Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat di Limapuluh Kota

O SH - Divisi Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Limapuluh Kota.

O SH – Divisi Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Limapuluh Kota.

Advertisements

Limapuluh Kota, PADANG-TODAY.com–Ketua Divisi Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kabupaten Limapuluh Kota, O, SH mengakui bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Limapuluh Kota sampai Oktober 2015 ini sudah mencapai 22 kasus dan mengalami peningkatan dari tahun 2014 lalu.

“Sampai Oktober ini saja sudah ada laporan kepada kita sebanyak 22 kasus, jumlah itu naik 1 kasus dari tahun 2014 lalu. Kebanyakan kasus itu berupa pencabulan terhadap anak, kasus sodomi dan kasus kekerasan lainnya kepada anak,” jelas O, kepada wartawan di Balai Wartawan Luak Limopuluah, Selasa, (27/10).

Penomena kasus kekerasan terhadap anak, disampaikan O, bagaikan gunung Es, hanya menunggu waktu. Mengingat, jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang tidak melapor diyakini lebih banyak lagi.

“Kita menduga banyak kasus kekerasan terhadap anak yang tidak dilaporkan kepada kita. Ini hanya yang melapor saja, dan kita yakin kedepan dengan adanya wadah P2TP2A ini masyarakat bisa melaporkan berbagai kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan,” jelas O.

Menurut O, bertambahnya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Limapuluh Kota hingga Oktober ini lebih karena kemajuan infromasi yang tidak terkontrol. Terkadang, disamapikannya, anak-anak lebih mengetahui teknologi ketimbang orangtua.

“Contoh anak-anak dikasih HP jenis Android, sehingga anak dengan laluasa mengakses berbagai bentuk pengaruh negatif tanpa kontrol dari orangtua.  Kadang anak-anak sekarang lebih canggih dari ornagtua, 75 persen secara teknologi anak lebih hebat dari orangtua, sehingga sering orangtua terkicuh di nan tarang,” sebutnya.

Disamping itu, banyaknya tontonan TV dengan tayangan perkelahian sering dicontoh dalam realita oleh anak-anak kepada siapapun terutama kepada teman sebayanya. Untuk itu, O meminta agar orangtua harus melakukan kontrol terhadap apa yang di tonton oleh anak.

“Tontonan TV, dengan gaya-gaya berkelahi. Seharusnya orangtua membatasi atau menjelaskan kepada anak terhadap apa yang dilihatnya dari TV. Dengan begitu kita berharap pengaruh-pengaruh negatif terhadap anak itu bisa diminimalisir,” sebutnya.

Disampaikannya, kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan kemampuan intelektual anak untuk bisa memahami perkembangan teknologi. Dengan begitu, O meminta tidak hanya anak yang diberikan bimbingan oleh Pemerintah, namun orangtua harus juga diberikan penjelasan terhadap kemajuan teknologi.

“Kita ke depan akan memberikan penyuluhan terhadap anak SD, SMP, dan SMA. Namun, tidak hanya anak yang harus diberikan penyuluhan terkait kemajuan teknologi tetapi juga orangtua harus dikenalkan dengan kemajuan teknologi,” sebutnya.(rel/dod)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*