Ketua MUI Sumbar, Berkorban Jangan Menimbulkan Korban

Ribuan jemaah Shalat Idul Adha di Lapangan Kantor Walikota Payakumbuh, Senin (12/9).

Ribuan jemaah Shalat Idul Adha di Lapangan Kantor Walikota Payakumbuh, Senin (12/9).

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-Peningkatan kualitas menusia yang didasari dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT bakal menjamin kemajuan Payakumbuh ke depan. Peningkatan kualitas itu harus diiringi dengan semangat berkurban dan memahami arti perintah Allah SWT itu.

Darah yang tertumpah dari penyembelihan hewan ternak dan daging yang diberikan, bukan sebuah tujuan. Tapi dalam rangka memaknai arti yang terkandung  dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putera satu-satunya Ismail.

Keihlasan ayah dan anak dalam berkorban, telah dilakukan Nabi Ibrahim. Namun, Allah menggantinya dengan menyembelih hewan ternak, tanpa ada yang menjadi korban. Hikmah yang dapat dipetik dalam kemajuan zaman sekarang ini, harus disikapi oleh seluruh orang tua, pemimpin keluarga. Begitu juga para pemimpinan lainnya dalam berbagai kelompok, termasuk para pemimpin kota, kabupaten, provinsi dan Negara ini.

Demikian ditegaskan Ketua MUI Sumatera Barat H. Gusrizal Gazhar, Lc, MA, ketika dipercaya menjadi Khatib Shalat Idul Adha 1437 H, di halaman gedung Balaikota Payakumbuh yang baru di eks lapangan Poliko Payakumbuh, Senin (12/7). Ribuan jemaah bersama Walikota H. Riza Falepi, Wawako H. Suwandel Muchtar, Sekdako H. Benni Warlis, beserta isteri, anggota Forkopimda, Kepala Kantor Kemenag H. Asra Faber dan pimpinan SKPD beserta puluhan ribu jemaah, terpaku mendengar tausyiah ketua MUi itu.

Maha besar Allah SWT, katanya lantang. Hewan ternak pengganti sembelihan Nabi Ibrahim, bukti sejarah dan perintah agama yang berabad-abad dilakukan umat Islam hingga kini. Namun, masih banyak umat yang belum memaknai arti dari perintah Allah itu.

Dalam kehidupan sekarang ini, seharusnya semangat berkorban yang dilaksanakan manusia, jangan sampai  menimbulkan korban kepada generasi mendatang. Gusrizal mencontohkan, betapa banyaknya orang tua berkorban menghidupkan keluarga. Namun,  semuanya sebatas memberi makan dan pendidikan saja. Tapi, masih banyak pemimpin keluarga yang lemah dalam membimbing anaknya dibidang agama. Persoalan itu, katanya, akan menimbulkan korban-korban terhadap generasi yang akan datang, akibat lemah keimanan dan ketaqwaan.

Di bagian lain Gusrizal juga mencontohkan, terhadap kota Payakumbuh yang akan melaksanakan Pilkada 2017. Jika warga kota salah dalam memilih, dan hanya memberikan suara berdasarkan nafsu dengan iming-iming uang, akibatnya akan jatuh korban kepada masyarakat Payakumbuh di masa datang. Pilihlah pemimpin yang berkualitas, berdasarkan suara hati nurani dan memiliki dasar agama yang kuat. Karena semangat berkorban dalam Pilkada  itu, bukan menimbulkan korban bagi yang lain, ingatnya.

Sementara itu, Gusrizal juga mengajak para ulama, untuk memperbaiki  niat dan keikhkasan dalam berdakwah.  Menurutnya, ulama bukan sekedar menceramahi umat, bukan raun dari satu masjid ke masjid lainnya. Tapi, seyogianya punya surau dan masjid yang tetap. Ulama tonggak tua di surau. Karena, ulama tempat mengadu, tempat berkeluh kesah bagi umat. Jangan menjadi ayam gadang yang meninggalkan lasuang, ingatnya.

Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi dan Kepala Kantor Kemenag H. Asra Faber, dalam sambutan yang sama menjelang shalat Idul Adha, mengajak warga kota untuk mengaplikasikan hari raya qurban ini dengan mendekatan diri kepada Allah SWT. Menurut Asra Faber, pemko telah banyak berbuat untuk peningkatan kehidupan beraga di kota ini, yang dimulai dengan pendidikan akhlak mulia, membaca dan menghafap Alqur’an, sebelum belajar serta menggalakkan gerakan subuh berjemaah.

“Jika gerakan shalat berjemaah terus dipertahankan, Payakumbuh bakal menjadi kota yang diredhai Allah dan menjadi Turki-nya Indonesia,” sebut Asra Faber.(rel/Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*