Limapuluh Kota Gempar, Pelajar SD Pukul Teman Sekelasnya, Akhirnya Tewas

Pemukulan Anak Sekolah-ilustrasi

Pemukulan Anak Sekolah-ilustrasi

Advertisements

Limapuluh Kota, PADANG-TODAY.com-Dunia pendidikan gempar. Seorang pelajar kelas V Sekolah Dasar (SD) Negeri 07 Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota bernama Rivo Nofitra Ariska (12) warga Jorong Padang Jariang, merengang nyawa di RSUD dr. Adnan WD Payakumbuh, akibat dipukul oleh seorang teman sekelasnya berinisial “Asd” (14).

Menurut informasi, kasus pemukulan yang menyebabkan hilangnya nyawa korban, terjadi Senin (12/1) sekitar pukul 10.00 Wib, ketika korban sedang mengikuti pendidikan di sekolahnya. Peristiwa itu terjadi ketika guru pergi keluar lokal dengan maksud hendak mengisi tinta spidolnya yang akan dipergunakanuntuk kegiatan mengajar.

Namun, ketika guru kelas tersebut pergi meninggalkan anak didiknya di ruangan kelas sekiara 5 menit, ketika ia masuk keruangan lokal ia dapati korban tengah menangis. Ketika ditanya sang guru, korban mengaku dipukul oleh seorang temannya berinisal A.

Karena kondisi korban lemah, maka guru kelas tersebut membawa korban ke ruangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Namun ketika korban berada di ruangan UKS, anak bungsu dari tiga bersaudara yang telah lama ditinggal sang ayah, akibat kasus perceraian dengan ibunya itu sempat muntah dan kejang-kejang. Karena kondisi korban semakin parah, kemudian korban dilarikan pihak sekolah ke rumah sakit dr. Adnaan WD Payakumbuh.

”Menurut informasi yang diperoleh dari guru-guru di sekolah tersebut menyatakan bahwa, usai jam istirahat korban dan murid-murid lainnya kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran. Namun, ketika guru kelasnya pergi meninggalkan murid-muridnya untuk mengisi tinta spidol dan ketika ia kembali kedalam kelas didapati korban menangis. Kepada gurunya korban mengaku dipukul teman “Asd”, ungkap Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Ofti Darwan,  di RSUD dr. Adnaan WD Payakumbuh Senin (12/10) sore.

Korban Rivo masuk ke rumah sakit dr. Adnaan WD Payakumbuh sekitar pukul 11.19 Wib, setelah menjalani perawatan sekitar dua jam, korban akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Sejumlah rekan korban, pihak keluarga, guru dan dari Dinas Pendidikan terlihat ikut hadir di rumah sakit.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota, Radimas, yang dihubungi wartawan dari Balai Wartawan Luak Limopuluah mengaku prihatin ikut belasungkawa atas peristiwa kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut. Ia juga membenarkan terjadinya kasus pemukulan yang mengakibatkan hilangnya nyawa korban.

Sementara itu Kapolres Payakumbuh, AKBP. Yuliani SH ketika dihubungi membenarkan adanya peristiwa pemukulan yang dilalukan seorang pelajar sekolah dasar yang mengakibatkan meninggalnya korban.

”Saat ini kita (pihak kepolisian) masih menyelidiki penyebab pasti kematian korban,” sebut Kapolres singkat. Ia pun sudah mendapat laporan dari Kapolsek Situjuah. Laporan Peristiwa Awal pun sudah dikirimkan ke Mapolda Sumbar.

DPRD Prihatin

Sementara itu, Ketua DPRD Limapuluh Kota, Syafaruddin Dt Bandaro Rajo, ketika diminta komentarnya terkait adanya aksi kekerasan terhadap pelajar Sekolah Dasar yang dilakukan teman sekelasnya mengaku terkejut dan sekaligus prihatin atas peristiwa tersebut.

“ Saya tidak menyangka kasus kekerasan itu dilakukan seorang pelajar SD dan terjadi di ruangan sekolah ketika aktifitas belajar mengajar sedang berlangsung, sebut Syafaruddin Dt Bandaro Rajo saat dihubungi via handphonenya.

Sebagai Ketua DPRD, ulas Syafaruddin Dt Bandaro Rajo, dia mengaku prihatin dan sekaligus ikut berlangsungkawa atas peristiwa tersebut. Namun demikian, ia menyangka kasus itu terjadi akibat lemahnya pengawas dari pihak sekolah.

”Kita minta, pihak sekolah atau guru-guru jangan lengah dalam mengakukan pengawasan kepada murid-muridnya, “pinta Syafaruddin Dt Bandaro Rajo.

Sementara itu Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Limapuluh Kota yang juga Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Limapuluh Kota, Desembri, SH, MA, mengaku terkejut  adanya peristiwa pemukulan yang dilakukan seorang pelajar SD yang mengakibatkan tewasnya teman sekelasnya atas peristiwa itu.

”Secara hukum pelaku masih disebut anak-anak. Artinya, mereka belum dianggap cakap dan mampu untuk mehami secara hukum. Namun, demikian, bisa jadi, peristiwa ini terjadi akibat pengaruh tindak kekerasan yang sering mereka baca atau lihat pada siaran televisi yang bertema pembunuhan, sehingga merangsang emosi anak untuk marah dan secara pelan-pelan meracuni mental  anak-anak kita,” sebut Desemberi yang akrap disapa Buya itu.

Menurut dia, sejuah ini kita tidak bisa menghentikan peredaran buku-buku bacaan atau penayangan film bertema pembunuhan. Tetapi kita bisa mencegah anak-anak kita untuk bisa membaca, melihat siaran apa yang layak di lihat dan dibaca.

“Untuk itu, kita harap pihak sekolah harus terus menerus memberikan pembelajaran kepada murid-muridnya, bahwa melakukan tindak kekerasan kepada temanteman sekolahnya adalah tidak baik dan berisiko hukum,” ucap Desemberi sekaligus prihatin atas terjadi kasus kekerasan yang terjadi dilingkungan sekolah itu.(dod)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*