“Kebahagiaan Orang Minang Terpasung”

LINDO KARSYAH

LINDO KARSYAH

Artikel Oleh: Lindo Karsyah

Apabila dirimu orang Minang atau penduduk yang tinggal di Sumatera Barat, ada baiknya kita simak laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Indek kebahagiaan penduduk seluruh Indonesia, tahun 2014, yaitu 68,28. Orang Indonesia lebih bahagia dibanding tahun 2013, yaitu 65,11.

Lantas dimana posisi Sumatera Barat? Dari data tersebut, Sumbar berada pada posisi kedua terbawah paling tidak bahagia, dengan indek 66,79. Di bawah kita Papua 60,97. Di atas Sumbar, ada Nusa Tenggara 66,92.
Sementara paling bahagia, Riau 72,42, disusul Maluku 72,12, dan Kalimantan Timur 71,45.

Ini variabel utamanya; Kepuasan terhadap Kondisi Kesehatan, Kepuasan terhadap Pendidikan dan
Ketrampilan, Kepuasan terhadap Pekerjaan, Kepuasan terhadap Pendapatan Rumah Tangga, Kepuasan terhadap Kondisi Keamanan, Kepuasan terhadap hubungan sosial, Kepuasan terhadap Ketersediaan waktu luang, Kepuasan terhadap kondisi rumah, Kebahagiaan Hidup, Harapan/keinginan yang sudah tercapai, Kepuasan Hidup, Kepuasan terhadap Kondisi Lingkungan, dan Kepuasan terhadap Keharmonisan Keluarga.

Nilai indeks 100 merefleksikan kondisi sangat bahagia.

Sebaliknya, angka indeks 0 menggambarkan kehidupan individu yang sangat tidak bahagia.  Indeks Kebahagiaan Indonesia merupakan indeks komposit yang diukur secara tertimbang dan mencakup kepuasan pada variabel di atas.

Survei ini menggunakan rujukan dari organisasi internasional yaitu The Organisation or Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai bentuk pelaksanaan The Millennium Development Goals (MDGS).
Kepala Bidang Statistik Sosial BPS DKI Jakarta, Sri Santo Budi, yang merilis data pada Kamis, 5 Februari 2015) mengatakan, survei yang dilakukan terhadap 1.129 rumah tangga dari 33 provinsi.

Dari survei yang dilakukan, BPS menemukan beberapa temuan menarik yang dihasilkan dari indeks kebahagiaan DKI Jakarta, berdasarkan karakteristik demografi dan ekonomi. Salah satunya, yang belum menikah paling tidak bahagia. Indeks kebahagiaan paling rendah terdapat pada rumah tangga dengan anggota rumah satu orang atau lajang, dengan indeks 66,96. Indeks kebahagiaan paling tinggi pada rumah tangga dengan anggota rumah tangga dua orang mencapai 69,71.

Ada kecenderungan, semakin banyak jumlah anggota rumah tangga, indeks kebahagiaan akan semakin tinggi. Tetapi menurun kembali pada rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga lebih dari tujuh orang.

Indeks kebahagiaan penduduk berstatus menikah dan cerai mati cenderung relatif sama, yaitu masing-masing 69,32 dan 69,29. Indeks kebahagiaan penduduk yang berstatus belum menikah lebih rendah dibandingkan pasangan yang cerai hidup, yaitu 67,76 untuk penduduk yang belum menikah dan 67,90 untuk penduduk yang cerai hidup.

Indeks kebahagian juga ditentukan oleh tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula indeks kebahagiaan. Penduduk yang tidak atau belum sekolah, mempunyai indeks kebahagiaan paling rendah sebesar 63,99. Sedangkan indeks kebahagiaan tertinggi dimiliki oleh penduduk dengan tingkat pendidikan S2 dan S3 sebesar 79,78.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, akan semakin meningkatkan pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi rata-rata pendapatan rumah tangga, semakin tinggi pula indeks kebahagiaan. Pada tingkat pendapatan lebih rendah dari Rp 7,2 juta per bulan, indeks kebahagiaan mencapai 76,21. Sedangkan pada tingkat pendapatan Rp 1,8 juta per bulan, indeks kebahagiaannya hanya 62,35.

Setali dengan data tersebut, Jeffrey Hadler dalam bukunya Sengketa Tiada Putus (Matriakat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau) menuliskan, bahwa adat Minang itu bersifat menindas, desa-desa (nagari-nagari) Minangkabau bagaikan cangkang-cangkang kosong tradisionalisme, dari kedua-keduanya orang perlu melarikan diri.

Apakah ini menjadi penyumbang ketidakbahagiaan orang Minang. Hubungan sosial  dan budaya sudah menitahkan untuk angkat kaki dari tanah kelahiran. Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantaulah bujang dahulu, di kampuang paguno balun. Ketika sudah tua Bangka, balik kampung, tinggal di surau.

Alamat jamak sudah kemalangan orang Minang. Iyalah kalau sukses berada secara materi, dipuja-puja sampai tak ada harta yang diberikan lagi. Entahlah…dunsanak! Tapi yang jelas ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Silakan para cendekia mendadarnya dalam kuali akademik.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas