Kondisi Hutan Di Lintau Memprihatinkan, Pembalakan Liar Makin Marak

Fhoto : Salah satu usaha Lumberssering milik pelaku di hutan lindung wilayah Kabupaten Tanah Datar yang dibakar warga Mawar Kecamatan Lintau Buo Utara, beberapa waktu lalu.(ddy)

Advertisements

Tanah Datar, www.padang-today.com,- Kondisi hutan disepanjang perbatasan Kabupaten Tanah Datar yakni daerah Lintau dengan dua kabupaten tetangga Sijunjung dan 50 Kota makin memprihatinkan, disinyalir dugaan pembalakan liar makin marak tanpa adanya pengawasan dari pihak terkait.

Mirisnya, pelaku pembalakan liar tersebut seolah olah tidak takut akan kegiatannya dan terang terangan mendirikan showmill (tempat mengolah kayu) yang diduga berasal dari kayu kawasan hutan lindung.

Tingkat kerusakan hutan disepanjang perbatasan Kabupaten Sijunjung, diperkirakan telah masuk ke wilayah Kabupaten Tanah Datar, ini dibuktikan dengan ditemuinya beberapa tempat pengolahan kayu di Kecamatan Lintau Buo dan Kecamatan Lintau Buo Utara.

Informasi yang diperoleh www.padang-today.com, Sabtu (27/01/18) dari salah seorang warga di Koto Panjang Kecamatan Lintau Buo Utara, jika usaha lumberserring dikawasan hutan lindung adalah ilegal namun pemiliknya terang terangan berani membuat laporan ke polisi.

“Ini harus dijadikan evaluasi bagi pihak keamanan, jangan menjadikan warga sebagai kambing hitam namun juga harus dilihat pelanggaran yang dilakukan oleh pemiliknya,” ucap salah seorang warga yang engan disebutkan namanya.

Fhoto : Salah satu aktifitas pembalakan liar yang didapat www.padang-today.com dari warga beberapa waktu lalu di kawasan hutan Kecamatan Lintau Buo Utara. (ddy)

Lain lagi yang terjadi beberapa waktu lalu di Gunuang Gadang Cubadak Pantai di Jorong Tanjung Madang Kecamatan Lintau Buo Utara, jika aktifitas pembalakan yang dilakukan oleh sekelompok warga sudah semakin parah. Malah sudah berada di hutan kawasan konservasi.

Iwan (35) salah seorang masyarakat di sekitar mengatakan jika hal ini sudah kita laporkan ke pihak hukum, namun tidak pernah diubris dengan alasan yang tidak jelas.

“Ratusan Kepala Keluarga di sekitar kaki gunung sago terancam dihindoh longsor jika hal ini masih dibiarkan, kami dengan beberapa warga sudah pernah mendatangi poksek setempat untuk melaporkan, tapi hingga saat ini masih dibiarkan, bahkan ketika kami berikan laporan ke pihak kehutanan, mereka berjanji akan turun. Tapi entah kapan tidak tahu pak,” ucap Iwan yang kesal aktifitas pembalakan itu ditungangi oleh kepentingan kelompok.

Dia mengatakan, jika terjadi bencana banjir dan tanah longsor pada sejumlah daerah di Lintau ini siapa yang harus bertanggung jawab? Apa perlu harus warga yang akan berbuat rusuh? Pungkas Iwan.

“Hutan di sekitar jalan rantai, Cubadak Pantai kita ketahui adalah hutan konservasi dan hutan lindung, Nagari terang terangan membuatkan alas hak. Kegiatan ini sudah kritis pak, kini semakin meluas dengan terus terjadi tindak penebangan liar dan lemahnya pengawasan dari instansi terkait dan aparat keamanan,” katanya.

Kepala Resort Hutan Tanah Datar UPTD KPHL Bukit Barisan Nofiarman kepada www.padang-today.com membenarkan jika kegiatan pembalakan di lokasi Lintau Buo termasuk dalam hutan lindung Tanah Datar, dan diperkirakan kegiatan di Lintau Buo Utara juga terjadi di hutan lindung.

“Kita belum mendata luas kerusakan yang berada di hutan lindung wilayah Kabupaten Tanah Datar,” ucap Nofiarman.

Katanya, informasi yang diperoleh pihaknya laporan yang masuk ke pihak kepolisian adalah masalah penjarahan dari pemilik usaha lumberserring, dan kata pihak kepolisian ada pidananya.

“Masalah pidana umum bukan ranah kita, tapi kita sudah sarankan jika ilegal loging nya juga diproses. Karena usaha tersebut sudah melanggar aturan,” ucapnya.

Salah seorang tokoh ninik mamak Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Nurman (78) meminta pihak terkait jeli menerima laporan dari masyarakat karena pengrusakan ekosistim hutan bukan kejahatan biasa, dan segera ditindaklanjuti.

“Pembalakan liar disepanjang kawasan hutan di Lintau ini harus di usut, termasuk pemberian upeti yang dilakukan oleh pelaku kepada oknum oknum tertentu, baik di nagari, kehutanan maupun pihak kepolisian. Warga mendapatkan informasi, dan pihak terkait harus meluruskan agar tidak terjadi fitnah di tengah masyarakat,” tutur Nurman.(ddy)

Mantan Sub.Korwil Sumbar Tim Ekspedisi Bukit Barisan, Mayor Inf Benny Rahadian Chaniago yang pernah di wawancarai awak media beberapa waktu lalu, pernah mengatakan jika penelitian di kawasan hutan di Sumatera Barat menemukan hutan lindung sudah banyak gundul akibat penebangan liar.

“Termasuk hutan di Tanah Datar, saat itu tim menemukan ada beberapa titik hutan lindung di sudah gundul akibat penebangan hutan,” kata Benny Rahadian Chaniago.

Menurut Benny Rahadian Chaniago, penebangan hutan dilakukan secara liar orang tak bertanggungjawab sangat berdampak sekali dalam kehidupan manusia.

“Jika pohon besar terus saja ditebang secara liar ketika hujan lebat mengguyur bencana tanah longsor akan mengancam, ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.(ddy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*