Kisah Sukses: Rino, Pengrajin Interior dan Furnitur Tiru Menteri Susi, Tidak Tamat SMP, Kerjakan Interior Hotel Bintang 4

Rino Oktarindo mengerjakan bedset minimalis.

Rino Oktarindo mengerjakan bedset minimalis.

Advertisements

Payakumbuh, PADANGTODAY.com-Jangkauannya Sumbar dan Riau. Dilihat dari tampang dan perawakan memang sangat biasa. Namun, Gedung Hotel Pangeran di Jalan Sudirman Kota Pekanbaru, adalah salah satu bukti kakok tangannya. Rino Oktarindo melalui bendera Rino Interior dan Furniture, kini dikenal luas di Payakumbuh, Limapuluh Kota, Kota Padang dan Pekanbaru Riau.

Rino memulai usaha saat jadi pekerja upahan menata interior di sejumlah bangunan dan gedung perkantoran di Payakumbuh pada tahun 2000 silam. Setelah itu, mendapatkan kesempatan untk ikut bergabung dengan perusahaan orang lain membangun Hotel Pangeran Beach di Padang. Enam lantai dengan kamar masing masing 39 kamar, menjadi kerja besar pertama yang ikut dikerjakan Rino.

Sembari bekerja dengan sistem upahan harian dan borongan, Rino membeli sebuah mesin potong, dari gajinya. Lewat mesin barunya itulah, ia belajar membuat bermacam bentuk interior rumah, kantor dan bangunan lainnya.
Setelah kontrak di Hotel Pangeran Beach Padang selesai, suami dari Vina yang hanya mencicipi bangku sekolah hingga kelas 2 SMPN 1 Kecamatan Payakumbuh Bungo Setangkai itu, bekerja selaku sub kontraktor di Pekanbaru.

Masa-masa kerja dengan orang lain itu dimanfaatkan Rino untuk belajar segala bentuk dan jenis interior. Hal itu terus dilakukannya hingga tahun 2011.

Merasa mampu, ia memberanikan dirinya untuk buka usaha sendiri. Pria kelahiran tahun 1985 itu, kembali kekampung di Sungai Beringin kecamatan Payakumbuh Limapuluh Kota. Berbekal satu mesin potong yang dibelinya lebih awal, dengan menggadaikan BPKB sepeda motornya, ia menggajukan pinjaman ke BRI melalui program Kredit Usaha Mikro (KUR) tahun 2012. Saat itu, pihak bank membantu mencairkan dana pinjaman kredit sebesar Rp.20 juta. Jumlah itulah yang dijadikan sebagai modal awal.

Dibelinya mesin press, mesin potong siku dan bor duduk. Sisanya dibelikan bahan-bahan seperti kayu dan berbagai kebutuhan perbengkelan lainnya.

“Pacah talua rumah pertama yang saya buatkan interiornya adalah rumah milik Zulhikma di Tanjunggadang Payakumbuh. Rumah itu adalah milik orang Mudiak Limapuluh Kota yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang buku di pasar Payakaumbuh,“ kata Rino.

Kerja pertama itu, kata Rino, didokumentasikannya. Hasilnya dipergunakan untuk bisa menambah pergaulannya.

“Setelah itu saya dapat borongan rumah milik Eli Rosba di Balai Nan Duo dengan borongan Rp27 juta. Dari hasil itu saya dapat hasil Rp.3 juta. Penghasilan itulah yag terus saya kumpulkan dan jadikan sebagai tambaham modal,” kata Rino mengenang kembali rintisan usahanya itu.

Lepas dari perjuangan awal yang sering kali mendapatkan cibiran dari banyak orang, ayah dari dua anak Taufik (6 tahun) dan Aka (3 tahun) tetap tegar. Tidak sampai enam bulan kemudian ditahun 2012, sejumlah borongan besar sudah didapatkannya. Diantaranya adalah membuat interior enam kantor camat di Limapuluh Kota. Keenam kantor itu adalah, Harau, Kapur IX, Lareh Sago Halaban, Akabiluru dan Mungka serta Bukit Barisan. Keenam kantor itu menjadi pintu masuk baginya dikenal luas.

Setelah itu, kerja datang bertubi-tubi. Hingga kini, sejak tahun 2012 membuka sendiri, tidak kurang 40 buah rumah, kantor dan bangunan lainnya, sudah menjadi hasil karyanya.

Ingin Ruko

Bicara interior, tidak banyak pengrajin, tukang kayu ataupun teknisi yang mampu menyaingi hasil karya Roni. Kecekatan dan ketelitiannya, menjadi ciri khas. Pelaku usaha yang memulai pengalamannya karena himpitan ekonomi itu, kini sudah bisa membantu orangtua dan karyawannya. Tidak kurang tujuh kepala keluarga, kini telah menggantungkan hidup mereka pada usaha yang dimulai Rino.

Hingga kini, Rino belanja bahan-bahan kayu dan sejenisnya tidak kurang Rp40 juta sebulan. Jumlah itu untuk menyuplai kerja-kerja yang tengah di order orang lain.

“Desainnya unik dan kadang tidak disangka pemilik rumah. Tapi ia (Rino,red) bisa mengkreasikan ruangan, sehingga lebih nyaman,” kata Anto, pegawai Dinas PU Kota Payakumbuh yang tengah menghitung lanjutan interior rumahnya.

Lain lagi penilaian Zal Ahmadi. Manager operasional F1Aina, usaha berbagai varian jagung manis itu membuktikan, kalau lima kedai dan outlet-outlet  F1 Aina yang dikerjakan Rino memuaskan dan sangat menarik perhatian.

“Ia bisa mencari bagaimana  bentuk yang paling tepat dengan kondisi ruangan, dana dan lokasi yang ada. Inilah yang menyebabkan, kami mempercayakan interior ruangan kami kepada Roni,” aku Zal Ahmadi.

Rino sendiri tidak ingin puas dengan capaiannya. Ia bermimpi suatu saat punya rumah toko yang akan dijadikan sebagai kantor pemasaran dan pajangan produk-produk yang dibuatnya pada lahan yang kini dikontrak di dekat rumahnya Sungai Beringin.

Diantara hasil karya yang dihasilkan Rino adalah, kitchen seet dengan tawaran harga Rp.2 juta/meter, lemari pajang Rp.1.5 juta. Selain itu, pratisi dengan harga Rp.800 ribu/meter, lantai dengan bahan parkit Rp.350 ribu/meter.

“Kita juga punya kamar seet minimalis dengan tawaran harga Rp.12 juta. Pokoknya sesuai dengan keinginan dan kemampuan yang memesan,”kata Rino.

Diantara produk yang sudah dikerjakan Rino, lemari, konsen, kitchen set, partisi, kamar set, room TV, mini bar, rak sepatu dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Bagi pembaca yang ingin menghubunginya bisa kontak nomor Rino; 081268642347.(mnc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*