sementara itu 3 sub sektor lainnya akan dilakukan pada rapat minggu terakhir bulan juni sebelum memasuki lebaran Idhul Fitri 1437 H.

Ia menambahkan, Adapun analisis sub sektor tsb antara lain: Analisis Pengelolaan Persampahan, Analisis Pengelolaan Drainase dan PHBS (Prilaku Hidup Bersih  dan Sehat)/ Nagari.

Diharapkan target bulan Juni berupa Pemetaan Profil Sanitasi Kab. Padang Pariaman tahun 2016 bisa dicapai setelah terdapatnya hasil analisis ke-4 sub sektor sanitasi tersebut.

Rapat minggu ini langsung dipimpin oleh Ketua Tim Penyusun Dokumen Strategi Sanitasi Kabupaten Padang Pariaman tahun 2017-2021 Teguh Widodo, AKs. MTP yang juga Kabag Ekbang Setdakab. Padang Pariaman.(suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*