Kepanikan Jelang Pemilihan


Oleh Reido Deskumar

Kalau orang sedang panik, kelihatan sekali beda tingkah lakunya. Tak beraturan, muka kusut, mondar mandir ke sana kemari tidak bisa diam. Apa saja bisa dilakukan, tak ada malunya. Walau harus melanggar aturan yang sudah ada. Dalam pikiranya hanya satu masalah selesai, tujuan tercapai.

Begitu juga dalam pemilihan Gubernur Sumbar. Ada pasangan calon yang tenang. Melangkah tanpa beban dan masalah. Mengunjungi masyarakat dengan muka sumringah. Mengalir bak air tanpa ada hambatan sedikitpun. Semua aturan dan regulasi tetap dihormati tidak dilanggar.

Ada pula pasangan calon yang panik. Dimukanya memang tidak kelihatan tetapi dibelakang sangat kentara. Regulasi dan aturan dilanggar tanpa ada rasa bersalah. Biasanya kepanikan muncul dikarenakan suara masih rendah dan tak bisa bersaing secara sehat dengan kandidat lain yang memiliki suara lebih tinggi. Agar elektabilitas dan suara naik, cara-cara yang tidak sehatpun dilakukan. Namanya saja sudah panik. harampun bisa jadi halal dan yang salahpun bisa jadi benar.

Bentuk kepanikan jelang pemilihan sudah kelihatan. Ada pasangan calon yang sangat jelas membagikan sembako berupa beras. Dibungkus rapi, lengkap dengan foto beserta nomor urutnya. Adapula dengan cara-cara memakai pihak ketiga. Mencantumkan lambang dan nama partai, foto ketua umum partai dan anggota DPRD daerah satu partai tanpa langsung mencantumkan foto pasangan calon. Cara itu dilakukan supaya tidak kelihatan betul mainnya dalam menabrak regulasi. Namun tujuannya tetap sama agar pasangan calon yang didukung partainya bisa mendapatkan suara.

Di media begitu percaya diri menyampaikan hasil survey mencapai 49,5% dan ada pula menyampaikan kandidatnya lebih unggul dari kandidat lain. Jika begitu adanya, untuk apa masih bagi-bagi beras? Seharusnya lebih santai menikmati perjalanan jelang pemilihan bukan menampilkan kepanikan jelang pemilihan.

Secara regulasi sudah dijelaskan ada barang-barang yang diperbolehkan untuk dibagikan saat kampanye dan sosialisasi ada pula yang tidak boleh. Menurut PKPU Nomor 4 Tahun 2017 pasal 26 barang-barang yang diperbolehkan berupa pakaian, penutup kepala, alat minum, kalender, kartu nama, pin, alat tulis, payung dan atau stiker maksimal berukuran 10 kali lima centimeter. Selain itu tentu tidak diperbolehkan termasuk bag-bagi sembako salah satunya berupa beras.

Saat status masih calon saja sudah terang-terangan “menyogok” masyarakat dengan dalih-dalih bantuan sembako. Apalagi saat terpilih, bisa dibayangkan akan banyak bentuk kepanikan yang dilakukan dengan menabrak regulasi dan aturan-aturan yang ada.

Semuanya sudah jelas dan sudah ada aturannya. Apa saja barang yang diperbolehkan untuk dibagikan dan apa saja barang yang tidak boleh dibagikan ke masyarakat. Mari jaga bersama aturan tersebut jangan “beli” suara masyarakat dengan cara-cara yang salah. Berkompetisilah secara sehat dan fair kalau memang takdirnya menang, tak akan kemana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*