Lahan Tidur di Kota Pariaman

Kepala Dinas Pertanian Kota Pariaman Ir Agusriatman Tinjau Lokasi

Kepala Dinas Pertanian Kota Pariaman Ir Agusriatman Tinjau Lokasi

Advertisements

 

Pariaman,PADANG-TODAY.COM– — Masih banyak lahan tidur di Kota Pariaman tidak difungsikan, salah satu penyebabnya adalah pengairan yang kurang maksimal. Pengairan adalah salah satu penunjang untuk persawahan. Aliran irigasi dan drainase yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal dan mengaktifkan kembali lahan tidur yang selama ini tidak dapat menghasilkan apapun.

“Masalah Pengairan, di Kota Pariaman Banyak Lahan Tidur, banyaknya lahan persawahan tidur (terlantar) berdampak pada pola pertanian di Kota Pariaman. Penyebabnya antara lain masalah pengairan seperti saluran irigasi yang belum ada atau rusaknya saluran yang telah ada,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kota Pariaman Ir Agusriatman MSi yang direlis Humas Setdako, Kamis 14/04/2016).

Menurutnya, dengan tidak berfungsinya secara efektif  lahan persawahan tersebut membawa dampak negatif  terhadap perekonomian masyarakat. Padahal, sebagian besar warga kota masih menggantungkan hidup dari hasil pertanian terutama di wilayah Kecamatan Pariaman Utara, Timur dan Selatan.

“Lebih parah lagi, lahan tidur ini menjadi sarang tempat berkembangbiaknya hama tanaman seperti tikus sawah, yang sewaktu-waktu dapat merusak tanaman padi produktif di sekitarnya,” jelasnya.

Sebagai langkah untuk mengatasinya, Agusriatman membawa stakeholder terkait meninjau kondisi prasarana pengairan. Antara lain dari Dinas Pekerjaan Umum, Bappeda, BPM-Des dan beberapa perwakilan dari Kelompok Tani,

“Saya berharap, dengan menuju ke lokasi-lokasi yang sangat membutuhkan infrastruktur pengairan, mereka akan memberikan dukungan. Selain itu, yang terpenting, tidak terjadi over lapping penganggaran pada masing-masing SKPD (satuan kerja perangkat daerah – red) ataupun dana desa terkait masalah pengairan pertanian,” tegasnya.

Setelah melakukan peninjauan, lanjut dia, ada beberapa lokasi yang dalam waktu cepat membutuhkan perbaikan drainase, seperti di Desa Naras Hilir – Naras I – Cubadak Air Utara, perlu dibangunnya saluran drainase/saluran sekunder sepanjang ± 1.400 m.

Di lokasi ini terdapat ± 60 hektar lahan tidur, padahal dulunya  merupakan lahan produktif dengan sumber pengairan yang berhulu dari saluran Ulu Sikijang.

“Jika curah hujan tinggi, areal persawahan di Desa Nareh I akan dilanda banjir dan akan menghancurkan tanaman padi,” ujarnya.

Ia menambahkan, ada lagi saluran irigasi yang roboh akibat banjir 22 Maret 2016  lalu, yakni di Desa Kampung Gadang yang mengairi persawahan sampai ke Desa Toboh Palabah. Saluran irigasi ini memerlukan perbaikan atau pemeliharaan secepatnya,” papar Agusriatman.

Melihat banyaknya masalah pengairan pertanian ini, Agusriatman menyatakan segera menindaklanjuti. Di antaranya dengan memaksimalkan pemanfaatan anggaran, baik dari APBD maupun DAK, bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum.

“Dengan demikian, semua aliran irigasi dan drainase yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal dan mengaktifkan kembali lahan tidur yang selama ini tidak dapat menghasilkan apapun,” katanya mengakhiri(rel/sgr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*