Kunci Utama Awetnya Proyek Sosial Adalah Transparansi

Social Concept Paper

Social Concept Paper

Advertisements

Jakarta, PADANGTODAY.COM-Proyek sosial menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Kegiatan tersebut biasanya membantu kelompok masyarakat yang kekurangan, baik dari materiil maupun non materiil.

Namun, tidak mudah membuat proyek sosial itu berkesinambungan memberi manfaat pada masyarakat yang dibantu. Ada kalanya proyek sosial berlalu begitu saja setelah sekali digelar. Hal itu sering terjadi karena faktor keuangan yang menyokong proyek sosial itu tidak cukup kuat menyangga.

“Kebanyakan social project tidak berlangsung lama, sekali digelar setelah itu tidak terdengar lagi. Masalahnya, banyak orang yang ragu untuk berdonasi pada kegiatan itu karena khawatir uang mereka sampai atau tidak,” kata mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, TB Silalahi, Jumat (5/6/2015) malam.

TB Silalahi menjadi salah satu tamu dalam acara malam donasi social project bernama Hope World Wide Indonesia (HWI) di Restoran Taste Paradise Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Jumat malam. “Transparansi menjadi penting agar terus bisa melayani masyarakat melalui program sosial. Keuangan transparan membuat donatur percaya,” ujarnya.

Bersama sejumlah tokoh pengusaha di Jakarta, ia menunjukkan dukungan pada kegiatan HWI. Terlebih, HWI berkecimpung selama 21 tahun dalam kegiatan sosial nirlaba.

HWI hadir di Jakarta sejak tahun 1994 dengan misi mencintai dan memberi harapan pada orang miskin, khususnya orang yang tidak mampu dan menderita sejumlah penyakit dalam hidupnya. Selama 21 tahun, HWI berkembang dan kini telah menyebarluas ke 17 provinsi di Nusantara. Di masing-masing lokasi sebarannya, HWI memberikan pelayanan di bidang pendidikan formal maupun pendidikan karakter, kesehatan, hingga pembangunan masyarakat.

“Kita semuanya volunteer di HWI, bekerja di sini karena memang ingin bermanfaat untuk orang lain. Volunteer itu seperti bola salju, bila menggelindingnya benar, maka akan terus semakin besar. Pasti akan ada perubahannya, terasa berkesinambungan untuk orang sekitar,” kata Country Sirector HWI Lily HAM saat ditemui di sela-sela acara.

Di Jakarta, HWI telah berhasil merealisasikan program pengembangan komunitas di beberapa daerah kumuh. Cilincing, Tanah Merah, Pedongkelan, Mangga Dua, Tanjung Duren, serta Karang Anyar di kawasan Tangerang menjadi tempat kegiatan mereka. Setiap pekan, HWI mengadakan proses belajar mengajar untuk anak-anak lokal di sana.

“Di sana kita tumbuhkan karakter mereka, ajarkan mereka menjadi pribadi mandiri dan positif. Banyak fenomena, ‘Karena saya miskin saya berhak meminta, karena saya miskin berhak dikasihani.’ Harusnya kan tidak begitu. Kita kikis itu selama bertahun-tahun ini di sana,” kata Juningsih Sugiono, salah satu sukarelawan HWI.

Berkat konsistensi yang dipegang HWI, sejumlah anak yang dulunya menjadi korban ekonomi keluarga berangsur berubah dan mengaplikasikan apa yang didapat dari HWI ke orang-orang di sekitar mereka.

“Dulu anak yang malas berbaur malah sekarang setelah bertahun-tahun di HWI jadi berubah drastis, aktif, dan positif. Malah ikut membantu program-program HWI yang lain,” ujar Juningsih.
(af/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*