Masjid Asasi Sigando Padang Panjang, Masjid Tertua dengan Desain Unik dan Sederhana

Padangpanjang, Padang-today – Membicarakan Padang Panjang sebagai Kota Serambi Mekah, tidak lengkap rasanya jika tidak mengupas tentang Masjid Asasi Sigando, masjid paling tua di daerah itu yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun.

Advertisements

Kumandang Adzan Zhuhur menggema dari pengeras suara masjid, beberapa jemaah mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah menuju masjid untuk menunaikan ibadah Sholat Zhuhur. Ya, masjid Asasi Gunung masih difungsikan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat Kelurahan Sigando ataupun Nagari Gunung.

Masjid yang berdiri di antara permukiman penduduk dan pada ketinggian 575 meter di atas permukaan laut. Terdapat beberapa versi mengenai asal mula berdirinya masjid. Dua diantaranya adalah seorang peneliti Belanda yang mendapatkan referensi bahwa masjid didirikan pada tahun 1685 dan Surat Pernyataan Pembentukan Baitulmal Masjid Asasi Nagari Gunung yang mengatakan bahwa pada tahun 1775 berdiri masjid di atas Surau Gadang.

Terlepas dari beberapa sejarah mengenai pendirian masjid tersebut, dari beberapa sejarah telah menegaskan Masjid Asasi Nagari Gunung merupakan masjid tertua di Padang Panjang dan telah masuk dalam benda yang dilindungi Balai Konservasi Peninggalan Purbakala.

Menurut sejarahnya, masjid yang semula Surau Gadang memiliki bentuk yang sederhana. Bertonggak kayu, dinding dan lantai terbuat dari papan, dan atap terbuat dari ijuk (anau). Masjid berdiri di atas tanah wakaf Imam Baso dan Khatib Kayo Almarhum Suku Koto.

Peresmian bangunan itu, dilakukan oleh Tuangku Nan IV Jurai dalam sidang Kerapatan Nagari Penghulu Nan IV dan Penghulu Nan IV di balairungsari Balai Tajungkang di tanah Datuk Kupiah Sangit Almarhum. Tuangku Nan IV yang tergabung dalam Jurai Sigando, Jurai Ganting, Jurai Lusiang, dan Jurai Ekor Lubuk pada tahun 1795 melakukan usaha penggantian bahan bangunan.

Usaha tersebut dilakukan bersama dengan anak nagari mencari kayu untuk tonggak macu, tonggak pendukung, dan bahan lainnya yang diperlukan di Gunung Merapi. Selain itu, hasil penjualan panen dari sawah wakaf juga dibelikan kayu dan ijuk.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah kayu dan bagian atap masjid telah dimakan usia, proses pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1800 berupa penggantian tonggak kayu, dinding dan lantai dari papan, dan gonjong satu di tengah-tengah.

Sedangkan atap masjid masih menggunakan ijuk. Pengerjaan bagian atap masjid dipimpin oleh Engku Panjang dari Pandai Sikek dan pengerjaan kayu oleh Gaik Palimo dari Sariak Sungai Puar. Masyarakat setempat juga melakukan pemugaran berupa penggantian atap ijuk dengan seng, tiang kayu yang lapuk menjadi tembok dan dinding bagian dalam ditambah lapisan papan baru.

Dinding ruang utama terbuat dari kayu papan berukir khas tradisional Minangkabau di bagian luar, sedangkan di bagian dalam ditambahah lapisan papan polos baru. Lantai masjid juga terbuat dari papan kayu. Di dalam ruang utama berdiri delapan buah tiang kayu dan sebuah tonggak macu.

Sebelumnya tonggak macu juga terbuat dari kayu. Akan tetapi, karena keropos diganti dengan beton dari bagian bawah yang berbentuk persegi hingga plafon yang berbentuk segi delapan dan bulat. Jendela kaca berdaun dua masing-masing berjumlah empat buah berada di dinding utara dan selatan ruang utama. Jendela serupa juga dapat ditemui di sisi utara dan selatan mihrab. Atap mihrab berbentuk gonjong dan di dalamnya terdapat mimbar yang terbuat dari kayu papan.

Serambi masjid berada di sebelah timur berupa ruangan tertutup tanpa jendela. Ruangan serambi ini disekat dari ruang utama, memiliki pintu di sebelah barat ruang utama, dan difungsikan sebagai ruangan pengurus masjid. Kemudian, di bagian depan masjid sebelah utara terdapat bangunan panggung seperti tempat penyimpanan padi yang digunakan untuk tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa.

Bangunan tersebut terbuat dari kayu, dinding berupa papan berukir, dan atap terbuat dari seng dengan bentuk gonjong empat. Pintu masuknya berada di sebelah timur. Bangunan terakhir yang terpisah dari bangunan induk dan berada di sebelah selatan dari depan masjid adalah tempat wudhu.

Tempat wudhu berada diluar pagar, di bawah bangunan rumah garin masjid. sumber air berasal dari mata air yang ada di sekitar masjid. Pintu masuknya berada di sebelah barat dengan melalui tangga menurun.

Meski telah mengalami beberapa kali pemugaran, baik oleh kelompok adat maupun oleh masyarakat setempat. Tetapi, hingga saat masjid Azazi masih digunakan sebagai tempat ibadah dan sejumlah kegiatan keagamaan lainnya di Kelurahan Sigando.

Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Sigando khususnya dan Nagari Gunung pada umumnya, telah banyak dilakukan pemugaran, termasuk pemugaran gerbang masjid yang dilakukan pada tahun 2009 silam.

Fungsi masjid ini masih tetap sama sewaktu pertama kali didirikan. Tetapi, dengan telah banyaknya masjid di Nagari Gunung, sehingga masjid ini tidak menjadi masjid yang utama sebagai tempat melaksanakan ibadah, terutama pada bulan Ramadan ini

Meskipun lebih banyak dijadikan sebagai tempat wisata dan hanya dikhususkan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan tertentu saja. Masyarakat setempat masih memanfaatkan masjid sebagai tempat musyawarah dan melaksanakan kegiatan seperti MTQ antar nagari yang di Padang Panjang, Batipauh dan X Koto.

Masjid ini masih sebagai tempat ibadah dan tempat bermusyawaran bagi ninik mamak di Nagari Gunung. Karena, masjid di Minangkabau memiliki fungsi ganda. Selain tempat belajar mengaji dan tempat pengajian bagi orang tua, juga sebagai tempat bermusyawarah dan mendidik anak-anak remaja ilmu beladiri. (Rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*